Connect with us
Dibaca: 1.581

Opini

Prabowo-Sandi Menang 62 Persen: Akhir Era Kejayaan Quick Count

Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia terpilih versi real count, bersama putranya Didiet. /Istimewa

Oleh: Zeng Wei Jian

SWARARAKYAT.COM – Pilpres 2019, Jakarta tenang. Sepi. Tidak ada preman baju kotak-kotak merusuh. Di setiap TPS hanya ada seorang polisi. Tidak ada tentara dan laskar-laskar penjaga TPS. Semuanya berjalan smooth, lancar.

Pukul 11.00, Exit Poll mulai muncul. Semuanya menangkan Prabowo-Sandi.

Siangnya, saya putuskan bergerak ke Kemang Village. “Rabu-Biru” terakhir digelar di sana. Andi dan Nur Liea ikut.

Baca Juga:   Kampanye Jokowi Dilanda Krisis

Baca Juga:   Tunggu Dulu ,“Game of Thrones” Itu Cerita Kekerasan dan Incest

Tiba-tiba, seorang taipan menelepon. Dia bilang, “Elo dikerjain. Saksi-saksi di daerah sudah diguyur. Media dikuasai. Ntar hasil Quick Count dirilis dengan angka 58:42. Paslon 01 menang.”

Saya kira dia bercanda. Pukul 03 sore, Litbang Kompas, Indobarometer, SMRC, Indikator, Charta Politika, dan Poltracking merilis Quick Count. Selisih angkanya sekitar 10%. Si Taipan benar.

Baca Juga:   Bonus Asian Games 2018 Tak Sesuai Janji, Atlet: Jangan Pencitraan

Jangan lupa, semua pabrik polling itu pernah diundang makan siang di istana. Sejak itu, mereka lebih banyak berperan sebagai opini-maker.

Hanya CSIS yang menghasilkan angka 64.5% banding 43% untuk kemenangan Paslon Prabowo Sandi.

Shock. Saya banting stir. Tidak jadi ke Kemang Village. Putar arah ke Kertanegara 4. Pas, Komandan Don Dasco tiba di lokasi.

Baca Juga:   Survei Internal TKN, Jokowi-Ma'ruf Menang di Pulau Jawa dan Seluruh Indonesia

Di dalam kediaman Pak Prabowo sudah ada begitu banyak tokoh; Amien Rais, Rahmawati Sukarnoputeri, Jenderal Purn Djoko Santoso, J Suryo Prabowo, Rizal Ramli, Priyo BS, Ahmad Muzani, Sandiaga Uno, Mpok Nur, Ustad Sambo, Said Iqbal, Erwin Aksa, Putra Jaya, Neno Warisman, Selebritis Mulan Jamila dan lain-lain.

Semuanya bahas soal Quick Count yang dirilis pabrik-pabrik polling tadi. Media sosial terpukul. Moral cyber fighter, saksi dan relawan TPS goyang. This is a psywar. Mereka ingin menciptakan kemenangan semu.

Baca Juga:   Rumah Sakit Buat Ratna Sarumpaet, Bukan ke Penjara

Stasiun televisi berulang-ulang umumkan hasil Quick Count itu. Debat digelar. Jokower euforia. Cyber troops oposisi gundah. Merunduk. Moral nyaris ambruk. Anehnya, mereka tidak bahas hasil survei CSIS.

Selisih angka 10% tidak masuk akal. Paslon 01 dinyatakan menang mutlak di Madura.

Selisih prosentase ini 2 kali lipat dari perolehan Jokowi-JK tahun 2014. Artinya Kyai Ma’ruf lebih hebat dari JK dan Sandiaga Uno yang lebih buruk dari Hatta Rajasa. Dukungan Ustad Abdul Somad, Habib Rizieq Syihab dan semua ulama tidak punya efek apa pun.

Baca Juga:   Jokowi Sebut "Politikus Genderuwo", PKB: Mungkin Salah Satunya Pak Prabowo

Sambutan luar biasa di 1.500 titik blusukan Sandiaga Uno seolah tidak pernah ada. Milenial lebih gandrung kepada Kyai Ma’ruf daripada Sandiaga Uno. What a joke.

Pak Prabowo keluar dan menyampaikan orasi pertama. BPN menunggu hasil resmi KPU, Real Count internal dan abaikan Quick Count.

Data C1 dari TPS terus dikumpulkan BPN. Masuk informasi hasil-hasil pendataan dari beberapa lembaga. Data TNI menghasilkan angka 62% kemenangan Prabowo-Sandi. Tapi data ini tidak dibuka ke publik. Karena untuk konsumsi internal. Semua orang yang berada di Kertanegara 4 sudah terima informasi ini sedari sore.

Baca Juga:   Nyinyir Prabowo Tak Bisa Jadi Imam Shalat, Ulin Yusron Kena Skak Netizen dengan Bukti Foto Ini

Tengah malamnya, data TNI beredar di grup-grup Whatsapp. Belum pernah TNI memastikan diri seperti ini.

Tim BPN melaporkan telah memiliki data C1 dari sekitar 320 ribuan TPS. Artinya sekitar 40% dari total 805 ribuan TPS. Angka kemenangan Prabowo-Sandi sekitar 62%. Matematisnya, angka kemenangan sebesar ini tidak akan berubah banyak saat data C1 dari seluruh TPS telah masuk semuanya.

Berdasarkan data ini, sekitar pukul 20.00 WIB Pak Prabowo keluar dan memberikan pernyataan kemenangan. Pecah suara isak tangis dan takbir semua relawan yang hadir.

Baca Juga:   MENJAWAB SOAL KESALAHAN MAKNA "AL-FATEKA"

But the war is over yet. TKN belum mengaku kalah. Semua relawan Pro Perubahan mesti kawal. Hindari provokasi.

Seandainya ada anasir tertentu yang tidak mau kalah, dia bisa memilih cara anarkis. Bakar 1 obyek vital negara, serbu Glodok atau jarah pertokoan.

Aksi ini trigger amuk massa. Tak terkendali. Penguasa bisa merilis Darurat Sipil. Pemilu dianulir, DPR-RI dibubarkan.

Baca Juga:   Skenario Busuk Dibalik Isu 7 Kontainer Kertas Suara Tercoblos

Tapi harganya tinggi. Belum tentu sukses. Mata internasional sedang fokus memperhatikan Indonesia. Meleset sedikit, Pangkalan Amerika di Darwin bisa bergerak. TNI bersama pilihan rakyat yang 62%, yang memilih dengan ikhlas tanpa operasi money politic dan ditakut-takuti isu khilafah.

Dengan angka margin seperti ini, sebaiknya pihak-pihak tertentu segera loncat pagar dan berdiri di barisan rakyat mayoritas itu. (SR)

Baca Juga:   Suramadu, Kerja Keras SBY Bagi Rakyat Madura

SWARARAKYAT.COM merupakan media informasi dan pemberitaan yang independen, terbuka, dan terpercaya yang didedikasikan untuk menyampaikan fakta, data, dan kebenaran berdasarkan standar, prinsip, dan kode etik jurnalisme| Saatnya Rakyat Bersuara

More in Opini

error: Dilarang copy paste tanpa izin!