Connect with us
Dibaca: 481

Opini

Freeport Sudah Diambil Alih Bangsa Indonesia, Benarkah?

Tambang Emas Freeport

Oleh: Hidayat Matnoer
Pengamat Kebijakan Moneter & Publik

Hari ini (21/12) Presiden RI, Bapak Jokowi menerima laporan dari para menterinya bahwa 51,2% saham PT Freeport Indonesia (PTFI) sudah beralih ke Indonesia melalui PT Inalum.

Komposisi saham Freeport menjadi saham Freeport-Mc Moran 49% dan saham PT Inalum 51%.

Beberapa orang mengklaim bahwa PTFI kini telah diambilalih oleh bangsa Indonesia, sebuah momen bersejarah di mana Freeport untuk pertama kali terjadi sejak 1973 PTFI didirikan.

Baca Juga:   Soal Ruas Jalan di Papua, Jangan Diam Seribu Bahasa, Saya Tunggu Respos Istana dan PUPR, Bukan Politisi danTim Sukses!

Sebagian yang lain meluruskan yang terjadi sebenarnya adalah PT Inalum MEMBELI saham Freeport dan hal tersebut bukan masalah nasionalisasi PTFI ke Indonesia.

Faktanya, kini komposisi merah putih di PTFI adalah 51,2% saham yang dibagi atas 41,2% dikuasai PT Inalum dan 10% dikelola PT Indonesia Papua Metal & Mineral yang merupakan perusahan joint venture (JV) antara Inalum dengan BUMD Pemda Papua.

Yang harus dingat adalah Inalum menguasai 51 persen saham PTFI dengan biaya yang TIDAK GRATIS.

Inalum membayar $3.85 miliar USD atau setara 55,7 triliun Rupiah untuk meningkatkan sahamnya di PT Freeport Indonesia (PTFI) dari 9,36 persen menjadi 51,232 persen.

Baca Juga:   Denny JA Ahli Bius Jokowi dengan Angka-Angka Survei

Pembayaran tersebut adalah tindaklanjut dari penandatanganan Sales & Purchase Agreement (SPA) antara PT Freeport-McMoran, PT Rio Tinto Indonesia dan PT Inalum yang disaksikan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri BUMN Rini Soemarno dan Menteri Lingkungan Hidup Siti Nurbaya, Dirut Inalum Budi Gunadi Sadikin dan CEO Freeport McMoran Richard Adkerson.

PERTANYAANNYA adalah darimana Inalum mendapatkan dana $3,85 miliar USD atau 55,7 triliun Rupiah untuk membeli saham tersebut? Apakah ada praktek nominee atau keterlibatan orang lain/pihak asing menggunakan bendera PT Inalum untuk menguasai PTFI? Nah ini yang menarik!

Ternyata, Inalum mendapatkan dana dari penerbitan Surat Utang Global sebesar 4 miliar USD yang akan digunakan untuk membeli saham Freeport 3,85 miliar USD dan 150 juta untuk refinancing.

Baca Juga:   Ratna Sarumpaet, La Nyalla, Dimana Bedanya?

Obligasi (surat utang) global tersebut terbagi atas 4 masa jatuh tempo. Pertama obligasi senilai 1 miliar USD untuk tenor 2018-2021 (3 tahun) dengan kupon 5.99%.

Kedua, obligasi global senilai 1,25 miliar USD untuk tenor 2018-2023 (5 tahun) dengan kupon 5.71%.

Ketiga, obligasi global senilai 1 miliar USD untuk tenor 2018-2028 (10 tahun) dengan kupon 6.53%.

Keempat, obligasi global senilai 750 juta USD untuk tenor 2018-2048 (30 tahun) dengan kupon 6.75%.

Setiap obligasi global yang akan dijual di seluruh dunia harus memiliki underwriter. Underwriter bond global tersebut yang ditunjuk sebagai koordinator adalah BNP Paribas (perancis), Citigroup (AS), Maybank (Malaysia), SMBC Nikko (Jepang), Standar Chartered Bank (Inggris).

Baca Juga:   Gerakan Separatis OPM Makin Berani, Konvoi dengan Teriakan "Papua Merdeka"

Obligasi global Inalum mendapatkan rating Baa2 dari Moodys dan rating BBB- dari Fitch.

