Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Connect with us
Dibaca: 136

Nasional

Geruduk Gedung DPRD, Mahasiswa Aliansi Garda Kaltim Gelar Aksi Peduli Rupiah

Foto: Mahasiswa Aliansi Garda Kaltim dalam aksi "Peduli Rupiah", Jumat (14/9/2018). Dok.SWARARAKYAT.COM

SWARARAKYAT.COM – Mahasiswa dari Aliansi Garda Kaltim berunjukrasa di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kaltim. Ratusan mahasiswa tersebut menggelar Aksi “Peduli Rupiah”, Jumat (14/9/2018).

Dalam press release yang diterima redaksi SWARARAKYAT.COM, sejumlah tuntutan disampaikan para mahasiswa.

Foto: Mahasiswa Aliansi Garda Kaltim dalam aksi “Peduli Rupiah”, Jumat (14/9/2018). Dok.SWARARAKYAT.COM

Berikut Press Release:

PRESS RELEASE AKSI PEDULI RUPIAH

“NILAI RUPIAH MELEMAH TAK BERDAYA”

Hidup Mahasiswa!

Pelemahan mata uang Rupiah sudah menyentuh titik nadir. Keguncangan sentimen global membuat nilai tukar rupiah babak belur sampai memasuki semester 3 tahun 2018. Terbaru, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) telah menembus angka Rp 15.029, pada Selasa (4/9/2018). Tentu, ini menjadi raport merah untuk kestabilan fundamental perekonomian Indonesia, sebab rupiah melemah ke level terlemah sejak september 2015.

Penyebab melemahnya rupiah antara lain kenaikan dan ekspektasi kenaikan fed fund rate (suku bunga acuan Amerika Serikat), kekhawatiran dampak perang dagang AS versus Tiongkok, serta kenaikan harga minyak dunia pascageopolitik yang masih memanas, ketidakpastian pasca-Brexit serta adanya krisis Argentina yang mengajukan pinjaman kepada IMF senilai USD50 miliar atau 733 Triliun.

Dari sisi faktor internal penyebab turunnya nilai tukar rupiah adalah pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia yang kurang optimal dengan lambannya peningkatan konsumsi domestik. Kondisi ini selaras dengan kondisi defisit neraca perdagangan Indonesia karena melemahnya daya saing ekspor, berkurangnya cadangan devisa dalam tiga bulan terakhir dengan posisi terakhir di bulan juni sebesar 118 USD miliar, serta pertumbuhan ekonomi yang masih di tidak ideal disebabkan ketergantungan menggunakan bahan baku impor.

Pelemahan Rupiah membuat masyarakat khawatir. Bukan tanpa alasan, setidaknya beberapa hal yang bisa beresiko jika rupiah terus melemah. Pertama, jika pelemahan berlanjut, daya saing produk Indonesia baik domestik maupun ekspor akan mengalami pelemahan juga. Karena, saat ini beberapa sektor industri masih mengandalkan impor bahan baku dan barang modal.

Untuk risiko kedua, pelemahan rupiah bisa menjadi beban terhadap pembayaran cicilan dan bunga utang luar negeri pemerintah dan korporasi semakin membesar. Dengan demikian risiko gagal bayar utang swasta akan naik, terlebih masih banyak perusahaan yang belum melakukan hedging atau lindung nilai.

Sedangkan risiko ketiga adalah bisa mempengaruhi penyesuaian harga BBM. Indonesia sebagai negara net importir minyak mentah sangat sensitif terhadap pergerakan dolar AS. Akibatnya harga BBM berpotensi akan naik, karena transaksinya menggunakan mata uang US Dollar.

Ditambah lagi, anjloknya nilai rupiah membuat perekonomian kita tidak stabil, sehingga akan terjadi cost push inflation, yaitu inflasi yang disebabkan oleh naiknya biaya faktor produksi seperti BBM. Tentu, ini menyebabkan biaya produksi lebih mahal sehingga profit semakin rendah dan perusahaan akan mengurangi produksi dan fatalnya akan mengurangi tenaga kerja maka akan menambah tingkat pengangguran.

