Connect with us
Dibaca: 409

Opini

Jejak Prabowo Dalam Pergerakan Islam

Prabowo Subianto

Oleh: Miftah H. Yusufpati*

Hubungan Prabowo dengan tokoh-tokoh pergerakan Islam sudah terjalin sejak dirinya aktif di ABRI/TNI. Rivalitas Prabowo dengan Luhut Binsar Panjaitan rupanya juga sudah terjadi sejak mereka sama-sama berkarir dimiliter.

JENDERAL Benny Moerdani tentu tidak menyangka bila dirinya berteman dengan perwira yang cinta dengan Islam. Perwira itu adalah Prabowo Subianto. Pada suatu ketika sang Jenderal menyampaikan rencana jahat untuk menghancurkan gerakan Islam secara sistematis kepada sahabatnya itu.

Awalnya, Moerdani menduga akan mendapatkan dukungan putra dari pasangan Prof. Soemitro Djajohadikusumo yang sosialis dan ibunya yang beragama Kristen. Di hadapan Benny, Prabowo tak banyak merespon ide gila itu. Namun diam-diam ia melaporkan langkah-langkah Benny Moerdani kepada mertuanya, Presiden Soeharto. 

Baca Juga:   Pesan Keras Reuni 212 Untuk Jokowi

Tentu saja tidak serta merta Pak Harto percaya dengan laporan itu. Hanya saja, berdasarkan informasi lanjutan yang ia dapatkan sendiri akhirnya ia mempercayainya. Kejadian ini menyebabkan Jenderal Benny Moerdani marah kepada Prabowo. Buntutnya, sang jenderal mengeluarkan Prabowo dari Kopassus menjadi Kepala Staf KODIM (Kasdim), suatu jabatan buangan bagi anggota Kopassus.

Tatkala dikeluarkan dari Kopassus, Mayor Prabowo adalah Wakil Komandan Detasemen 81 yang merupakan pasukan elit dari Kopassus spesial anti-teror, yang dibentuk bersama dengan Letkol Luhut Panjaitan.

Beruntung Prabowo, keputusan ini diubah oleh Jenderal Rudini yang menjabat KASAD pada 1985 yang menempatkan Prabowo Subianto menjadi Wakil Komandan Batalion Infantri Lintas Udara 328, suatu pasukan elit Kostrad yang pernah berjasa menumpas PKI dan berhasil melumpuhkan gerakan Kahar Muzakar pada 1965.

Sejak itu permusuhan Prabowo dengan Moerdani terus membara. Prabowo sangat curiga terhadap langkah-langkah yang diambil Benny Moerdani. Sejak 1985, Prabowo memberikan keyakinan kepada kolega pendukungnya untuk hati-hati terdahap LB Moedani.

Prabowo sering melakukan konsolidasi dengan koleganya sesama perwira menengah yang pro-Islam seperti Mayor Kivlan Zein, Mayor Ismed Yuzairi, Mayor Safrie Syamsuddin dan Mayor Glen Kairupan. Pertemuan kadang dilakukan di rumah Prabowo di Lembang, Bandung. 

Baca Juga:   Menyaksikan Hebatnya Permainan Watak Jokowi

Prabowo juga menghubungi kawan-kawannya, yunior dan senior dalam rangka penguatan diri untuk menghadapi Jenderal Moerdani. Selain juga melakukan pendekatan dengan Komandan SESKOAD Mayjen TNI Feisal Tanjung dan Pangdam V Brawijaya, Mayjen TNI R. Hartono pada saat itu, serta banyak perwira lainnya yang merasa senasib dengannya dan berharap dapat mobilitas vertikal.

Sejak itu pula, Prabowo sering mempromosikan perwira tinggi yang dekat Islam untuk jabatan yang lebih tinggi, segera menggantikan pengikut Jenderal LB Moedani. Misalnya, mengerek Wiranto menjadi ajudan presiden pada 1989.

Ini pula yang membuat Luhut Panjaitan “bermusuhan” dengan Prabowo. Bersamaan dengan itu, Jenderal LB Moedani mempersiapkan penggantinya berturut-turut dari Letjen Sahala Rajagukguk, Mayjen Sintong Panjaitan, Brigjen Theo Sjafe’i, Kolonel Luhut Panjaitan dan Letkol RR Simbolon. 

Baca Juga:   Yusril Ihza Mahendra: Perda Syariah Ada Atau Tidak Ada

“Perang dingin” antara kelompok Prabowo dengan kelompok Luhut Panjaitan untuk mobilitas vertical pun dimulai. Satu sama lain berusaha menghambat karir pihak lawannya dengan isu-isu miring untuk menggagalkan kenaikan pangkat dan jabatan.

Pelan tapi pasti, Prabowo terlibat aktif dalam memasukkan perwira muslim untuk menggantikan kader-kader LB Moerdani di tubuh petinggi ABRI. Pada 27 Desember 1990, faksi Prabowo memperkenalkan Mayjen Feisal Tanjung kepada Azwar Anas yang saat itu menjabat Menteri Perhubungan, untuk mengisi pos strategis.

