Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Connect with us
Dibaca: 272

Politik

Megawati Merasa Sakit Hati Saat Rupiah Tembus Rp10.900 di Pemerintahan SBY

Ketua Umum PDI Perjuangan sekaligus mantan Presiden, Megawati Soekarnoputri pernah melontarkan kritikan keras terhadap pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat nilai tukar rupiah terhadap dollar anjlok pada Agustus 2013 silam.

Saat itu, nilai tukar rupiah mendekati level Rp10.900 per dolar Amerika Serikat pada Rabu (21/8/2013) seperti diberitakan Bisnis.com.

Bahkan Mega merasa sakit hati melihat banyaknya barang-barang kebutuhan pokok rakyat yang diimpor dari negara lain hingga berdampak pada anjloknya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS dan tak terkendalinya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Mega menilai Indonesia setelah 68 tahun merdeka masih belum bisa “berdiri di atas kaki sendiri” atau “Berdikari”. Mulai cabai, bawang, telur, daging, hingga beras, diimpor dari negara lain. Meski sudah mengimpor barang-barang kebutuhan pokok tersebut dari luar negeri, ternyata harga barang tersebut sangat mahal sehingga memperberat daya beli masyarakat.

“Sekarang Rupiah, berapa Rupiah terhadap Dolar, yang selalu mengagung-agungkan asing, yaitu Dolar, akhirnya Rupiah terpuruk. Coba (hitung), uang yang Rp 300 ribu, yang Rp 500 ribu itu, berapa hari uang itu bisa digunakan,” kata Mega. (Baca: Megawati Sindir SBY Soal Anjloknya Rupiah)

Namun, sebagai Ketua Umum Partai pengusung utama Presiden Joko Widodo (Jokowi), kritikan Megawati tak terdengar lagi meski saat ini nilai tukar rupiah terhadap dollar semakin terpuruk.

Diketahui, kurs rupiah saat ini hampir menyentuh angka Rp15.000 perdollar. Kondisi ini berdampak pada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Ekonom Institute for Developement of Economic and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan, ditengah keadaaan ekonomi yang genting, pemerintah tidak bisa lagi menganggap enteng UMKM.

“Berkaca dari krisis moneter 1998, sektor yang tahan terhadap tekanan Global hanyalah UMKM dan itu sudah terbukti di Indonesia,” katanya dikutip dari Bisnis.com, Rabu (5/9/2018).

Baca Juga:   Kapan SBY Mulai Kampanyekan Prabowo-Sandi? Ini Jawaban Wasekjen Demokrat

Sebagai informasi, pada penutupan perdagangan di pasar spot, Rabu (4/9), nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,81% ke level Rp14.927 per dolar AS atau nyaris mendekati level psikologis Rp15.000 per dolar AS.

Bhima mengatakan, dengan keadaan ini pemerintah harus mengeluarkan paket kebijakan yang mampu menggenjot UMKM dalam kurun waktu yang singkat.

Pertama, pemerintah harus meningkatkan 30% penyaluran kredit usaha rakyat (KUR), Menurutnya, instrumen KUR cukup efektif dalam meningkatkan motivasi pelaku UMKM untuk ekspansi.

Kedua, peningkatan sosialisasi Kredit Usaha Rakyat Berorientasi Ekspor (KURBE), karena ditengah depresiasi rupiah seharusnya pemerintah lebih mengedepankan UMKM untuk mendulang dolar dan meningkatkan devisa.

Sehingga, setelah ekonomi membaik nantinya sebagian UMKM sudah dapat pembekalan yang cukup untuk dapat lebih meningkatkan daya saingnya.

“Ya kalau rupiah melemah itu artinya daya saing produk ekspor kita itu meningkat, karena lebih murah. Hanya saja harusnya UMKM yang lebih bisa memanfaatkannya,” ucapnya.

Ketiga, pemerintah harus berani menurunkan kembali tarif pajak final UMKM dari 0,5% menjadi 0%. Di tengah tekanan global pemerintah harus menjaga konsumsi masyarakat dengan menggeliatkan UMKM.

Sehingga, dalam keadaan kritis seperti ini, katanya, pemerintah berkesempatan mengubah bottom up economy menjadi trickle down economy.

“Sekarang itu korporasi besar dianggap meneteskan kesejahteraan kepada pelaku usaha kecil. Kita balikkan menjadi bottom up economy, itu memenag dengan paket kebijakan,” ucap Bhima.

Loading...

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

More in Politik