Connect with us
Dibaca: 515

Opini

Ketika “Para Penjahat” Gagal Menyakiti Prabowo

(Mitos dan Rumor Seputar Prabowo)

Prabowo Subianto dalam acara deklarasi alumni perguruan tinggi se-Indonesia di Padepokan Pencak Silat, TMII, Jakarta. Ist

Oleh: Hersubeno Arief

SWARARAKYAT.COM – Situs berita online kompas.com edisi Jumat (7/3/2019) memuat berita menarik. “Prabowo Marahi Panitia Pidato Kebangsaan di Kampus UKRI.” Berita ini langung viral. Link beritanya menyebar dengan cepat di medsos.

Ketika di-googling berita itu juga ditayangkan di jaringan media-media milik Kelompok Kompas Gramedia (KKG). Semua jaringan tribunnews.com yang tersebar di seluruh Indonesia menayangkannya. Situs web ekonomi dan keuangan kontan.co.id bahkan juga memuatnya dengan judul yang sama.

Baca Juga:   DUKUNG TNI 'GANYANG' PKI

Baca Juga:   Ucapan Prabowo Soal Kedubes Australia Disimpulkan Keliru, Sejumlah Media Meralat Berita

Di bawah berita tersebut ada disclaimer: Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Prabowo Marahi Panitia Pidato Kebangsaan di Kampus UKRI.”

Artinya berita ini bersumber sama, kompas.com!

Benarkah faktanya seperti itu?

Prabowo marah-marah hanya karena masalah sepele. Nama adiknya tak dicantumkan dalam teks sambutannya?

Baca Juga:   Musuh Pancasila Bukan Kerumunan Jutaan Umat Itu, Tapi...

Tak lama berselang kompas.com membuat semacam ralat. Judul dan isi berita diganti. “Dengan Nada Bercanda Prabowo Sentil Panitia Pidato Kebangsaan di Kampus UKRI.”

Prabowo memang tidak marah. Dia bahkan banyak bercanda. Meledek sana-sini. Hadirin dibuat tertawa terbahak-bahak hampir sepanjang pidatonya berdurasi 90 menit.

Baca Juga:   BENDERA TAUHID DIBAKAR, BUKTI KEDANGKALAN PEMAHAMAN DAN KEBENCIAN TERHADAP SIMBOL AGAMA ISLAM

Prabowo Subianto pemarah itu mitos yang sudah sejak lama dibangun untuk mendiskreditkannya. Dia digambarkan sebagai orang yang secara emosional tidak stabil. Tidak layak menjadi pemimpin. Apalagi Presiden!

Dengan menggunakan media mainstream, para lawan politik dan kelompok-kelompok yang tidak menyukainya mendeskreditkannya. Mereka mendesakkan persepsi itu kedalam memori kolektif publik. Prabowo adalah monster. Figur pemarah yang menakutkan!

Baca Juga:   Dukung Prabowo-Sandi, Frans Mohede Dibully Artis Gak Laku

Patut dipertanyakan bahwa tidak ada unsur kesengajaan sampai berita itu tayang. Bagi seorang wartawan, akurasi atau kesesuaian antara fakta dan data sangat penting. Bahkan sudah menjadi doktrin utama, sebuah “ayat suci” yang tak boleh dilanggar. A-C-C-U-R-A-C-Y!

Membedakan orang marah dan bercanda merupakan hal yang sangat elementer. Menulis ejaan nama seseorang saja, harus tepat! tidak boleh salah. Apalagi menggambarkan ekspresi emosi seseorang. Wartawan semacam ini tidak layak bekerja untuk media sebesar Kompas.com.

Baca Juga:   Soal Pengalihan Saham Freeport, Mac Moran Lebih Jenius

Tunggu dulu! Bisa jadi bukan wartawannya yang salah. Dia sudah melaporkan dengan benar. Namun sang editor di kantor redaksi yang memelintirnya. Sikap ini bisa muncul karena prasangka, atau pilihan politik.

Dimanapun level kesalahannya, sulit untuk memperbaiki kerusakan yang sudah terjadi. Selain kompas.com, media-media jaringan milik KKG tidak mengubah artikel tersebut. Beritanya masih dengan mudah ditemukan. Tinggal googling “ Prabowo Marah” artikelnya langsung bermunculan.

Baca Juga:   Konpers Yusril Ihza Mahendra: HTI Tidak Memiliki Bendera Resmi yang Terdaftar di Kemenkumham dan Bendera yang Dibakar Itu Bendera Tauhid

Di luar tukang marah, mitos dan rumor seputar Prabowo Subianto adalah soal ibadah dan ke-Islamannya. Isu ini sudah sejak lama dihembuskan, apalagi setelah Prabowo didukung sebagai capres oleh Ijtima Ulama.

