Connect with us
Dibaca: 441

Politik

Hasto: Tes Baca Alquran Jadi Bumerang Lawan, Jadi Tak Perlu Dilakukan

https://pilpres.tempo.co/read/1160127/kata-hasto-kristiyanto-soal-tes-baca-al-quran-untuk-capres

SWARARAKYAT.COM – Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi – Ma’ruf Amin, Hasto Kristiyanto, menanggapi soal undangan tes membaca Al Quran oleh Dewan Ikatan Dai Aceh. Ia mengatakan usulan tersebut dapat menjadi bumerang bagi lawan politiknya yang kerap menggunakan isu agama dalam berpolitik.

“Kami melihat ini cara masyarakat Aceh untuk mengoreksi pemimpinnya yang mencoba menggunakan isu-isu agama,” kata Hasto dalam konferensi pers di Media Center Jokowi-Ma’ruf, Jalan Cemara, Menteng, Jakarta Pusat, Ahad 30 Desember 2018.

Sebelumnya, Dewan Ikatan Dai Aceh mengusulkan adanya tes baca Al Quran bagi kedua pasangan calon presiden dan calon wakil presiden. Tantangan itu disampaikan oleh Ketua Dewan Pimpinan Ikatan Dai Aceh, Tgk Marsyuddin Ishak, di Banda Aceh, Sabtu, 29 Desember 2018. 

Baca Juga:   Usai di Bawaslu, Hasto Kristiyanto Kembali Dilaporkan ke Bareskrim Polri

Menurut Hasto, baik Jokowi dan Ma’ruf Amin tak masalah bila betul terjadi tes ini. Sebaliknya bagi lawan politik yang tidak ia sebutkan siapa, usulan Dewan Ikatan Dai Aceh ini diibaratkan pukulan haymaker, yang dapat membuat perut mulas.

“Untuk urusan bangsa dan negara jangan permainkan isu-isu agama yang seharusnya membangun peradaban kita bersama,” tutur Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini.

Tapi Hasto menambahkan, TKN menganggap tes membaca Al Quran ini tidak perlu dilakukan. Pasalnya, kata dia, pemimpin tidak diukur dari kepiawaian mengaji, melainkan dari ketakwaan terhadap Tuhan. Ia pun mengatakan bahwa TKN mengikuti persyaratan sesuai dengan Pasal 10 Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 22 Tahun 2018. 

Baca Juga:   Setelah Indonesia Barokah, Muncul Tabloid Pembawa Pesan Milik Caleg PDIP

Hasto mengaku paham bagaimana masyarakat Aceh mendambakan sosok pemimpin yang agamis. Namun ia mengatakan bahwa pemimpin agamis yang ideal tercermin dari tindakan, bukan dari klaim. “Agamis itu diukur dari tindakan, bukan dari klaim,” kata dia. (Ren/Tempo)

More in Politik

error: Dilarang copy paste tanpa izin!