Connect with us
Dibaca: 838

Nusantara

Kelakuan Para Imigran Gelap China di Morowali Ini Bikin Geram Warganet

Imigran China di Morowali melawan petugas - Foto: Screenshot Video

SWARARAKYAT.COM – Kelakuan para imigran China di Kabupaten Morowali Sulawesi Tengah (Sulteng) ini membuat geram warganet.

Pasalnya, mereka diduga tidak memiliki dokumen lengkap alias imigran gelap, tetapi berani melawan petugas.

Seperti yang terekam dalam video berdurasi 39 detik ini. Para imigran yang terlihat masih muda, marah-marah kepada petugas.

Baca Juga:   Jokowi Disambut Meriah Rakyat Yogyakarta? Netizen: Eh, Jokowi Kok Gemukan, Gagah Lagi

Kawasan Industri Morowali

Morowali menjadi surga bagi para pekerja China. Data yang dikeluarkan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) tercatat jumlah TKA China saat ini 3.121 orang.

Dari data resmi, angka TKA China sudah mencapai ribuan di Morowali. Kawasan IMIP saat ini ada sekitar 16 perusahaan.

Baca Juga:   Ribuan Warga Banten dan Ormas BPPKB Siap Hadir dan Amankan Reuni Akbar Alumni 212

Mereka terdiri dari perusahaan-perusahaan hilirisasi NPI, hingga anak perusahaan IMIP yang bergerak dalam bidang pengelolaan pelabuhan hingga jasa keamanan.

Dari 16 perusahaan itu total TKA di IMIP mencapai 3.121 orang. Paling banyak perusahaan yang memakai TKA China adalah PT Indonesia Guang Ching Nickel & Stainless Steel Industry sebanyak 833 orang. Lalu ada PT Sulawesi Mining Investment (SMI) sebanyak 597 orang dan PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel sebanyak 556 orang.

Dari ribuan TKA China, mengundang imigran gelap lainnya, yang tidak tercatat sebagai pegawai resmi. Hal ini tentu menjadi problem pemerintah dalam mengatasi masalah ketenagakerjaan asing.

Baca Juga:   Diduga Langgar Undang-Undang Pemilu, Ma'ruf Amin Dilaporkan ke Bawaslu

Potensi Morowali

Tanah dibeberapa Kecamatan di Morowali kaya akan nikel. Hal ini mengundang ratusan perusahaan asing dan dalam negeri berebut mencari nikel di Morowali.

Salah satu contohnya di Kecamatan Bahodopi, Bungku Selatan, Bungku Pesisir, dan wilayah lainnya di Morowali yang kaya akan nikel.

Pelabuhan penampungan orb PT Gema Ripah Pratama yang berada di kawasan Cagar Alam Morowali dan beririsan dengan Teluk Tomori. Hutan mangrove sepanjang 1.200 meter habis dibabat dan ditimbun pasir kerikil. Foto: Jatam Sulteng

Permukaan tanah dengan mudah dijumpai nikel. Kiri-kanan jalan. Baik yang berada dekat pantai atau pun kawasan hutan. Pelabuhan-pelabuhan kecil dengan kapal yang masih tersandar terlihat jelas.

Tumpukan ore (bahan mentah nikel) membentuk bukit seperti sedang baris-berbaris. Dengan mata telanjang semua pemandangan tersaji di pinggir jalan.

Baca Juga:   Berharap Perhatian Pemerintah, Warga Protes: Walikota Palu Jangan Sembunyi

Aktivis Lingkungan di Sulteng, Andika mengatakan sejarah pertambangan nikel di Morowali dimulai sejak lama.

Ia menyebut di tahun 1600-an, perdagangan biji besi bercampur nikel sudah dilakukan. Ini mengalahkan reputasi besi dari China maupun pembuatan keris oleh pengrajin di pulau Jawa.

Dalam penelitiannya, Andika menjelaskan bahwa pemanfaatan galian bahan-bahan mineral diperkirakan telah dipraktikan oleh kerajaan Mori, sebuah kerajaan besar di Morowali.

Telah ada aktivitas perdagangan tembaga pada kerajaan pedagang Belanda dan Inggris di Pelabuhan Kolonedale tahun 1600-an.

Baca Juga:   Sudah Akui Bohong, Ratna Sarumpaet Umumkan Mundur dari Timses Prabowo-Sandi

Ketika itu, perang pecah dengan kerajaan Luwu. Kerajaan Mori berhasil ditaklukan. Banyak orang Mori dimanfaatkan keterampilannya untuk membuat tembaga dan diperdagangkan dengan kerajaan Majapahit di tanah Jawa.

β€œSaat itu, usaha-usaha pemanfaatan sumber daya mineral dilakukan secara tradisional. Belum mengenal suatu konsep ekstraktif yang haus lahan.

Bahan tambang diusahakan dalam galian skala kecil memanfaatkan sifat mineral yang laterit atau berada dipermukaan untuk usaha penempahan besi dan perdagangan logam senjata.

Baca Juga:   BENDERA TAUHID DIBAKAR, BUKTI KEDANGKALAN PEMAHAMAN DAN KEBENCIAN TERHADAP SIMBOL AGAMA ISLAM

Terutama, bagi kebutuhan peralatan perang misalnya, mata tombak, pedang, dan yang terbuat dari tembaga. Usaha itu dilakukan melalui keterampilan melebur besi,” ungkap Andika dikutip Mongabay. (Ren)

More in Nusantara

error: Dilarang copy paste tanpa izin!