Connect with us
Dibaca: 324

Opini

Mari Bertobat Mumpung Belum 17 April

(Kisah “Muallaf” Politik: Tobatnya Pendukung Petahana)

Migrasi politik pendukung Jokowi, diantaranya klan Kalla dan klan Aksa. Foto: Twitter

Oleh: Hersoebeno Arief

SWARARAKYAT.COM – “Saya sekarang sudah tobat. Taubatan nasuha,” kata mantan anggota Komisi III DPR Djoko Edhi Abdurrahman ketika bertemu di suatu rumah makan di kawasan Menteng, Senin malam (25/3/2019).

Wajahnya terlihat serius. Kedua tangannya diangkat. Bagi yang tidak terlalu kenal dirinya, sulit membedakan kapan dia serius, kapan sedang bercanda? Dari penekanan kata-katanya, Djoked -begitu dia biasa dipanggil- kali ini sangat serius.

Baca Juga:   Sandiaga Uno Disambut Meriah di Kampung Jusuf Kalla

Baca Juga:   Tiga Sikap JK Bertentangan dengan Koalisi Jokowi-Ma'ruf

Mantan wartawan harian Jawa Pos itu sedang bicara posisi politiknya pada Pilpres 2019. Pernah menjadi pendukung garis keras –die hard– Jokowi, Djoked memastikan mengalihkan dukungannya kepada Prabowo.

Fenomena orang-orang seperti Djoked ini sangat banyak. Namun kalau melihat status medsos dan pernyataannya di berbagai media, dia termasuk kelompok orang yang paling awal tercerahkan. Segera insyaf dan melakukan pertobatan.

Baca Juga:   Cakra 19, Tim Senyap Luhut Panjaitan, Tendang Gatot Nurmantyo, Prabowo Tunggu Giliran?

Bila menggunakan terminologi dalam agama Islam, Djoked sudah lama menjadi muallaf. Sekarang dia menjadi seorang “da’i” yang sangat aktif menyerukan agar publik jangan memilih kembali Jokowi. Karena itu dia menggunakan kata taubatan nasuha. Taubat yang sebenar-benarnya. Tak akan mengulangi perbuatan yang sama untuk kedua kalinya.

Fenomena pertobatan, atau kalau meminjam istilah peneliti LIPI Firman Noor, migrasi suara ini semakin banyak terjadi mendekati hari H Pilpres 2019. Ada yang dilakukan perseorangan, namun ada juga yang dilakukan secara massal.

Baca Juga:   Wapres JK Tolak Permintaan FPI Akui Bendera Tauhid di Insiden Garut

Fenomena pertobatan massal atau migrasi suara besar-besaran, salah satunya baru saja kita saksikan pada kampanye hari pertama di Makassar, Ahad (24/3/2019). Di lapangan Karebosi yang menjadi land mark kota anging mamiri itu, dua klan besar, keluarga Kalla dan keluarga Aksa menyatakan ikrar mendukung Prabowo-Sandi.

Keluarga Aksa sudah lebih dahulu ikrar secara terbuka. Hal itu ditandai dengan hadirnya Erwin Aksa pada debat antar-cawapres Ahad (17/3). Kemudian disusul dengan aksinya menggalang dukungan 1.000 pengusaha nasional di Jakarta Theater Rabu (21/3).

Baca Juga:   Tiga Pengorbanan Prabowo yang Tidak Diketahui Publik, Nomor Tiga Bikin Merinding!

Dukungan keluarga Kalla yang semula masih remang-remang, samar-samar, mulai terbuka. Ditandai dengan kehadiran Fatimah Kalla adik bungsu Wapres Jusuf Kalla pada kampanye terbuka di Lapangan Karebosi. Hadirnya Fatimah menjadi headline besar di media lokal.

Migrasi politik klan Kalla dan klan Aksa dipastikan akan diikuti oleh ribuan, bahkan jutaan para pendukungnya di Sulawesi Selatan dan sebagian Indonesia Timur. Pada Pilpres 2014 posisi Jusuf Kalla sebagai pendamping Jokowi membuat pasangan ini tampil sangat perkasa.

Baca Juga:   JK Minta Pengurus Masjid Bakar Tabloid Indonesia Barokah

Di Kota Makassar pasangan Jokowi-Kalla menang sangat telah 70,53 persen, dan Prabowo-Hatta hanya memperoleh 29,47 persen. Sementara di Sulsel Jokowi-Kalla memperoleh 71,41 persen, Prabowo-Hatta 28,59 persen.

Kehadiran Fatimah dan Erwin bukan hanya signal kuat Prabowo-Sandi bisa membalikkan keadaan, namun juga sebagai tanda kemenangan dari Timur.

Baca Juga:   Seminar Kebangsaan Batal, Panitia Diancam DO dari UGM Bila Seminar Tetap Digelar

Berbeda motivasi

Dilihat dari latar belakang dan motivasinya, ada beberapa jenis pertobatan pendukung Jokowi.

Pertama, mereka yang benar-benar menyadari kesalahannya, meninggalkan Jokowi dan kemudian menjadi pendukung Prabowo.

Masuk dalam kelompok ini adalah mantan Menteri ESDM Sudirman Said, dan mantan Menteri BPN/Kepala Agraria Ferry Mursidan Baldan.

Baca Juga:   TOL TRANS JAWA BUKAN HASIL PEMBANGUNAN JOKOWI

Sudirman dan Ferry dicopot dari kabinet karena tidak sepakat dan bertentangan dengan kebijakan pemerintahan Jokowi, atau partai pengusungnya. Sudirman kemudian menjadi Direktur Materi Debat di Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi. Ferry menjadi Direktur Relawan BPN.

Prev1 of 2

More in Opini

error: Dilarang copy paste tanpa izin!