Azwar Anas melaporkan perihal Feisal Tanjung kepada Pak Harto bersamaan laporan rencana peresmian Stasiun Gambir pada 8 Juni 1992. Sehari setelahnya, 9 Juni 1992, Mayjen Feisal Tanjung diangkat menjadi Kasum ABRI dengan pangkat Letjen dan akhirnya menjadi Panglima ABRI pada 21 Mei 1993. 

Baca Juga:   Potensi Titik Balik Jokowi

Ada peristiwa menarik pada musim haji 1991, ketika itu seluruh keluarga besar Pak Harto yang meliputi anak, menantu dan cucu, termasuk Letjen Wismoyo Arismunandar (ipar Pak Harto yang saat itu menjabat sebagai Pangkostrad) menunaikan ibadah haji. Orang dekat Pak Harto semuanya tak ada di Jakarta, sementara Panglima ABRI dijabat Try Sutrisno, KASAD oleh Edi Sudrajat, dan Menhankam oleh LB Moerdani.

Prabowo merasa khawatir akan terjadi dinamika politik atau manuver politik dari lawan-lawan politik Pak Harto pada saat mereka berada di Tanah Suci. Itu sebabnya, sebelum berangkat ke Tanah Suci, Prabowo mengumpulkan rekan-rekannya di rumahnya untuk brainstorming membicarakan perkembangan situasi dan berbagai kemungkinan keadaan.

Bila terjadi dinamika politik, yang mengarah pada gerakan inkonstitusional, Prabowo meminta kawan-kawannya untuk mengatasi keadaan dalam tempo 1 x 24 jam. Jika sampai pada kemungkinan terburuk, Prabowo bersama Letjen Wismoyo akan segera kembali dengan menggunakan privat jet yang akan mendarat di Nusa Wungu Cilacap. Dalam diskusi itu hadir Sjafrie Sjamsoeddin, Ryamizard Ryacudu, Ampi Nurkamal, Gleni Kairupan dan Kivlan Zen.

Baca Juga:   PA 212: Prabowo Pasti Kalah, Karena Tidak Sesuai dengan Keinginan Allah

Demikian khawatirnya Prabowo dengan keadaan pada saat itu hingga ia merancang langkah darurat sebelum keberangkatan keluarga besar Pak Harto menunaikan ibadah haji. Tapi, kekhawatiran Prabowo ini tidak terjadi. Ini juga membuktikan Pak Harto cukup jeli melihat kondisi saat itu.

Pada 1993, Sidang Umum MPR memilih kembali Pak Harto sebagai presiden dan untuk mendampingi Pak Harto, Prabowo menginginkan B.J. Habibie, sesuai hasil pemilihan oleh Panitia 11 yang dibentuk oleh Pak Harto untuk menyaring calon wakil presiden.

Namun Fraksi ABRI Letjen Harsudiono Hartas dengan cepat mengajukan Try Sutrisno sebagai wakil presiden. Hal itu dilakukan agar tidak terjadi kegagalan sebagaimana kasus Jenderal LB Moerdani pada 1988. Hasil Panitia 11 menempatkan BJ Habibie sebagai peraih suara mayoritas untuk menjadi wapres, sementara Try Sutrisno berada di posisi ketiga, setelah Soesilo Sudarman. Di sinilah Pak Harto mengalah, Try akhirnya menjadi Wapres, selanjutnya Edi Sudrajat ditunjuk sebagai Pangab merangkap Menhankam dan KASAD pada 12 Maret 1993. 

Baca Juga:   Viral! Hapalan Pancasila Bocah Ini, Sila Kedua Berubah, Prabowo Harus Lihat Ini

Sementara itu, Letjen Wismoyo Arismunandar tetap menjadi Wakasad dan Letjen Feisal Tanjung sebagai Kasum ABRI, jabatan yang lebih senior dari Wakasad. Pada 21 Mei 1993, secara tiba-tiba, Pak Harto mengangkat Letjen Feisal Tanjung sebagai Panglima ABRI, pengangkatan ini dilakukan tiga hari lebih dulu ketimbang pengangkatan Jenderal Wismoyo sebagai KSAD, sehingga Feisal Tanjung lebih senior dalam jabatan.

Hal ini menjadi surprise bagi Prabowo karena ia melihat Jenderal Feisal Tanjung dapat mendukungnya dalam rangka pembersihan pendukung LB Moerdani yang mulai menunjukkan kekuatan untuk menjatuhkan Pak Harto.

Saat Jenderal Edi Sudrajat menjabat sebagai Panglima ABRI (12 Maret-21 Mei 1993) telah terjadi mutasi besar-besaran.

Mayjen R. Hartono ditempatkan pada “kotak mati” sebagai Komandan SESKO. Begitu Feisal Tanjung diangkat menjadi Pangab, Mayjen Hartono diangkat menjadi Gubernur Lemhanas, sebuah jabatan bintang tiga. 

