Connect with us
Dibaca: 385

Sosial Media

Kepada Jokowi, Professor Asal Bulukumba: Sumpah Ini Akan Hantui Bapak Sampai Akhirat

Mochtar Pabottingi - net

SWARARAKYAT.COM – Cendekiawan asal Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, Prof Dr Mochtar Pabottingi awalnya mendukung Jokowi. Belakangan, dia mulai berubah pikiran. Sampai-sampai dia berani bersumpah.

Lewat akun Twitternya, Mochtar kembali menegaskan sumpah yang pernah dia ucapkan tahun lalu.

“Saya bersumpah demi Allah takkan lagi memilih Jokowi presiden pada 2019 jika dia tetap tak memerintahkan pembentukan TGPF atas Kasus Novel (Baswedan),” tegas doktor jebolan Universitas Hawaii, Honolulu, Amerika Serikat ini pada 7 September 2017.

Hari ini, Kamis (27/12/2018), peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) itu kembali mengingatkan Jokowi tentang sumpahnya. 

Baca Juga:   Jokowi Tak Akan Bagi-bagi Sepeda Lagi, Ini Alasannya

“Presiden budiman! Sumpah saya untuk tak ikut memilih Bapak pada Pilpres 2019 jika Bapak tak memerintahkan pembentukan TGPF atas Kasus Novel pastilah amat gampang diabaikan,” cuitnya.

“Namun jika tak dipenuhi, sumpah itu bisa terus menghantui Bapak sampai ke akhirat. @jokowi,” lanjut sastrawan kelahiran Bulukumba tahun 1945 tersebut. 

Baca Juga:   Polling Netizen Ini Kontroversi Gunakan Istilah Tukang Kayu dan Tentara Kopassus

Mochtar dikenal sangat konsen terhadap kasus penyiraman air keras yang dialami Novel Baswedan pada 11 April 2017 usai salat subuh. Hingga saat ini, tidak ada titik terang siapa pelakunya.

Yang lebih memprihatinkan, penyidik senior KPK tersebut sempat diserang dengan berbagai fitnah. Hal inilah yang membuat Prof Mochtar Pabottingi kesal.

“Hanya kalangan iblis yang tega melancarkan fitnah-fitnah keji atas Novel kala ‘binatang’ penyiram air keras ke mukanya belum juga diungkap,” cuitnya. 

Baca Juga:   Beri Kuliah di Seoul, Jokowi Cerita Aksinya Naik Motor Terbang di Asian Games

“Yaa Allah, timpakanlah kutukMu atas siapa pun yang terus menggandakan kezaliman terhadap Novel di atas kezaliman yang masih ditanggungnya,” sambung peneliti senior LIPI ini.

Makanya, dia mendesak Presiden Jokowi membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) untuk menyelidiki dan mengungkap kasus kekerasan yang dialami Novel Baswedan tersebut. Namun, hingga kini usulan itu diabaikan. (Ren/RT)

More in Sosial Media

error: Dilarang copy paste tanpa izin!