Connect with us
Dibaca: 113

Opini

Manipulasi Berebut Kursi

Ilustrasi Gambar - Foto: RMOL

Oleh: Anisa Fitri Mustika Bela 

Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta

Manipulasi demokrasi berteriak lantang berkedok aspirasi, pengumbar janji dan program suci. Lihat! Semuanya rebutan kursi, semua berebut kursi. Semua dimanipulasi untuk kepentingan pribadi. Isi pikiran dihancurkan dibenamkan gagasan penuh rekayasa dan penyembunyian realita. Ketika semua hampir percaya keuntungan baginya mendulang suara.

Dunia politik penuh dengan intrik, ada yang mengilik-ngilik, menghardik dan manipulasi. Iluni UI terseret dalam dunia penuh intrik bernama politik praktis. Dikira ajukan deklarasi mendukung Jokowi-Ma’ruf, Iluni UI ajukan somasi. Arief Budhy Hardono selaku Ketua Umum Iluni UI, dalam surat somasi yang ditandatangani pada 12 Desember 2018 menegaskan bahwa Iluni UI secara kelembagaan tidak akan dan tidak pernah terlibat dalam politik praktis.

Somasi dilakukan setelah beredarnya poster acara deklarasi Iluni UI mendukung Jokowi-Ma’ruf yang digelar pada Sabtu, 12 Januari 2019 bertempat di Plaza Pintu Senayan Gelora Bung Karno dengan latar kuning dan terdapat foto Arief Budhy Hardono serta beberapa orang berjaket kuning. 

Baca Juga:   Viral! "Banser Sedang Coba Mensuriahkan Indonesia"

“Silakan saja jika dukungan atas nama pribadi alumni UI kepada Pak Jokowi ataupun Pak Prabowo, karena itu adalah bagian dari demokrasi. Tapi jangan sekali-kali mengatasnamakan Iluni UI. Kami siap memberikan somasi.” Kata Arief kepada indopos (13/1/2019).

Jreng! Mengejutkan, ketika tanggal 12 Januari 2019 yang datang untuk melakukan deklarasi dukungan dengan kaos kuning bertuliskan “We Are Alumni For Jokowi” ternyata bukan merupakan alumni perguruan tinggi, melainkan kelompok relawan pendukung jokowi (PROJO) yang berasal dari Cibitung, video kejadian itu tersebar luas di media maya membuat warga net geger. Muncul juga video lainnya yang menunjukkan bahwa acara deklarasi tak murni dihadiri alumni perguruan tinggi saja, melainkan juga diikuti relawan yang sudah di briefing sebelumnya. (portal-islam.id).

Banyak yang sudah termakan manipulasi sampai-sampai Alumni dari Universitas Trisakti juga hendak mendeklarasikan dukungan pada Jokowi-Ma’ruf pada bulan Februari. Muhanto Hatta alias Ancho, ketua Trisakti For Jokowi menyatakan pihaknya sudah mendapatkan 500 dukungan alumni Trisakti yang tergabung dalam Trisakti For Jokowi dari lintas angkatan dan fakultas. Semestinya lembaga pendidikan seperti Universitas bersikap netral terhadap pemilu, tetapi akibat satu buah narasi manipulasi kini banyak alumni universitas ikut-ikutan deklarasi. (tribunnews.com) 

Baca Juga:   RAKYAT DIKURAS TARIF LISTRIK

Inilah buah sistem demokrasi, apa saja bisa jadi jalan tuk dapatkan kursi. Menjilat, menghasut, dan memperkosa hak-hak sewajarnya, itulah realita politik demokrasi yang disenandungkan Iwan Fals dalam lagunya yang berjudul sumbang. Sampai-sampai penyanyi senior itu menpertanyakan Apakah selamanya politik itu kejam? Apakah selamanya dia datang tuk menghantam? Ataukah memang itu yang sudah digariskan.

