Connect with us
Dibaca: 1.528

Hukum & Kriminal

Identitas Satu Keluarga Kena OTT KPK Penyuap Kementerian PURP Terungkap

Gedung baru KPK

SWARARAKYAT.COM – Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Saut Situmorang mengakui pihak swasta yang menjadi tersangka dalam operasi tangkap tangan (OTT) pejabat Kementerian PUPR adalah satu keluarga.

Mereka merupakan pemberi suap terhadap pejabat Kementerian PUPR terkait sejumlah proyek pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) tahun anggaran 2017-2018.

Satu keluarga tersebut, yakni Budi Suharto dan Lily Sundarsih sebagai pasangan suami istri, dan anaknya, Irine Irma. 

Baca Juga:   Sekjen PPP: Kita Hormati Proses Hukum KPK dan Kami Minta Maaf Kepada Semua Kader dan Konstituen PPP

“Oh iya (keluarga), itu suami, istri sama anak yah, yang IIR (Irene Irma) itu anaknya,” kata Saut di Gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Minggu (30/12).

Sebelumnya, KPK telah menetapkan delapan orang tersangka terkait kasus dugaan suap ‎terhadap pejabat Kementeriaan Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (KemenPUPR) terkait proyek pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) tahun anggaran 2017-2018.

Diduga sebagai pihak pemberi suap, yakni, ‎Direktur Utama PT Wijaya Kusuma Emindo (PT WKE), Budi Suharto (BSU); Direktur PT WKE, Lily Sundarsih Wahyudi (LSU); Direktur Utama PT Tashida Sejahtera Perkasa (PT TSP) Irene Irma (IIR); dan Direktur PT TSP, Yuliana Enganita Dibyo. 

Baca Juga:   Jokowi Minta Arab Saudi Ungkap Kasus Khashoggi, Purnawirawan TNI: Lah, Kasus Novel Gimana Kelanjutannya?

Sedangkan empat pejabat Kementerian PUPR sebagai penerima suap, yakni, Kepala Satuan Kerja (Satker) SPAM, Anggiat Partunggul Nahot Simaremare (ARE); PPK SPAM Katulampa, Meina Woro Kustinah (MWR); Kepala Satker SPAM Darurat, Teuku Moch Nazar (TMN); serta PPK SPAM Toba 1, Donny Sofyan Arifin (DSA).

KPK menduga, empat pejabat KemenPUPR telah menerima suap untuk mengatur lelang terkait proyek pembangunan sistem SPAM tahun anggaran 2017-2018 di Umbulan 3-Pasuruan, Lampung, Toba 1 dan Katulampa. Dua proyek lainnya adalah pengadaan pipa HDPE di Bekasi dan daerah bencana Donggala, Palu, Sulawesi Tengah. 

Baca Juga:   Bupati Bekasi Akui Pernah Bahas Proyek Meikarta Bersama James Riady

Kemudian, Meina Woro Kustinah diduga menerima sebesar Rp 1,42 miliar dan 22.100 Dollar Singapura untuk pembangunan SPAM Katulampa. Sedangkan, Teuku Moch Nazar disinyalir menerima Rp 2,9 miliar untuk pengadaan pipa HDPE di Bekasi dan Donggala, Palu, Sulawesi Tengah; serta Donny Sofyan Arifin‎ menerima Rp 170 juta untuk pembangunan SPAM Toba 1.

Lelang proyek tersebut diatur sedemikian rupa untuk dimenangkan oleh PT WKE dan PT TSP yang dimiliki oleh orang yang sama. PT WKE sendiri diatur untuk mengerjakan proyek bernilai diatas Rp 50 miliar. Sedangkan PT TSP diatur untuk mengerjakan proyek dibawah Rp 50 miliar.

Ada 12 paket proyek KemenPUPR tahun anggaran 2017-2018 yang dimenangkan oleh PT WKE dan PT TSP dengan nilai total Rp 429 miliar. Proyek terbesar yang didapat oleh dua perusahaan tersebut yakni, pembangunan SPAM Kota Bandar Lampung dengan nilai total proyek Rp 210 miliar. 

Baca Juga:   Tak Bertemu Pimpinan KPK, Amien Rais Pertanyakan Janji Ketua KPK

Sebagai pihak yang diduga penerima, empat pejabat KemenPUPR disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 64 ayat (1) ke-1 KUHP.

Sedangkan sebagai pihak yang diduga pemberi, Budi, Lily, Irene Irma, dan Yuliana disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, Juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.(ren/jpc/pojoksatu)

More in Hukum & Kriminal

error: Dilarang copy paste tanpa izin!