Buzzer pendukung Jokowi ramai-ramai membuat tagar #Prabowojumatandimana. Di group medsos juga ada yang mengusulkan agar setiap hari Jumat ada yang menguntit kegiatan Prabowo. Harus diintai, dia salat Jumat atau tidak.

Baca Juga:   Ultah Prabowo Pilih Rayakan dengan Donasi Untuk Sulteng

Gerakan tagar #Prabowojumatandimana ini targetnya untuk mendeskreditkan Prabowo. Rumor Bahwa Prabowo tidak pernah salat, termasuk salat Jumat harus terus dihembus-hembuskan. Bersamaaan dengan itu foto-foto video Jokowi menjadi imam salat disebar secara massif di medsos. Targetnya membuat pemilih muslim ragu memilih Prabowo Subianto.

Para tokoh, termasuk yang non muslim memberi testimoni betapa rajinnya Jokowi beribadah. Surya Paloh, Luhut Panjaitan sampai politisi PDIP Eva Sundari sangat membanggakan ke-Islaman Jokowi.

Baca Juga:   Prabowo Curiga, Pembakaran Bendera Tauhid Untuk Adu Domba

Di sebuah media malah diberitakan Luhut mengatakan Jokowi kalau salat Jumat sampai empat rakaat. Sementara Eva Sundari mengatakan Jokowi setiap malam tarawih dan tadarus. Benarkah? Belum ada konfirmasi pernyataan konyol itu benar dikemukakan oleh mereka.

Gerakan mendiskreditkan Prabowo tidak pernah salat Jumat berhenti bersamaan insiden pelarangan salat Jumat di masjid Kauman, Semarang (14/2/2019).

Baca Juga:   Siapakah Ulama dan Bekerja Untuk Siapa?

Sebelumnya Ustadz Sambo guru ngaji Prabowo Subianto sempat memposting video candid. Secara sembunyi-sembunyi Sambo mengambil gambar Prabowo ketika sedang khusuk mendengarkan khatib berceramah.

Menurut cerita Sambo, Prabowo sangat tidak suka kegiatan ibadahnya, apalagi salat dipublikasikan ke media. Baginya hal itu masalah pribadi. Hubungan antara dia dengan Tuhan.

Baca Juga:   Skenario Busuk Dibalik Isu 7 Kontainer Kertas Suara Tercoblos

Anehnya bersamaan dengan gerakan mempertanyakan ke-Islaman Prabowo, para buzzer Jokowi juga menghembuskan isu lain. Jika menang, maka dia akan mengganti Indonesia menjadi khilafah. Prabowo didukung oleh kelompok-kelompok radikal. Mereka menyebut PKS, FPI, HTI, bahkan ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) berada di belakang Prabowo.

Isu ini secara masif diproduksi dan disebarkan melalui jalur medsos. Tergetnya untuk menakut-nakuti pemilih non muslim, dan kelompok Islam sekuler, agar jangan memilih Prabowo.

Baca Juga:   Polling Netizen Ini Kontroversi Gunakan Istilah Tukang Kayu dan Tentara Kopassus

Isu konyol itu bahkan disampaikan oleh Ketua Umum PPP Romahurmuziy. Dia membuat siaran pers bahwa tidak ada pilihan lain bagi HTI kecuali bersembunyi di belakang Prabowo. “HTI ingin mendirikan khilafah tidak mengakui Pancasila dan NKRI.”

Rommy lupa bahwa Prabowo adalah prajurit TNI. Dia disumpah untuk setia kepada Pancasila dan NKRI. Sejak muda Prabowo mempertaruhkan nyawanya di medan tempur dalam operasi-operasi militer untuk mempertahankan NKRI.

Baca Juga:   China Menggali Liang Kuburnya Dimulai Dari Indonesia

Supaya adil, coba sekali-kali dipertanyakan: Jokowi, bahkan Rommy  ada  dimana ketika Prabowo menyabung nyawa di hutan-hutan Timor-Timur dan Aceh? Kok tiba-tiba merasa lebih Pancasilais dan paling menjaga NKRI?

Prabowo juga diisukan sebagai figur ultranasionalis dan pembenci etnis Cina. Isu ini bahkan banyak ditulis di media-media asing. Bagaimana mungkin kalau membenci Cina, Prabowo mengusung Jokowi dan Ahok pada Pilkada DKI 2012. Hasyim adik Prabowo bahkan membiayai kampanye Jokowi dan Ahok.

Prev1 of 3

Kontributor

More in Opini

error: Dilarang copy paste tanpa izin!