Politik memang kejam, ketika demokrasi jadi sistemnya. Politik datang tuk menghantam ketika definisi politiknya adalah berebut kekuasaan. Dan politik begini adalah ciri khas demokrasi yang sudah bobrok semejak asalnya karena sekulerisme landasannya, barang tentu nafsu jadi tuannya. Alhasil segala cara dihalalkan demi meraih kekuasaan, termasuk membangun opini dengan hoax. 

Baca Juga:   Dugaan Korupsi Impor Pangan Berdasarkan Hasil Audit BPK

Akibatnya, kepemimpinan yang muncul dari sistem ini pun akan rusak dan rapuh.
Zaman berubah, Orla, Orba sampai reformasi. Wajah berubah kok menjadi lebih susah. Kemiskinan merajalela. Yang kaya makin rakus saja. Hukum dan kesehatan diperjual belikan. Ada rakyat lapar yang makan daun dan arang sementara televisi sibuk iklan. Rakyat jelata menatap dengan mata kosong dimana kesejahteraan. Potret buram rapuhnya kepemimpinan yang dibangun atas pilar sekulerisme yang kini bahkan sampai minus visi misi.

Jauh sekali dengan potret gemilang kepemimpinan Islam yang dibangun berlandaskan akidah dan berkedaulatan syara. Peradaban paling besar di dunia selama kurun 800-1600 M mampu mempersatukan berbagai macam suku bangsa, ras dan agama dengan satu ikatan kokoh yakni Akidah Islamiyyah tanpa pandang strata sosial yang membedakan hanyalah ketakwaan. Tidak ada kulit hitam, kulit putih, semua sama dihadapan Allah Ta’ala.

Muslim maupun non-mulislim bisa hidup sejahtera mengikuti aturan Allah Yang Maha Esa hanya saja berbeda aturan dalam hal ibadah. Peradaban Islam sanggup menciptakan negara adidaya kontinental yang membentang dari satu samudera ke samudera yang lain.

Dari iklim utara hingga tropis dan gurun dengan ratusan juta orang tinggal di dalamnya telah merasakan makna keadilan. Tentaranya merupakan gabungan dari berbagai bangsa yang melindungi perdamaian dan kemakmuran yang belum dikenal sebelumnya.

Terdapat beberapa aspek penting dalam kepemimpinan Rasulullah saw. diantaranya; 

Baca Juga:   Ketika "Para Penjahat" Gagal Menyakiti Prabowo

1. Rasululullah saw selain menjadi nabi dan rasul, beliau juga dibaiat sebagai Kepala Negara yang memimpin Daulah Islamiyyah dengan petunjuk wahyu dari Allah Ta’ala. Hal ini tertuang dalam Piagam Madinah.

2. Rasulullah saw. menerapkan syariah Islam secara menyeluruh, sebab semua ucapan, perbuatan, dan diamnya Rasul adalah sumber hukum, termasuk perbuatan Rasul dalam mengurus urusan rakyat.

3. Sangat tegas dalam menerapkan hukum Allah tanpa kompromi. Hal ini terlihat dari ketegasan beliau ketika ada yang meminta keringanan hukuman terhadap wanita bangsawan yang mencuri. Jawaban Rasul “Apakah kalian hendak meringankan hukuman syar’i diantara hukum-hukum Allah? Kemudian beliau bangkit dan berkhutbah ‘wahai manusia sungguh orang-orang sebelum kalian itu binasa karena bila yang melakukan pencurian itu orang terpandang mereka biarkan, tapi bila yang mencuri itu kalangan rakyat jelata, mereka menerapkan hukuman atasnya. Demi Allah, kalau Fatimah binti Muhammad mencuri, sungguh aku akan memotong tangannya.” (H.R. Muslim). 

Baca Juga:   Berhasil Nyaplok JawaPos, Goenawan Mohamad Kini Obok-Obok PAN

4. Rasulullah menyatukan masyarakat dengan ikatan yang kokoh yaitu Akidah Islamiyyah.

5. Dalam kepemimpinan Rasul bertujuan untuk menyebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah dan jihad.

Wallahu’alam bishawwab.

More in Opini

error: Dilarang copy paste tanpa izin!