Connect with us
Dibaca: 495

Ekonomi

Kepala Bappenas: Untuk Apa Banggakan Unicorn, Produknya Semua Impor

Balon unicorn tampil menyolok di acara Konvensi Rakyat untuk capres 01 di SICC Sentul, Bogor (24/02/2019). Foto: Antara

SWARARAKYAT.COM – Perusahaan marketplace yang menyandang gelar Unicorn saat ini diminta agar terus mendorong inovasi agar barang konsumsi impor bisa dikurangi penjualannya.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro mengingatkan agar bahwa barang impor masih menguasai produk e-commerce yang dijual di marketplace Indonesia. Ini menjadi salah satu penyebab impor barang konsumsi sepanjang tahun 2018 melonjak hingga 22,03 persen year-on-year (yoy).

Baca Juga:   Izin Reklamasi Dicabut Anies, PT Jakpro: Kerugian Jadi Melamun Saja
Baca Juga:   Jokowi: Empat Tahun Pemerintah Kerja Keras Bangun Pondasi Ekonomi Baru

“Jangan sampai bangga unicorn, ternyata impor,” kata Bambang dalam Rapat Kerja Nasional Kementerian Perdagangan di Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat, Selasa (12/03/2019).

Saat ini, dua dari unicorn asal Indonesia memang merupakan marketplace dari e-commerce yaitu Bukalapak dan Tokopedia.

Baca Juga:   Hendrik Tio: Unicorn bukan Target tapi Perjalanan, Begini Strategi Bhinneka Meraihnya

Sebelum Bambang, Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah, Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih mengatakan 90 persen dari produk yang dijual di seluruh marketplace perdagangan online atau e-commerce Indonesia adalah barang impor.

Meski industri e-commerce tumbuh pesat, peran dari produk lokal ternyata masih sangat kecil.

Baca Juga:   Banyak Warga Jadi Korban Penipuan Rumah Bersubsidi Jokowi, Ini Buktinya!

“Produk dalam negeri hanya 10 persen,” kata Gati saat ditemui di acara 9.9 Super Shopping Day di Jakarta Pusat, Selasa, 4 September 2018. Untuk itu, kata dia, Kementerian Perindustrian terus bekerja sama dengan sejumlah marketplace agar proporsi produk lokal, terutama produk industri kecil dan menengah, bisa meningkat.

Untuk itu, Bambang meminta Kementerian Perdagangan ikut berbicara dengan pelaku e-commerce ini agar lebih memperhatikan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) tanah air. Jika dibiarkan, Bambang khawatir akan ada gejolak karena produk UMKM menghilang, bukan karena melemahnya sektor ritel, tapi karena produk mereka disapu oleh barang impor yang dijual online.

Baca Juga:   Pak Jokowi, Bayarlah Utang ke Rakyat Riau Rp2,6 Triliun

Bambang pun menyayangkan bahwa beberapa barang impor yang dijual di marketplace tanah air adalah barang yang sebenarnya bisa dibuat di Indonesia. Bagi dia, pemerintah tidak ingin juga produk UMKM lokal menguasai hingga 100 persen. “Ya paling enggak 50 persen-lah, Kemendag coba tolong ini,” ujarnya.

Tempo pernah mengkonfirmasi ini kepada salah satu marketplace di tanah air yaitu Shopee. Menurut Head of Government Relations Shopee Indonesia, Radityo Triatmojo mengatakan saat ini ada 2 juta lebih pedagang aktif di Shopee. Namun, Shopee belum melakukan validasi detail terhadap jutaan pedagang tersebut, apakah sebagai produsen sekaligus penjual atau hanya reseller yang menjual produk impor dan lokal. Seperti dikutip dari Tempo.

Baca Juga:   Seiring BI Perkenalkan Pasar NDF, Rupiah Menguat Di Kisaran Rp14.785

Sebab, variabel yang digunakan di Shopee baru sebatas pendapatan pedagang per tahun. “Ada beberapa yang kami tanya, tapi enggak bisa validasi satu per satu,” ujar Radityo, Selasa, 4 September 2018.

Radityo mengatakan komitmen Shopee untuk memperkuat produk dalam negeri bukan hanya lewat Kampus Shopee, namun juga lewat kategori Kreasi Nusantara. Di platform khusus yang ada di aplikasi ini, Shopee melakukan kurasi produk lokal yang dijual. Syarat untuk masuk ke dalam kategori ini adalah produksi dalam negeri atau merek dalam negeri. (sta)

Baca Juga:   Ketum Muhammadiyah: Ngakunya Aku Indonesia, Cinta Pancasila, Tapi Mafia Impor Merajalela

More in Ekonomi

error: Dilarang copy paste tanpa izin!