Connect with us
Dibaca: 444

Peristiwa

Ketua Budha Bertanya Soal “Kafir”, Begini Jawaban dan Penjelasan Habib Rizieq

SWARARAKYAT.COM – Seorang Ketua Majelis Umat Budha memberanikan diri bertanya kepada Imam Besar FPI, Habib Rizieq Syihab soal pengertian kata “Kafir”.

Sebab, selama ini, ia hanya mendengar dari media terkait ceramah Habib Rizieq dan mendapat informasi dari berbagai pihak soal pengertian kata “Kafir”.

Untuk meluruskan apa yang dirinya pahami soal “Kafir”, maka dalam sebuah kesempatan dialog yang dihadiri Habib Rizieq, Ketua Majelis Budha tersebut datang untuk meminta penjelasan secara langsung. Sekaligus pertama kali dirinya bertatap muka dengan Habib Rizieq.

Baca Juga:   Jelang Reuni Alumni 212, Ini Imbauan Lengkap Habib Rizieq dan Anies Baswedan Siap Hadir

Dalam kesempatan itu, Habib Rizieq memberikan jawaban secara rinci dan penjelasan terkait sebutan “Kafir”.

“Kafir itu dari bahasa Arab, dari kata kufrun, huruf kaf, fa, dan ro. Kufrun ini pengertian secara bahasa itu adalah pengingkaran atau kedurhakaan,” kata Habib Rizieq.

“Jadi, siapa-siapa manusia yang mengingkari akan adanya Allah SWT, mengingkari Kenabian Muhammad, mengingkari Al-Quran, mengingkari hukum Tuhan, bagi umat Islam, saya garis bawahi, bagi umat Islam, mereka disebut kafir,” beber Habib Rizieq.

Baca Juga:   Tahun 2015 Silam, Netizen Ini Sebut Jembatan Kuning Bakal Patah oleh Gelombang Tsunami, Kini Terbukti

Berikut penjelasan lengkap dari Habib Rizieq :

“Kafir ini istilah, saya pikir, kalau ada umat beragama lain yang menganggap umat diluar agama mereka atau kafir kepada keyakinan mereka, secara bahasa itu sudah benar.

Yang menjadi persoalan adalah, bagaimana kata itu jangan digunakan untuk penistaan. Ini yang penting, yang musti kita jaga.

Oleh karena itu, dalam kesempatan ini, saya senang sekali ada pertanyaan ini. Saya ingin memisahkan antara pluralitas dan pluralisme. Ini kadang-kadang suka rancu.

Ada Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa secara resmi, bahwa pluralisme itu hukumnya adalah haram. Tapi disalahartikan oleh sebagian kelompok masyarakat.

Mereka menuduh kalau MUI ini intoleran. Oleh karena itu, disini yang perlu diluruskan bagi kami umat Islam, ada istilah pluralitas, ada istilah pluralisme.

Pluralitas ialah kebhinekaan, kemajemukan, keragaman. Dan kita umat-umat Islam ini terdiri dari bermacam-macam suku, budaya, adat istiadat, termasuk agama. Maka ini dalam agama Islam disebut pluralitas.

Pluralitas ini wajib dihargai. Jadi pluralitas ini karena memang dihargai. Kenapa? Karena ini merupakan keniscayaan yang tidak mungkin dalam kehidupan manusia, umat manusia ini disatukan dalam satu aqidah, satu agama, satu suku, satu bangsa, dan satu”.

Baca Juga:   Wow! Puisi Sunda Pecah Rekor Muri Terbanyak 2018

Kemudian, Habib Rizieq mengutip ayat Al-Quran yang menegaskan dalil tentang keberagaman dalam Islam.

“Oleh karena itu, Islam menerima puralitasl sebagai satu keniscayaan yang harus dihargai, yang harus diakui keberadaannya, dan wajib kita menjaga toleransi antar perbedaan-perbedaan. Itu pluralitas.

Sedangkan pluralisme dalam pemahaman MUI yang sudah disebar luaskan kemana-mana, itu adalah satu isme, suatu pemahaman, keyakinan, kepercayaan, yang mengatakan semua agama sama.

Sehingga mereka melarang umat agama lain, apapun, bukan hanya Islam, umat agama manapun mengklaim agamanya benar dan paling benar, agama lain salah, ini pluralisme.

Sedagkan bagi agama Islam, setiap manusia, apapun agamanya, dia berhak meyakini agamanya yang benar dan paling benar. Dan dia tidak boleh dipaksa membenarkan agama lain yang dia tidak yakini.

Jadi bagi kami, biarkan orang Islam meyakini agama yang benar adalah Islam dan paling benar adalah Islam. Diluar Islam itu tidak benar, itu hak dia.

Begitu juga biarkanlah seorang Kristiani, seorang Budha, seorang Hindu, meyakini agamanya benar dan paling benar. Diluar agama Budha tidak benar. Itu hak dia untuk berkeyakinan, dan untuk beragama.

Tidak boleh seorang muslim memaksa orang Budha untuk mengakui kebenaran Islam. Dan nggak boleh seorang Budha memaksa orang Islam untuk mengakui kebenaran Budha.

Jadi disini biarkan masing-masing umat beragama itu bebas meyakini, bebas beragama, bebas mengklaim agamanya paling benar. Yang penting dia tidak boleh menghina agama lain.

Jadi silakan saja umat Kristiani menganggap bahwa umat Islam itu adalah kafir terhadap Yesus Kristus, atau kafir terhadap ajaran Injil dan lain sebagainya. Itu hak mereka untuk menggunakan istilah tersebut.

Baca Juga:   Video Keranda dan Mayat Jatuh ke Empang Viral, Begini Pendapat Warganet

Tapi jangan menggunakan istilah tersebut untuk menghujat, untuk mencaci-maki. Jadi jangan juga sampai dalam rangka untuk menjaga toleransi akhirnya definisi kafir jadi ubah-ubah. Ini nanti akan membuat ketersinggungan diantara umat beragama.

Artinya begini, umat islam mengatakan orang diluar Islam disebut kafir. Dan umat Islam dipaksa untuk mengatakan diluar Islam itu bukan kafir. Ini akan terjadi konflik yang luar biasa dalam soal kehidupan”.

Nah, untuk selengkapnya, silakan pembaca tonton videonya diatas. (Ren)

More in Peristiwa

error: Dilarang copy paste tanpa izin!