Connect with us
Dibaca: 2.165

Politik

Istiqomah Puasa Daud dan Tahajud, La Nyalla Siap Penuhi Janji “Potong Leher”

La Nyalla Mattalitti - Foto: Tribunnews

SWARARAKYAT.COM – La Nyalla terlahir dengan nama lengkap La Nyalla Mahmud Mattalitti di Jakarta, 10 Mei 1959. Kakeknya, Haji Mattalitti adalah saudagar Bugis-Makassar yang cukup terkenal di Surabaya.

Sementara ayahnya Mahmud Mattalitti S.H adalah seorang dosen Fakultas Hukum Universitas Airlangga (Unair) yang pernah menjabat sebagai Pembantu Dekan Fakultas Hukum Unair.

Biarpun berasal dari keluarga berada, La Nyalla tidak pernah menggunakan nama besar dan kekayaan keluarganya dalam hidupnya.

Baca Juga:   PPP Muktamar Jakarta Resmikan Dukungan ke Prabowo-Sandi di Kertanegara

Sejak kecil La Nyalla terkenal bengal. Saat kecil, La Nyalla hobi berkelahi. Bahkan ia pernah membawa sangkur untuk berkelahi.

Kenakalan La Nyalla ini membuat orangtuanya jadi langganan dipanggil guru BP di sekolah.

Tidak tahan dengan kebadungan La Nyalla, orangtuanya pun memasukkan La Nyalla ke dalam pondok pesantren di Bekasi.

Beranjak dewasa, La Nyalla memilih nyantri di komplek makam Makam Sunan Giri Gresik. Dia tak punya pekerjaan tetap disana.

Baca Juga:   Isu Prabowo Rayakan Natal Bersama Keluarga Besar Hoax, Ini Buktinya!

La Nyalla pernah menjadi sopir angkot Wonokromo- Jembatan Marah dan sopir minibus L300 Surabaya-Malang.

Sampai menikah pun nasibnya tidak berubah. Di kompleks makam wali ini, dia menghimpun banyak preman diajak mendekatkan diri kepadaNya.

Hasilnya dia memiliki ratusan pengikut yang setia sampai kini. La Nyalla ternyata punya kemampuan pengobatan alternatif alias paranormal.

Keahlian ini diasah sejak di ponpes di Bekasi. Pasiennya mulai orang pinggiran sampai dosen. Namun karena emoh dicap dukun, Nyalla tidak praktik lagi.

”Kalau Anda melihat saya seperti sekarang, itu karena tekad saya bulat. Kerja sungguh-sungguh,” kata pengusaha konstruksi ini.

Dia mengatakan titik awal sebagai pengusaha adalah kisah nekadnya membuat pameran kreativitas anak muda tahun 1989.

Baca Juga:   Setelah Indonesia Barokah, Muncul Tabloid Pembawa Pesan Milik Caleg PDIP

Pameran yang disokong PT Masipon itu bangkrut Rp 180 juta gara-gara tidak ada peserta.

Prev1 of 3

Kontributor Wilayah Pantura

More in Politik

error: Dilarang copy paste tanpa izin!