Connect with us
Dibaca: 278

Politik

Jokowi: Saya Terlahir dengan Nama Mulyono

Jokowi di acara launching buku "Jokowi Menuju Cahaya" - Foto: iNews

SWARARAKYAT.COM – Presiden Joko Widodo yang dulunya lahir dengan nama Mulyono. Ada misteri di balik pergantian nama tersebut.

Cerita itu dikisahkan dalam buku ‘Jokowi Menuju Cahaya’ karya Alberthiene Endah yang diluncurkan pada Kamis (13/12/2018) kemarin. Jokowi hadir dalam peluncuran buku tersebut.

“Saya terlahir dengan nama Mulyono. Tapi, nama itu tak terlalu lama saya miliki karena orang tua saya segera mencarikan nama baru ketika saya berulang kali sakit,” kata Jokowi dalam buku tersebut.

Sesuai kepercayaan masyarakat Jawa, nama Mulyono diganti menjadi Joko Widodo. Setelah ganti nama, Joko Widodo tidak lagi sakit-sakitan.

Baca Juga:   Adian Napitupulu Geram Hingga Tunjuk Muka Gamal Albinsaid, Ini Pemicunya

“Maka, nama Mulyono kemudian diganti dengan Joko Widodo. Boleh tidak percaya, saya kemudian tumbuh sehat. Itu misteri,” sambung capres nomor urut 01 itu.

Jokowi lahir di Rumah Sakit Brayat Minulyo. Di kamar termurah, begitu kata Jokowi di buku tersebut. Ada pula cerita tentang masa kecil Jokowi yang miskin.

“Kemiskinan mendidik saya dengan baik. Kemiskinan yang pekat. Namun, dari lingkungan serba kekurangan itulah saya mempelajari sesuatu yang luar biasa dari orang-orang terpinggirkan. Sikap tegar yang mengagumkan, nrimo, ikhlas, sekaligus penuh syukur, sambil terus berjuang karena hidup terus berjalan,” ungkap Jokowi.

Baca Juga:   Prabowo Deklarasi Sebagai Presiden Terpilih, Jokowi Kirim Utusan Temui Prabowo

Jokowi menceritakan masa kecilnya di rumah bilik di pinggir kali, tepatnya di daerah Srambatan di pinggiran Solo. Dia kemudian berpindah-pindah karena diusir pemilik rumah.

Tapi, ada satu kesamaan dari rumah kontrakan Jokowi dan keluarga yaitu selalu di pinggir kali. Bagi Jokowi, hal itu cukup memberi kelegaan baginya.

Baca Juga:   Timses Jokowi-Ma'ruf Akui Ada Kader Parpol Koalisi Membelot Dukung Prabowo

“Saya belum mengerti saat itu bahwa rumah di bantaran adalah cerminan kehidupan yang sangat susah. Wajah kemiskinan. Yang saya pikirkan hanyalah suara air sungai itu sangat menghibur. Bunyi riaknya menyejukkan perasaan. Ya, saya tak merasa miskin sama sekali,” paparnya. (Ren/detik)

Kontributor Wilayah Pantura

More in Politik

error: Dilarang copy paste tanpa izin!