Connect with us
Dibaca: 620

Nasional

Kelompok Penyusup di Hari Buruh, Anarko-Sindikalisme, Siapa Gerangan Mereka?

Gerakan internasional anarko-sindikalisme. Foto: Blogger

SWARARAKYAT.COM – Ratusan orang bentrok dengan aparat Kepolisian dalam aksi unjuk rasa memperingati Hari Buruh Sedunia di Bandung, Jawa Barat, Rabu 1 Mei 2019. Kelompok massa berkostum hitam-hitam itu, menurut polisi, ternyata bukan buruh, tetapi bergabung dalam massa buruh yang memeringati May Day.

Mulanya mereka longmarch bersama massa serikat-serikat buruh. Lalu tampak sebagian di antara mereka mencorat-coret tembok-tembok sejumlah fasilitas publik dengan cat semprot pylox. Polisi memperingatkan mereka tetapi kelompok itu mengabaikannya dan kian berulah. Terjadilah bentrokan. Polisi melepaskan sejumlah tembakan untuk membubarkan massa.

Baca Juga:   Tak Ada Masalah Terkait Nomor Urut Capres-Cawapres, TKN Yakin Jokowi Dua Periode

Baca Juga:   Kuasa Hukum Djoko Edhie Pertanyakan Legal Standing Pelapor

Belakangan media mengamati kelompok berbusana serba hitam penutup muka dan kepala itu membawa sejumlah bendera hitam dengan logo huruf “A” dalam garis lingkaran putih. Mereka juga meninggalkan tanda terang dalam coretan-coretan yang mereka torehkan di dinding-dinding properti publik, huruf A dalam garis lingkaran, disertai tulisan-tulisan slogan kaum buruh, seperti “Upah Murah”, “May Day”, “Antikapitalisme”, dan lain-lain, termasuk juga “Anarchism”.

Bukan Gerakan Lokal

Kendati sejumlah kelompok mengatasnamakan beberapa organisasi nonserikat buruh, awalnya tak terang benar identitas sejati mereka. Sebab massa dengan ciri khas serupa ternyata muncul tidak hanya di Bandung, melainkan juga di Jakarta, Surabaya, Makassar, dan Malang.

Baca Juga:   Kementerian Kominfo Berikan Klarifikasi Terkait Ucapan Menteri Rudiantara, Ternyata..

Beberapa petinggi Kepolisian di keempat kota itu mula-mula menyebut kelompok penyusup beratribut huruf A dalam lingkaran sebagai kelompok Anarko. Namun, beberapa jam berikutnya menjadi kian jelas setelah Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian menyebut lebih lugas bahwa mereka ialah kelompok “Anarko-Sindikalisme“.

Menurut Tito, kelompok itu bukanlah komunitas lokal Indonesia melainkan gerakan internasional, terutama di Eropa, dengan basis utama di Perancis. “Di Indonesia baru berkembang beberapa tahun ini. Kita lihat mereka tahun lalu ada di Yogya, ada di Bandung, sekarang ada di Surabaya, ada di Jakarta.” Ciri khas, katanya, mereka cukup jelas, seperti “… melakukan kekerasan aksi vandalisme dengan coret-coret simbol ‘A’, ada yang merusak pagar, jalan.”

Baca Juga:   Jenguk Arifin Ilham di RSCM, Zulkifli Hasan: Alhamdulillah, Semakin Membaik

Grafiti-grafiti huruf A dalam lingkaran serupa itu sesungguhnya cukup familiar bagi masyarakat Indonesia. Tetapi, sampai peristiwa bentrokan di Bandung lalu Tito Karnavian menyebut lugas identitas mereka, eksistensi kelompok penganut Anarko-Sindikalisme nyaris tak teramati oleh publik, setidaknya media massa. Sebenarnya, apa atau siapa mereka?

Anarkisme

Aksi kelompok anarko-sindikalisme sebelum kerusuhan pecah saat demo Hari Buruh Internasional atau May Day di Bandung, Rabu (1/5/2019). Foto: Tempo

Anarko-Sindikalisme sebetulnya bukanlah paham atau ideologi baru. Ia merupakan bagian dari cabang atau aliran pemikiran sosialisme yang mekar di Eropa bersamaan dengan Marxisme pra-Revolusi Bolshevik atau Revolusi Oktober di Rusia pada 1917.

Baca Juga:   Camila Cabello Sukses Raih Nominasi Terbanyak di MTV EMA 2018

Franz Magnis Suseno mengulasnya secara ringkas tentang anarko-sindikalisme dalam bukunya, Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme. Mulanya, katanya, paham itu berkembang terpisah, anarkisme dan sindikalisme, dalam komunikasi, dan sering dalam konfrontasi, dengan Marxisme, serta menjadi saingannya dalam merebut hati kaum buruh.

“Anarkisme, tulis Suseno, “menolak segala bentuk negara dalam arti lembaga pusat masyarakat dengan wewenang dan kemampuan untuk memaksakan ketaatan terhadap undang-undang. Cita-cita anarkisme adalah anarkhia, keadaan tanpa kekuasaan pemaksa.”

Baca Juga:   Rektor Ibnu Chaldun Siap Hadiri Reuni Alumni 212, Ini Penjelasannya!

Semua bentuk negara, menurut pandangan kaum anarko-sindikalis, mempunyai kekuatan pemaksa, undang-undang, polisi, mahkamah pengadilan, penjara, angkatan bersenjata, dan sebagainya. Karena itu, kaum anarko-sindikalis menganggap semua bentuk negara adalah dan harus ditolak.

Prev1 of 2

Kontributor

More in Nasional

error: Dilarang copy paste tanpa izin!