Connect with us
Dibaca: 403

Opini

Dicari! Pemimpin (Tak) Gebrak Meja

Prabowo Subianto . ©facebook/prabowo subianto

Oleh : Taufik Hidayat (Wasekum Dewan Da’wah Pusat)

Pemilihan Presiden 2019 tinggal hitungan bulan, tapi isu kepribadian Capres masih menjadi fokus utama yang seringkali di blow up media partisan hanya untuk menurunkan simpati publik kepada figur capres tertentu. Tak pelak lagi, urusan gebrak meja pun bisa menjadi amunisi untuk menyerang. Tentunya bukan gebrak meja yang menjadi pasal utama tapi tindakan tersebut merupakan simbolisasi rasa marah apalagi kemarahan itu justru muncul didepan para ulama.

Menjadi pertanyaan kita adalah apakah seorang (calon) pemimpin tidak boleh marah ? dan apakah kemarahan pemimpin tersebut boleh diumbar didepan ulama?. Para ahli psikologi modern memandang kemarahan merupakan sesuatu yang memiliki nilai fungsional untuk keberlangsungan hidup. Kemarahan dapat menjadikan manusia bertindak secara korektif (Novaco : 2000).

Tindakan marah seperti menggebrak meja merupakan reaksi self defense dari seseorang terhadap “serangan” yang dianggap menghina atau merendahkan orang tersebut, sehingga secara spontan manusia akan membela diri dengan mengeluarkan rasa marah sebagai usaha untuk mempertahankan eksistensi kehidupannya. Bayangkan jika manusia tidak punya rasa marah ketika dia dihina atau dilecehkan tentunya manusia seperti ini akan mudah ditindas dan cepat hilang eksistensinya. 

Baca Juga:   Alasan Pentingnya Agenda Pemaparan Visi Misi Paslon

Jika kita tarik dalam konteks figur seorang Presiden dari sebuah bangsa yang cukup besar seperti Indonesia (Negara terluas ke-14 di dunia dan penduduk terbanyak ke-4 di dunia) tentunya sifat marah dibutuhkan untuk melindungi eksistensi rakyat dan negara Indonesia ketika diserang atau dilecehkan.

Sifat marah memobilisasi sebuah tindakan korektif untuk menegakkan sesuatu yang salah atau yang dirasa berbahaya bagi bangsa dan rakyatnya. Bayangkan jika ada seorang Presiden tidak merasa marah ketika marwah warga negaranya dilecehkan oleh negara lain, tentunya rakyat akan ragu apakah benar Presiden tersebut cinta dan mau melindungi rakyatnya.

Kita akan jumpai sejarah para pemimpin besar dalam peradaban maju di dunia ini, dengan kemarahan para pemimpin tersebut maka bangsa mereka menjadi kuat dan disegani, sebutlah misalnya kemarahan Presiden Soekarno kepada protokoler kepresidenan Amerika Serikat karena keterlambatan setengah jam untuk bertemu dengan Dwight Eisenhower, seorang Presiden Amerika Serikat bekas Jendral Perang. 

Baca Juga:   Membongkar Kedok Abu Janda, Agen Ganda Pemecah Umat Islam Jaringan Proxy War Zionis

Eisenhower akhirnya ketakutan mengetahui Soekarno menjadi marah (Widjanarko : 1988). Bagi Soekarno, tidak ada urusan dengan Amerika Serikat sebagai negara Super Power dengan kekuatan militer nomor wahid di dunia. Justru pada saat itu, rakyat Indonesia bangga dengan kemarahan Soekarno sehingga Indonesia disegani di pentas dunia.

Perdana Menteri Inggris Winston Churchill juga dikenal sebagai seorang yang sering mengeluarkan kemarahan dengan pidatonya yang berapi api dan penuh heroisme, kondisi Inggris yang terancam kalah oleh invasi Jerman membuat rakyat Inggris butuh seorang pemimpin yang punya sifat keras kepala dan agresif seperti Winston Churchill.

Prev1 of 3

More in Opini

error: Dilarang copy paste tanpa izin!