Connect with us
Dibaca: 1.472

Opini

Rommy Effect: Rats Fleeing the Sinking Ship dan Paradoks Hasil Survei

Apakah terjadi Rommy Effect di mana para tikus bersiap melompat ke laut saat tahu hasil survei?

Rats fleeing the sinking ship. Ilustrasi

Oleh: Harun Husein

Sampai hari ini, orang masih membicarakan hasil survei litbang Harian Kompas. Menurut hemat saya, survei itu mengirimkan tiga sinyal.

Pertama, pendukung 01 yang awam dibuat senang dengan adanya angka ekstrapolasi elektabilitas. Mereka diberi analgesik dengan angka itu dengan pesan situasi aman terkendali.

Kedua, pollster lain seperti ditelanjangi dengan angka ekstrapolasi itu. Seolah Kompas ingin mengirimkan pesan kepada publik bahwa pollster lain –selain bermain di angka margin of error– juga bermain di angka ekstrapolasi untuk men-create bandwagon effect. Buktinya, bandingkan saja hasil survei pollster lain dengan angka ekstrapolasi itu. Hasilnya klop kan?

Baca Juga:   Sebut Prabowo Kalah Telak dari Jokowi, Borok Denny JA Diungkap Sejumlah Tokoh

Baca Juga:   Reuni 212, Peserta Datang dari Berbagai Penjuru

Tulisan Denny JA yang menyerang pribadi pemred Kompas (bahkan di sebagian buzzer beredar foto sang pemred berjalan bersama capres 02), ungkapan mengisi angka survei di bawah pohon dan warung kopi, serta tudingan repositioning, mewakili secara tegas betapa dongkolnya dia dan para buzzer 01.

Ketiga, publik yang cerdas, para pengambil keputusan di dunia bisnis dan politik, disuguhi angka tren hasil survei, yang mengabarkan posisi petahana dalam bahaya karena angkanya ternyata di bawah 50 persen, dan penantang yang terus melejit. Membaca angka ini, jangan heran kalau dalam satu dua hari atau satu dua pekan mendatang, akan ada yang menyeberang. Apalagi kalau tren itu berlanjut dan sebelum pencoblosan terjadi crossing, maka kita akan banyak melihat tikus geladak yang melompat ke laut karena tahu perahu berlobang dan siap tenggelam (rats fleeing the sinking ship).

Baca Juga:   Jejak Kartel Keuangan Dunia Pada New Kartel World Order

Para elite politik dan bisnis tentu paham bahwa angka ekstrapolasi itu hanya semacam gimmick. Dia hanya sebuah pengandaian yang statis yang tidak menggambarkan tren. Sebab angka ekstrapolasi itu berasal dari angka undecided voters yang dibagi secara proporsional.

Buktinya, angka ekstrapolasi Oktober 2018, 01 sudah dapat 61,7 persen, tapi survei riil Maret 2019 hanya dapat 49,2 persen, atau terjun dua digit. Sebaliknya, untuk 02, angka ekstrapolasi Oktober 2018 mencapai 38,3 persen sedangkan angka riil survei Maret 37,8 persen, atau selisihnya hanya 0,5 poin. Dari situ saja kelihatan siapa yang melejit dan nyungsep.

Baca Juga:   Djoko Edhie: Denny JA Dikontrak Rp43 Miliar Untuk Jatuhkan Prabowo-Sandi

Para elite politik dan bisnis, tentu juga paham bahwa tren survei tidak mudah berubah. Mengubah tren survei tidaklah semudah mengubah arah perahu kecil, tapi sulit seperti membelokkan kapal sebesar Titanic di laut yang tak terlalu dalam. Sialnya, tren negatif kini justru berada di kubu pejawat 01, dengan penangkapan Romahurmuziy oleh KPK, yang bisa jadi turut menyeret anggota kabinet.

“Rommy effect ini, bisa menjadi angin puting beliung yang menghancurkan.”

Sebaliknya, 02 terlihat memiliki tren positif. Selain sudah jamak di dunia survei bahwa grafik penantang selalu menanjak, mereka juga berhasil membangun kerelawanan dan militansi.

Bermunculannya spanduk rakyat, sumbangan uang receh yang dibungkus kantong plastik, serta bermunculannya orang-orang nekad yang mengacungkan dua jari di berbagai acara petahana –bahkan sambil memakai kaos petahana dan memamerkan bingkisan yang dibagi-bagikan tim pejawat– adalah sebagian contohnya.

