Connect with us
Dibaca: 155

Internasional

Donald Trump Kemungkinan Bakal Dimakzulkan

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump - Foto: Sky News

SWARARAKYAT.COM – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan kekhawatirannya soal kemungkinan dimakzulkan, seorang sumber yang dekat dengan Trump mengatakan pada CNN, Selasa (11/12/2018).

Sumber tersebut juga mengungkapkan bahwa Trump melihat isu pemakzulan yang saat ini santer dibahas sebagai suatu kemungkinan yang nyata, namun Trump tidak yakin apakah hal itu akan terjadi.

Sumber lain yang dekat dengan Gedung Putih mengatakan satu-satunya isu yang mungkin memengaruhi proses pemakzulan adalah pelanggaran keuangan kampanye yang menjerat mantan pengacara Trump, Michael Cohen.

Baca Juga:   Orang Sakti Duduk Diatas Pelepah Pohon Kelapa Hebohkan Warga

Isu pemakzulan terhadap Donald Trump mulai mengemuka usai kejaksaan Distrik Selatan New York mengusut kemungkinan keterlibatan Trump dalam pelanggaran yang dilakukan Cohen pada Pemilihan Presiden 2016.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Cohen tengah menghadapi ancaman penjara karena melanggar aturan keuangan kampanye. Ia kedapatan mengirim sejumlah uang ke dua perempuam, Stormy Daniels dan Karen McDougal, yang diduga merupakan selingkuhan Trump. Terdapat indikasi yang mengarah pada kemungkinan Trump memerintahkan langsung pembayaran tersebut sebagai upaya tutup mulut.

Baca Juga:   Gempa 7 M Guncang Papua Nugini, Peringatan Tsunami Dihidupkan

Pejabat Gedung Putih sejauh ini mengungkapkan bahwa pihaknya tidak yakin isu pelanggaran kampanye tersebut bisa membangkitkan dukungan untuk pemakzulan. Di Amerika Serikat, pemakzulan adalah isu yang kompleks. DPR, yang saat ini didominasi Demokrat dan kursi Senat, di mana Partai Republik mendulang suara mayoritas, harus satu suara untuk mengajukan pemakzulan.

Selain itu, pemakzulan bisa diajukan jika Presiden terbukti melakukan pelanggaran berat selama menjabat posisinya. Profesor hukum dari Harvard, Noah Feldman, mengatakan pada CNN bahwa segala bentuk tuduhan yang dilayangkan ke Trump sejauh ini terjadi saat ia belum menjabat. Hal itu, katanya, belum cukup kuat untuk menjadi dasar pemakzulan. (Ren)

More in Internasional

error: Dilarang copy paste tanpa izin!