Jika Pemerintah tidak tanggap dalam masalah ini, maka akan terjadi multiplayer efek yang buruk terhadap perekonomian nasional. Melihat kondisi yang mengkhawatirkan, Aliansi Garda Kaltim menyampaikan dua tuntutan:

1. Mendesak Pemerintah untuk menstabilkan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar.

2. Mendesak Pemerintah untuk segera meningkatkan kinerja ekspor dan mengurangi impor agar mengapresiasi nilai tukar rupiah.

3. Menagih janji pemerintah untuk mewujudkan kemandirian ekonomi.

Foto: Mahasiswa Aliansi Garda Kaltim dalam aksi “Peduli Rupiah”, Jumat (14/9/2018). Dok.SWARARAKYAT.COM

Ujung tombak pertumbuhan ekonomi indonesia dilihat dari stabilitas nilai mata uang. Nilai tukar mata uang salah satu variabel ekonomi makro yang fundamental, karena pergerakan nilai kurs dapat mempengaruhi stabilitas perekonomian Indonesia.

Pemerintah pun hari telah gagal merealisasikan janjinya, yakni mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik. Ini berbanding terbalik dengan kondisi dalam negeri sendiri yang kinerja perdagangan kurang optimal. Neraca perdagangan terus mengalami defisit. Ini berimbas juga pada defisit transaksi berjalan yang menembus 3% pada tw II 2018. Investor asing juga melepas kepemilikan surat utangnya. Yield spread antara SBN 10 tahun dan Treasury bond melebar. Jelas, ketidakseimbangan di neraca perdagangan menjadi salah satu faktor yang tak bisa diatasi pemerintah secara tanggap. Karena pemerintah lebih mengutamakan impor sehingga sektor-sektor domestik tenggelam.

Baca Juga:

Baca Juga:   Wow! Caleg PSI Aceh Ini Kutuk Pernyataan Ketua Umumnya, Grace Natalie

Sehingga, solusi harus mutlak adanya untuk menyelesaikan permasalahan pelemahan rupiah yang kian hari membuat resah serta gelisah masyakarat. Pemerintah harus melakukan upaya preventif lebih dalam agar rupiah kembali menguat ideal. Kami memberikan solusi dan upaya yang harus dilakukan pemerintah sebagai berikut:

1. Pemerintah harus melakukan pendalaman pasar dalam dengan mendorong lebih banyak sumber pembiayaan dari investor lokal demi menekan pembiayaan dari eksternal.

2. Pemerintah harus berupaya mempermudah akses peminjaman usaha dengan menjaga suku bunga kredit yang rendah.

3. Mengajak masyarakat untuk tidak menukarkan rupiah ke dolar dan memperbanyak transaksi dengan rupiah agar nilai rupiah menguat dan menukarkan dollar-nya, agar devisa dollar terus terjaga di dalam negeri akan kondisi rupiah kembali membaik.

Stabilitas yang menjadi kunci dalam pertumbuhan ekonomi indonesia menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah.

Rupiah yang terus merosot akan menambah beban utang bagi pemerintah, mengingat sebagian utang Indonesia ada di dalam bentuk mata uang asing.

Anjloknya nilai rupiah ini merupakan tamparan keras untuk perekonomian indonesia terhadap sentimen global yang semakin sulit diprediksi. Pemerintah harus menemukan formulasi yang tepat karena melemahnya nilai tukar ialah suatu fenomena ekonomi yang sangat alamiah dan mengkhawatirkan.

Panjang umur perjuangan !
Hidup Mahasiswa!

Salam,
Aliansi Garda Kaltim

Narahubung : Freijae Rakasiwi

Loading...

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

More in Nasional