Connect with us
Dibaca: 94

Opini

Era Jokowi Menyertakan Banyak Hikmah

Foto: Jokowi Blusukan ke Pasar Bogor

Alhamdulillah! Luar biasa pelajaran yang dihadirkan oleh Allah dari masa kepresidenan Joko Widodo (Jokowi). Di tengah banyak masalah yang beliau ciptakan, ada juga kebaikan yang patut disyukuri.

Ada pelajaran berharga yang tak boleh dilupakan. Dan pelajaran berharga itu harus lah dijadikan panduan untuk menyelamatkan Indonesia.

Panduan itu lah yang kita bawa ke dalam bilik suara pada pemilu 2019. Terutama panduan untuk pilpres.

Pelajaran berharga itu ialah :

Baca Juga:   Jokowi Unggah Momen Kemas Buku, Pindah dari DKI Menuju Istana, Netizen Tanya: Itu Buku Nama-Nama Ikan Pak?

Pertama, kita semua menjadi paham bahwa era Pak Jokowi cukup lah satu periode saja.

Kedua, kita menjadi tahu bahwa era-era pendahulu beliau ternyata tidak lah seburuk yang disimpulkan oleh banyak orang yang keliru menyimpulkan nya.

Ketiga, kita menjadi paham bahwa begitu banyak orang yang kita sangka akan mempertahankan kedaulatan Indonesia, ternyata adalah orang yang bagaikan ingin menghancurkan bangsa dan negara ini.

Baca Juga:   HMI Sumut Menggugat, Raport Merah Jokowi-JK

Era Jokowi menyertakan banyak hikmah. Menjadi jelas bagi kita tentang kehebatan para pemimpin terdahulu. Tentang komitmen mereka untuk Indonesia yang berdaulat dan berwibawa. Menjadi jelas bagi kita bahwa pemimpin yang “prudent” (bijak) tidak identik dengan kemerakyatan dalam bentuk keblusukan.

Hari ini kita paham betapa mahal nya harga yang harus kita bayar untuk menikmati drama blusukan yang hampir tidak ada manfa’atnya kecuali untuk hiburan politis (political entertainment) belaka.

Sekarang baru lah kita sadar bahwa blusukan adalah sajian yang sifatnya manipulatif, tidak esensial. Sesuatu yang “unsustainable”, tidak bisa terpertahankan untuk tujuan pembangunan yang hakiki.

Blusukan tidak berguna untuk pengelolaan negara. Ia tidak bisa diandalkan untuk menghadirkan kepemimpinan yang visioner dan kuat.

Memang diakui blusukan berguna untuk “image enhancement”, pencitraan. Tetapi, ketika negara ini dihadapkan pada isu-isu kebangsaan dan kenegaraan, yaitu tentang “the very existence of Indonesia” (eksistensi Indonesia), ketahuan lah bahwa blusukan dan sejenisnya malahan berperan menyembunyikan kelemahan kepemimpinan.

Inilah hikmah yang ditunjukkan oleh Allah lewat era Jokowi. Dari Pak Jokowi kita belajar tentang perlunya keseriusan dan kehati-hatian dalam memilih pemimpin.

Insyaa’Allah, tahun depan kita akan membawa pelajaran berharga ini ke bilik suara pilpres. Kita tidak akan mengulangi lagi kekeliruan yang kini menjadi hikmah itu. (*)

Penulis: Asyari Usman, wartawan senior

More in Opini

error: Dilarang copy paste tanpa izin!