Baca Juga:   Fakta Kepala Desa Ditangkap yang Disebut Prabowo di Debat, Tapi Jokowi Anggap Fitnah

Kemudian, pada 1994 ia menggantikan Letjen Hayoto PS sebagai Kasosspol ABRI. Pada 1995, Hartono naik lagi menjadi KASAD, dengan Panglima ABRI Feisal Tanjung maka dua perwira tinggi ABRI yang dekat dengan kalangan Islam pada pucuk pimpinan ABRI. Dua jenderal itu mendapat julukan duet jenderal santri.

Bersamaan dengan naiknya Jenderal Feisal dan Jenderal Hartono, dibentuklah sebuah lembaga think thank, CPDS (Center for Policy and Development Studies) atas prakarsa beberapa perwira antara lain Letkol Prabowo Subianto, Letkol Syamsul Maarif, Letkol Adityawarman Thaha, Letkol Kivlan Zen, dan dari kalangan intelektual sipil seperti Din Syamsuddin, Amir Santoso, Jimly Asshidiqie, serta beberapa intelektual muda lainnya.

Lembaga ini dibentuk dengan maksud memberikan masukan-masukan sosial-politik, ekonomi, dan budaya kepada Mabes ABRI/TNI-AD dan pemerintah. Lembaga ini juga dimaksudkan menjadi media dialog antara sipil dan militer dan diharapkan menjadi alternatif lain dari CSIS yang merupakan thik thank Orde Baru sejak 1971.

Pada 1997, Jenderal Hartono digantikan Jenderal Wiranto dan Maret 1998 Feisal Tanjung juga digantikan Wiranto. Sementara itu, KASAD yang dijabat Subagyo HS dan Pangkostrad dijabat Letjen Prabowo Subianto. Sejak itu, tentara dipimpin oleh kalangan santri yang sangat dekat dengan umat Islam.

Firdaus Syam dan Ahmad Suhelmi dalam “Ahmad Sumargono: Dai & Aktivis Pergerakan Islam yang Mengakar di Hati Umat” mengungkap pada saat itu hubungan ABRI dengan kalangan Islam eks-Masyumi, termasuk dengan KISDI, menjadi mesra.

Baca Juga:   Isu Prabowo Rayakan Natal Bersama Keluarga Besar Hoax, Ini Buktinya!

Sumargono memiliki kedekatan khusus dengan Letjen (TNI) Prabowo Subianto, Letjen Hendropriyono, Jenderal Subagio HS, Mayjen Muchdi PR, Mayjen Syafrie Syamsuddin dan Mayjen Kivlan Zen. Mereka disebut sebagai perwira santri.

Empat nama terakhir adalah alumni Pelajar Islam Indonesia (PII) yang secara historis dan kultural orientasi Islam politiknya “berkiblat” kepada Masyumi. Tidak pernah terjadi dalam sejarah, hubungan Islam dan negara selama ini di mana Markas Kopassus di Cijantung itu dibanjiri umat Islam seperti ketika Kopassus dipimpin Mayjen Prabowo Subianto.

Tanpa sungkan, Prabowo menunjukkan keberpihakannya kepada Islam. Dalam kesempatan pertemuan di Mako Kopassus—di hadapan massa Islam—Prabowo bahkan bertakbir berkali-kali.

Sumargono menjelaskan, Prabowo memang banyak memiliki kedekatan dengan tokoh-tokoh Islam termasuk tokoh eks-Masyumi seperti Anwar Haryono dan dirinya. Sebagai sahabat, Sumargono pernah memberikan nasihat kepada Prabowo untuk tidak ragu berpihak kepada umat Islam, sekalipun di kalangan Islam masih terdapat keraguan tentang komitmen Prabowo terhadap Islam. Ini karena ayahnya, seorang sosialis sedang ibunya beragama Kristen.

Atas nasihat itu, Prabowo tidak marah atau tersinggung. Ia justru menanggapi nasihat Sumargono dengan baik. Sumargono berkenalan dengan Prabowo melalui Syafrie Syamsuddin –mantan Pangdam Jaya. 

Baca Juga:   Rp 38,5 Triliun Dana Haji Sudah Dipakai Pemerintah Jokowi

Sumargono berhubungan dengan Prabowo dalam rangka kegiatan KISDI, rupanya, Prabowo tertarik dengan kegiatan dakwah. Prabowo akrab dengan siapa saja, baik dari kalangan agama maupun kelompok lainnya. Demikian pula sikap yang sama diperlihatkan Syafrie Syamsuddin, Muchdi PR dan Kivlan Zen. Mereka adalah perwira-perwira muda yang berbakat.

Kini, tokoh-tokoh pergerakan Islam meyakini bahwa Prabowo akan kembali membuktikan bahwa dirinya tetap membela Islam dan umat Islam. Prabowo sudah membuktikan hal itu di masa lampau.

*Penulis adalah wartawan senior, penulis buku HM Soeharto Membangun Citra Islam

Advertisement

Penulis

Advertisement

More in Opini

error: Dilarang copy paste tanpa izin!