Para analis menyayangkan kenapa Inalum menerbitkan global bond daripada domestik bond. Resiko global bond lebih tinggi terutama dari risiko nilai tukar dan risiko soverignty. Penerbitan domestic bond sebesar 55,7 triliun IDR akan membantu pendalaman pasar keuangan dalam negeri.

Sedangkan yang lain membenarkan bahwa penerbitan domestic bond saat ini tidak tepat di tengah lesunya pasar keuangan domestik.

Faktanya, global bond sudah diterbitkan Inalum 8 Nov 2018 dan konon dananya sudah di tangan Inalum berarti perdebatan global dan domestik bond tidak relevan.

Baca Juga:   Rizal Ramli: Kontrak Pertambangan Habis, Wajib Dikembalikan ke Pemerintah, Bukan Dibeli

Inalum berpendapat global bond lebih baik dari pada pinjaman perbankan asing karena perbankan bunganya fleksibel tergantung LIBOR dan harus membayar pokok pinjaman setiap tahun dua kali. Jika global bond, perusahaan hanya membayar kuponnya satu kali setahun dan prinsipal utangnya di akhir tenor dibayarkan sehingga membantu cashflow perusahaan lebih baik.

Penerbitan Bond 4 miliar USD tersebut adalah bukti kuat bahwa Inalum kini memiliki kewajiban global besar sekali. Padahal sebelum rencana akuisisi Freeport, PT Inalum adalah BUMN “Managable Debt.” Kini 1 Januari 2019 mendatang BUMN tersebut berstatus “potentially critical debt.”

Sebelum rencana akuisisi (Juli 2018), Total Cash perusahan Inalum adalah 19.8 triliun IDR naik dari 16,1 triliun IDR dari Desember 2017. Pendapatan bersihnya mencapai 6 triliun IDR. Rasio Debt Equity (ROE) ada pada level moderat sebesar 22,2%. Indikator keuangan yang sehat.

Penerbitan global bond tersebut dilakukan oleh Inalum tercatat tanggal Kamis 8 November 2018 di New York. Hebatnya, dalam kurun kurang lebih 1 bulan, Inalum berhasil mendapatkan global bond tersebut senilai 4 miliar USD dengan cukup mudah.

Baca Juga:   OPM Beraksi, Kapolresta Surabaya Pulangkan Paksa 233 Warga Separatis Papua

Dalam simulasi beban keuangan perusahaan, Inalum akan membayar beban kupon sebesar Rp1,7 triliun setiap tahun dari global bond tersebut. Sementara potensi keuntungan bersih Freeport diperkirakan sebesar 2 miliar USD atau 28,9 triliun IDR.

Hitungan di atas kertas memang selalu mengesankan namun resiko gagal bayar tetap ada dan pemerintah RI tetap menjadi penjamin global bond tersebut.

Risiko jangka pendek juga ada yaitu bila Juni 2019 transaksi Freeport tidak selesai, Inalum harus membayar kupon bunga 5.9%. Laba belum jelas namun beban kupon bond sudah di hadapan mata.

Dalam aturan global bond, apabila McMoran ingin membeli global bond Inalum, maka tidak boleh dilarang. Hal ini memungkinkan PTFI dapat dikuasai kembali oleh McMoran melalui tangan global bond Inalum.

Baca Juga:   Gubernur Jenderal NRFPB Ungkap Kejanggalan Tragedi Pembantaian 31 Pekerja di Papua

Skema global bond menjadikan Inalum hanya digunakan sebagai cangkang formal (Financial Vehicles) yang dapat digunakan kekuatan modal di luar nasional Indonesia untuk menguasai PTFI seperti McMoran dan afiliasi turunannya.

Singkatnya, Freeport tidak mungkin dikuasai oleh bangsa Indonesia bila menggunakan skema global bond. Karena McMoran dan pemain global lainnya dapat menguasai 100 persen global bond milik Inalum tersebut.

Sayang sekali, Freeport dikuasai oleh Bangsa Indonesia masih sebuah cita jika begini ceritanya.

Advertisement

Penulis

Advertisement

More in Opini

error: Dilarang copy paste tanpa izin!