Connect with us
Dibaca: 505

Pemilu 2019

Charta Politika: Aparatur Sipil Negara (ASN) Mayoritas Dukung Prabowo, Kenapa?

Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya - Ist

SWARARAKYAT.COM – Hasil survei teranyar lembaga sigi Charta Politika menyatakan suara Aparatur Sipil Negara (ASN) dan Perangkat Desa, mayoritas lebih condong mendukung calon presiden Prabowo Subianto.

Hal tersebut diduga karena visi Prabowo yang praktis dan lebih disukai ASN ketimbang visi inkumben Presiden Joko Widodo atau Jokowi.

Baca Juga:   KPU Ingatkan Yusril, Jadi Caleg Tak Boleh Nyambi Sebagai Pengacara

Dalam survei Charta Politika yang dilakukan pada periode 22 Desember 2018 – 2 Januari 2019 menunjukkan angka pendukung Jokowi di kalangan ASN sebesar 40,4 persen. Angka itu lebih kecil dari ASN yang mendukung Prabowo – Sandiaga yaitu 44,4 persen.

Hal yang sama terjadi di kalangan pegawai desa/kelurahan. Pemilih Jokowi – Ma’ruf hanya sebesar 30,8 persen sedangkan Prabowo – Sandi dipilih oleh 53,8 persen.

Baca Juga:   Cerita Nusron, Saat Ziarah Makam Luar Batang Diteriaki "2019 Ganti Presiden"

Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya berspekulasi, angka ini bagi Jokowi sudah naik ketimbang Pilpres 2014 lalu. “Pertama harus diketahui dari 2014, ASN cenderung kalau disuruh milih Prabowo – Hatta. Bahkan angkanya jauh lebih besar dulu. Artinya sekarang ada kenaikkan pilihan dari ASN kepada Jokowi,” kata Yunarto kepada Tempo, Jumat 1 Februari 2019.

Menurut Yunarto, sejak 2014 ASN lebih memilih Prabowo dengan alasan pragmatis, karena visi yang ia tawarkan bagi ASN lebih menarik yakni kenaikan gaji. Sedang Jokowi, kata dia, lebih menekankan pada digitalisasi sistem, seperti e-budgeting dan e-procurement, dan sistem lelang jabatan yang memungkinkan karier ASN lebih dinamis.

Baca Juga:   Geram! Effendi Ghazali Menyesal Membuat Pemilu Serentak

Sama halnya dalam debat pertama pilpres 2019, Prabowo mengatakan akan meningkatkan gaji ASN, sebaliknya Jokowi menyebut gaji sudah cukup dan remunerasi sudah baik. “Dalam konteks itu tentu saja secara pragmatis apa yang ditawarkan oleh Prabowo lebih menarik terkait kenaikan gaji dan perbaikan sistem,” ujar Yunarto.

Faktor lain, kata Yunarto ASN yang cenderung konvensional sulit menerima gagasan Jokowi terkait e-procurement dan lelang jabatan. Menurutnya para ASN konvensional ada yang belum mau beradaptasi dengan sistem baru itu, dan dianggap mengganggu.

Baca Juga:   Politisi PDIP: Jangan Percaya Janji Prabowo, Pro Integrasi Timor Timur Itu Masalah Warisan

Meski masih tertinggal oleh Prabowo, Yunarto mengatakan ada pergeseran yang cukup signifikan di Jokowi. Ia mengatakan hal ini bisa jadi karena banyaknya ASN generasi muda yang lebih menikmati sistem baru ini. Terutama lelang jabatan yang memberikan peluang lebih besar mencapai jabatan tertentu tanpa perlu menunggu seniornya terlebih dahulu.

“Jadi kalau menurut saya sih tidak mengagetkan kenapa sekarang Jokowi naik dari 25 persen (Pilpres 2014), menjadi 40,4 persen,” tutur Yunarto. (sta/tempo)

Advertisement

Penulis

Advertisement

More in Pemilu 2019

error: Dilarang copy paste tanpa izin!