Baca Juga:   Karena Survei Kompas, Rusak Survei Sebelanga

Di darat, publik pun bisa melihat kampanye siapa yang penuh sesak. Ketika orang-orang berdatangan dari segala arah, ke tempat kampanye kendati tanpa disewakan bus, tanpa kaos, tanpa nasi kotak, tanpa uang saku, bahkan sempat dihalang-halangi.

Perbandingan kontrasnya adalah apel 18 miliar di semarang. Ini apel sudah pake dana besar, di pusat kota, pesertanya dimobilisasi dengan bus, aparat sipil negara (ASN) dikerahkan, menghadirkan band dan komedian top, mendatangkan ulama kharismatik, tapi terlihat biasa saja. Alih-alih show of force, kegiatan itu justru memperlihatkan betapa kandang banteng ternyata bermasalah cukup serius.

Baca Juga:   Denny JA Ahli Bius Jokowi dengan Angka-Angka Survei

Di udara, situasi pun sudah berubah berbilang bulan. Media sosial seperti Twitter dan Facebook, sudah didominasi the so called ‘akal sehat’. Buzzer-buzzer pejawat yang terorganisir makin keteteran. Karena, yang bangkit melawan mereka justru kelas menengah terpelajar bahkan intelektual kelas wahid. Selain Rocky Gerung yang setiap saat mendungu-dungukan cara berpikir pendukung kekuasaan, para tokoh yang kebetulan kalem kini bahkan ikut menyerang Denny Siregar dan Abu Janda, menggoblok-goblokin dan menyuruhnya ikut Paket C.

Hari-hari ini, para buzzer itu pun seperti sudah semakin tidak berdaya untuk sekadar menaikkan tagar-nya menjadi trending topic.

Baca Juga:   Wibawa Ulama Yang Merosot

Melihat medsos yang telah diokupasi, seorang pollster sempat meledeknya sebagai fenomena echo chamber. Hanya ramai di Twitter, dan tak mencerminkan dunia nyata. Buktinya, survei masih kalah. Melihat fenomena pecahnya kampanye 02 di berbagai daerah, pollster lainnya berdalih itu tak mencerminkan silent majority. Bahkan dia menafsirkannya lebih jauh, yang hadir itulah pemilih riilnya, sedangkan yang tak hadir semua ke toko sebelah. Buktinya, lagi-lagi hasil survei.

Kini, ada survei dari lembaga kredibel yang dana untuk surveinya lebih mandiri, dan mereka menyerang metodologinya. Mencurigainya diisi di bawah pohon dan warung kopi. Gila. Sementara mereka sendiri tak pernah terbuka soal sumber dananya, dan tidak terus terang menyampaikan apakah mereka pollster murni atau merangkap sebagai konsultan dan mesin politik salah satu paslon. Melakukan survei itu mahal, apalagi tracking survei. Apa benar ada lembaga survei yang mau buang uang percuma? Bukankah pemilu dan pilkada justru musim panen raya?

Baca Juga:   Beramai-ramai Membunuh Kebenaran, Bersama-sama Hidup Dalam Aib

Amerika, Gallup Poll menolak menerima dana dari Partai Demokrat dan Republik, dalam melakukan survei politik prapemilu, untuk menjaga independensi, integritas, dan kredibilitas. Lalu dari mana dananya? Dari survei-survei nonpolitik, yang mereka cukup laris karena akurat dan terpercaya.

Mereka tidak hidup dari pilkada dan pemilu. Mereka justru berkontribusi untuk kemajuan demokrasi di negaranya, dengan menyuguhkan data-data yang akurat kepada publik.

Di Indonesia? Au ah elap… (SR/REP)

Harun Husein adalah Jurnalis Republika

Baca Juga:   Denny JA: Habib Rizieq Diperiksa Polisi Arab Karena Bendera Tauhid Didepan Rumahnya

SWARARAKYAT.COM merupakan media informasi dan pemberitaan yang independen, terbuka, dan terpercaya yang didedikasikan untuk menyampaikan fakta, data, dan kebenaran berdasarkan standar, prinsip, dan kode etik jurnalisme| Saatnya Rakyat Bersuara

More in Opini

error: Dilarang copy paste tanpa izin!