Connect with us
Dibaca: 19.836

Politik

Budiman Sudjatmiko Diduga Gunakan Akun MCA Palsu Untuk Serang Prabowo

Budiman Sudjatmiko - Foto: Ist

SWARARAKYAT.COM – Politisi PDIP, Budiman Sudjatmiko mengambil gambar screenshot akun Facebook Group Muslim Cyber Army (MCA) yang berisi rencana berdirinya “Khilafah” dan HTI, jika Prabowo menang di Pilpres 2019.

Percakapan yg membuat kita mengernyitkan dahi…Begini rupanya cara mereka memandang & memperlakukan Indonesia. Kamu rela, tuips?,” tulis Budiman, Kamis (13/12/2018).

Tak cukup disitu, Budiman berkicau membentuk opini seolah MCA memiliki target menghancurkan sesama institusi Islam. Budiman juga membandingkan dengan peristiwa di Suriah.

Bahkan sesama institusi Islam jg mereka jadikan target penghancuran. Ini bukan agenda keagamaan & pemilu biasa tp agenda merusak tembok, mbocorin genteng, meremuk pondasi & menaruh bom2 waktu di rumah kita: INDONESIA (spy adik disuruh berkelahi dgn kakaknya)

Jadi ingat bhw perang terbuka di Suriah atau konflik terbuka non perang di Pakistan u/ melancarkan agenda mereka, yg paling banyak menanggung korban adalah institusi2 agama Islam mainstream. Mereka yg dianggap penghalang utama” ungkap Budiman.

Baca Juga:   Dua Jenderal Bertemu, Ini Pesan SBY dan Prabowo Bagi Koalisi Adil Makmur

Namun akun Facebook MCA yang diunggah Budiman dinilai netizen sebagai akun palsu untuk menyudutkan Prabowo Subianto.

Hal itu diketahui dari perbedaan foto yang digunakan di akun MCA versi Budiman dengan MCA yang dibuktikan netizen.

Selain itu, jumlah member MCA versi Budiman baru ada 5 orang. Sedangkan MCA yang diketahui netizen ada sekitar 15 ribu lebih pengikutnya.

Atas temuan itu, netizen lain juga curiga apa yang disampaikan Budiman merupakan “playing victim”, rekayasa kelompok sendiri.

“Mainnya cebong gk jauh2 dari fitnah , bikin sendiri habis itu goreng rame2 sambil nuduh itu dari pen Prabowo . loe ada otak gk sih dek @budimandjatmiko ?,” kata @RestyCayah.

Baca Juga:   Okky Asokawati Penuhi Panggilan Bawaslu, ABR: Gunakan Cara Jujur dan Bermartabat

More in Politik

error: Dilarang copy paste tanpa izin!