Connect with us
Dibaca: 668

Politik

Jateng Sudah Tidak Jadi Kandang Banteng Lagi, Ini Buktinya!

Deklarasi Relawan Prabowo-Sandi Jawa Tengah - Foto: Republika

SWARARAKYAT.COM – Juru Bicara (Jubir) Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga Ferry Juliantono menegaskan Jawa Tengah sudah tidak lagi relevan disebut kandang banteng. Ferry menjelaskan sejumlah alasannya terkait pernyataannya tersebut.

“Pertama Jawa Tengah itu Golkar pernah berkuasa menang dengan suara terbesar, tahun 2009 Partai Demokrat pernah jadi partai terbesar, kemudian 2014 PDIP menang lagi,” kata Ferry di Jakarta, Jumat (14/12).

Kedua, wakil ketua umum Partai Gerindra tersebut juga menyoroti hasil Pilkada Jateng 2018 lalu. Pasangan Sudirman Said-Ida Fauziyah yang diusung Partai Gerindra, PAN, PKS, PKB berdasarkan rekapitulasi KPU memperoleh 41,22 persen, sedangkan pasangan Ganjar Pranowo-Taj Yasin meraup 58,78 persen.

Baca Juga:   Optimis Menang! 11 Gubernur Dukung Jokowi, Pengamat: Kan Masih Ada 23 Gubernur Lain

“Beda kalau Ganjar menang 70 atau 80 persen, itu boleh bilang kandang banteng,” ujarnya.

Ferry juga tidak mengkhawatirkan perbedaan peta dukungan pada Pilkada Jateng 2018 dan Pilpres 2019. Pada Pilkada Jateng 2018, Ida Fauziyah diusung oleh PKB untuk mendampingi Sudirman Said.

Namun pada pilpres kali ini, PKB mendukung pejawat. “Dulu Demokrat mendukung Pak Ganjar sekarang Demokrat mendukung kami, gimana dong?” tuturnya.

Baca Juga:   Ridwan Bae Pimpin Tim Pemenang Jokowi-Ma'ruf Di Sultra

Sebelumnya Direktur Materi dan Debat Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga Sudirman Said juga menegaskan tidak benar jika Jawa Tengah (Jateng) dikuasai sekelompok atau partai tertentu. Ia pun mengungkit-ungkit kembali perolehan suara yang ia peroleh bersama politikus PKB Ida Fauziyah di pilkada Jateng 2018 lalu.

“Saya mengatakan tidak benar kalau Jawa Tengah didominasi warna tertentu, karena ternyata dengan pendekatan yang kemarin tidak maksimal, saya dihambat sana-sini, dicurangi, ditekan, disabotase, dihadang di jalan, 42 persen masih. Itu artinya masyarakat Jawa Tengah mau berubah,” jelas Sudirman usai ditemui diskusi Rabu Biru, di Hotel Ambhara, Jakarta, Rabu (12/12).

Baca Juga:   Prabowo-Sandi Jadi Tamu Istimewa Gus Sholah, Persilakan Gunakan Kamar Hadratussyekh Hasim Asy'ari

Ia juga meyakini politik itu dinamis. Sudirman menjaskan pilkada DKI Jakarta menjadi contoh bagaimana pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Salahuddin Uno yang ketika memperoleh angka survei kecil bisa mengalahkan petahana dan meraih kursi DKI-1 dan DKI-2.

“Terhadap Jawa Tengah yang dikatakan disebut kandangnya kelompok tertentu sudah tidak benar sama sekali, karena Pilkada kemarin membuktikan tidak begitu,” ucapnya.(ren/rep)

More in Politik

error: Dilarang copy paste tanpa izin!