Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Connect with us
Dibaca: 172

Politik

Korban Penculikan Aktivis, Cak Nun: Mereka Berterimakasih Kepada Prabowo

Jakarta – Pasca Capres dan Cawapres masing-masing diumumkan, kubu Prabowo Subianto kembali diterpa isu soal tragedi penculikan aktivis pada tahun 1997-1998.

Sebuah video Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun yang menceritakan tentang Prabowo saat aksi penculikan pun diunggah di youtube pada 11 Agustus 2018 lalu.

Di awal video tersebut, Cak Nun langsung menyebut bahwa Prabowo Subianto adalah salah satu yang diperintah untuk mengantisipasi kelompok-kelompok aktivis pada tahun 1997.

“Prabowo itu salah satu yang diperintah, jadi ada beberapa satuan yang diperintah untuk mengantisipasi kelompok2 aktivis pada tahun 1997,” kata Cak Nun dalam video tersebut.

Namun, Cak Nun menyebut Prabowo Subianto mendapat kesialan saat menjalankan perintah tersebut.

“Nah sialnya, Prabowo itu ketika dia menculik tapi tidak dimusnahkan, terus jadi orang hilang itu. Yang diculik oleh pasukannya Prabowo ini dikembalikan ke masyarakat. Makanya sekarang mereka ikut Gerindra. Memang diculik, tapi ora dipateni. ngono loh, iki salahe dee neng kene kui (itu salahnya dia disitu itu). Kudune dipateni ora ono masalah wes, sebagaimana kelompok-kelompok yang lain. Makanya Pius (Pius Lustrilanang), Haryanto Taslam, mereka ikut Gerindra sejak awal, mereka berterima kasih kepada Prabowo ngono loh,” kata Cak Nun.

Haryanto Taslam kini telah meninggal dunia. Di meninggal di Jakarta pda 14 Maret 2015 pada usia 60 tahun.

Dari laman wikipedia, Haryanto Taslam disebut biasa dipanggil “Hartas” adalah seorang tokoh politik yang dikenal sebagai mantan aktivis era reformasi 1998 dan menjadi salah satu korban penculikan bersama dengan sejumlah aktivis demokrasi pada periode 1996-1998 seperti, Desmond Junaidi Mahesa, Pius Lustrilanang, Faisol Reza, Rahardjo Walujo Djati, Nezar Patria, Aan Rusdianto, Mugianto, Andi Arief.

Baca Juga:   Atribut Dirusak, Wasekjen Demokrat: Jaman Orde Baru Atribut PPP dan PDI Tetap Tampil Tanpa Dirusak

Sebelumnya ia juga pernah menjadi Pemimpin Perusahaan Tabloid Detik yang dibredel pada 21 Juni 1994.

Selain itu, ia juga pernah bergabung dengan partai PDI perjuangan dan menjadi anggota DPR periode 1999-2004 dari PDIP.

Kenangan dan pemikirannya sempat dituangkan dalam sebuah buku yang berjudul ’40 Hari Digenggam Kekuasaan’, terbitan Forum Indonesia Maju dan diterbitkan pada tahun 2008.

Buku tersebut berisi pengalaman pribadinya pada saat penculikan selama 40 hari tahun 1998.

Hubungan Haryanto Taslam dengan Gerindra baru terjalin pada tahun 2009. Dia berpindah dari PDIP ke Partai Gerindra.

Di Partai Gerindra yang didirikan Prabowo Subianto, Haryanto Taslam aktif sebagai Direktur Media Center di partai ini.

Selanjutnya sejak tahun 2012, Hartas menjadi Dewan Pembina di Partai Gerindra.

Sementara itu Pius Lustrilanang juga terjun ke politik dengan masuk ke partai Gerindra.

Berdasarkan laman wikipedia, pada pemilu tahun 2009, Pius berhasil menjaring suara yang cukup untuk mengantarkannya duduk di kursi DPR RI sebagai wakil rakyat yang telah memilihnya untuk periode tahun 2009-2014.

Simak video Cak Nun di video ini :

Loading...

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

More in Politik