Connect with us
Dibaca: 62

Politik

Fahri Hamzah: PKS Ayolah, Saatmu Intropeksi

Fahri Hamzah - FOTO: Instagram

SWARARAKYAT.COM – Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah membahas polemik di tubuh Partai Keadilan Sejahtera (PKS) melalui unggahan akun instagram miliknya.

Fahri menceritakan kembali kisah saat pimpinan partai ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), hingga persoalan lain menimpa PKS.

Berikut postingan Fahri:

Baca Juga:   KPK Minta Presiden Keluarkan Perppu Tipikor, Fahri: Ini Kesempatan Pak Jokowi Bubarkan KPK

“Hari Jumat bagi saya di PKS adalah hari introspeksi. Saya selalu terkenang saat musibah, gempar saat pimpinan partai ini ditangkap KPK karena korupsi. Yang tidak terlibat tidak bisa merasakan. Jum’at adalah hari menakutkan kalau lagi duduk depan khatib dan PKS jadi bahasan.

Khatib Jum’at membahas moralitas politisi dan PKS menjadi contoh paling jelek. “Ada partai Islam, banyak ustadz di dalamnya ternyata korupsi juga, bla..bla…bla…”. Sembur sang khatib, duh malunya. Ingin rasanya Jum’at cepat selesai dan aku pergi.

Para pimpinan PKS sekarang kurang introspeksi. Kalau sudah sekali salah selanjutnya terus melakukan kesalahan untuk membiasakan bahwa yang kemarin itu gak salah. Lalu melangkah membabi buta tabrak kiri tabrak kanan. Jamaah berantakan.

Baca Juga:   Kwik Kian Gie Sebut Ratna Sarumpaet Dibayar Rp1,5 Triliun

Sayang sekali, karena sudah hampir masuk 2019 dan hampir 4 tahun gejolak didalam tidak diselesaikan. Islah mensyaratkan ego, pimpinan tidak boleh salah dan pimpinan sama dengan partai, melawan pimpinan adalah melawan partai. Sungguh tragis.

Kita tahu apa yang terjadi secara kasat mata, tapi dalam kepemimpinan tertutup, membuka apa yg terjadi menjadi sebab hukuman yang sangat keras. Apa yang bisa kita sembunyikan di abad 21 ini? Ini demokrasi di era teknologi digital yang bersenyawa dalam dunia maya.

Berharap orang akan percaya kepada pimpinan yang menolak berargumen secara terbuka adalah masa prasejarah. Tabiat itu tidak ada lagi di abad ke -21. Ini abad keterusterangannya dan kita tidak bisa sembunyi lagi di balik topeng wibawa agama atau hirarki yang kaku.

Baca Juga:   Pelapor Korupsi Diganjar Rp200 Juta, Fahri: Nanti Pada Jadi Tukang Lapor, Matilah Negara Ini

Sayang sekali, pimpinan PKS terus saja melangsungkan politik pengetatan dan pemecatan. Orang lagi bertempur tapi pasukan gonta ganti. Alasan tidak pernah ada dan persidangan dianggap tidak perlu, pimpinan dianggap dapat menentukan masa depan pribadi. Hebat!

Sebagian kader belum sadar bahaya feodalisme yang masuk dalam tradisi berjamaah dan berpartai. Padahal feodalisme ini nanti yang merusak merit sistem dalam jabatan publik. Orang didukung bukan karena cakap tapi karena menjilat.

Partai adalah fasilitator bagi pejabat publik, jabatan dalam negara,” tulis Fahri. (Ren)

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

SAATNYA INTROSPEKSI Hari Jumat bagi saya di PKS adalah hari introspeksi. Saya selalu terkenang saat musibah, gempar saat pimpinan partai ini ditangkap KPK karena korupsi. Yang tidak terlibat tidak bisa merasakan. Jum’at adalah hari menakutkan kalau lagi duduk depan khatib dan PKS jadi bahasan. Khatib Jum’at membahas moralitas politisi dan PKS menjadi contoh paling jelek. “Ada partai Islam, banyak ustadz di dalamnya ternyata korupsi juga, bla..bla…bla…”. Sembur sang khatib, duh malunya. Ingin rasanya Jum’at cepat selesai dan aku pergi. Para pimpinan PKS sekarang kurang introspeksi. Kalau sudah sekali salah selanjutnya terus melakukan kesalahan untuk membiasakan bahwa yang kemarin itu gak salah. Lalu melangkah membabi buta tabrak kiri tabrak kanan. Jamaah berantakan. Sayang sekali, karena sudah hampir masuk 2019 dan hampir 4 tahun gejolak didalam tidak diselesaikan. Islah mensyaratkan ego, pimpinan tidak boleh salah dan pimpinan sama dengan partai, melawan pimpinan adalah melawan partai. Sungguh tragis. Kita tahu apa yang terjadi secara kasat mata, tapi dalam kepemimpinan tertutup, membuka apa yg terjadi menjadi sebab hukuman yang sangat keras. Apa yang bisa kita sembunyikan di abad 21 ini? Ini demokrasi di era teknologi digital yang bersenyawa dalam dunia maya. Berharap orang akan percaya kepada pimpinan yang menolak berargumen secara terbuka adalah masa prasejarah. Tabiat itu tidak ada lagi di abad ke -21. Ini abad keterusterangannya dan kita tidak bisa sembunyi lagi di balik topeng wibawa agama atau hirarki yang kaku. Sayang sekali, pimpinan PKS terus saja melangsungkan politik pengetatan dan pemecatan. Orang lagi bertempur tapi pasukan gonta ganti. Alasan tidak pernah ada dan persidangan dianggap tidak perlu, pimpinan dianggap dapat menentukan masa depan pribadi. Hebat! Sebagian kader belum sadar bahaya feodalisme yang masuk dalam tradisi berjamaah dan berpartai. Padahal feodalisme ini nanti yang merusak merit sistem dalam jabatan publik. Orang didukung bukan karena cakap tapi karena menjilat. Partai adalah fasilitator bagi pejabat publik, jabatan dalam negara (…) Lengkapnya di fahrihamzah.com #fahrihamzah #fh #indonesia

Sebuah kiriman dibagikan oleh Fahri Hamzah (@fahrihamzah) pada

Advertisement

Penulis

Advertisement

More in Politik

error: Dilarang copy paste tanpa izin!