Melihat Jejak Romusha Di Bayah

Oleh: Hamdan Suhaemi

Geografi Bayah

Bayah adalah daerah paling selatan dari Provinsi Banten yang berdekatan dengan pantai laut selatan Sukabumi Jawa Barat. Kini adalah salah satu kecamatan yang masuk Kabupaten Lebak, terletak sekira 111 Km berkendaraan dari pusat Kabupaten. Pusat pemerintahan Kecamatan Bayah berada di Desa Bayah Barat sekaligus desa yang perkembangan ekonominya cukup pesat. Ada beberapa pantai di Bayah, yaitu Pantai Bayah, Pantai Pulo Manuk, Pantai Sawarna, Pantai Karang Taraje, Pantai Tanjung Karang, Pantai Ciantir. Khusus di Pantai Pulo Manuk terdapat ratusan kepala keluarga asli orang Jawa yang masih hidup, mereka adalah korban dari kerja paksa romusha zaman pendudukan Dai Nippon 1942-1945 M.

Luas Bayah sekitar 153,74 km² dengan jumlah penduduk sekitar 42.237 Jiwa menurut catatan BPS 2013, hingga kini pertumbuhan jumlah penduduknya belum disensus kembali. Mayoritas penduduknya memeluk agama Islam, dan beberapa para penganut kepercayaan.

Jejak Romusha

Dalam jurnal ” Bayah Coal Mining Pit: The Trail of Romusha in South Banten ” tertulis bahwa salah satu lokasi terbesar penambangan batu bara di Bayah, adalah Blok Madur di Desa Darma Sari yang dipisahkan oleh Gunung Madur, antara pusat penambangan dengan tempat tinggal para pekerja Romusha di Bayah Barat, jarak tempuhnya sekitar 3 Km.

Menurut penelitian arkeolog Iwan Hermawan ( 2017 ), Blok Madur merupakan blok penambangan terbesar di kawasan pertambangan Bayah Kozan. Di kawasan inilah banyak lubang bekas tambang batu bara dengan berbagai ukuran lubang atau terowongan, terutama terowongan utama yang memiliki kedalaman 100 sampai 750 meter dengan tipe lubang Horizontal. Mulut lubang tambang batu bara atau terowongan ini berdiameter 2,5 sampai 3,0 meter yang di dalamnya terdapat sebuah kamar-kamar serta lorong-lorong cabang.

Beberapa Romusha yang bertugas di penambangan tersebut dikelompokkan dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 10 sampai 12 orang dalam setiap kelompoknya. Setiap kelompok ini dipimpin oleh seorang kepala regu dengan anggota terdiri dari 2 orang pemegang bor, 2 orang ahli dinamit, dan sisanya adalah pemecah batu dan tukang angkut.

Penambangan dilakukan dengan cara meledakkan ader menggunakan dinamit. Pecahan dan reruntuhan batu bara berupa bongkahan dikumpulkan dan dipecah menjadi pecahan kecil untuk selanjutnya ditampung di lori kemudian diangkut ke luar lubang. Setelah banyak terkumpul, batu bara diangkut ke pusat penimbunan di stasiun Bayah dengan menggunakan stingkul.
Diketahui hingga saat ini, beberapa lubang tambang masih bisa ditemukan di Gunungmadur, dan masyarakat menyebutnya sebagai lubang Jepang.

Lubang-lubang tambang tersebut di antaranya Lubang Cipicung, Lubang Cigalugur, Lubang Sangko, dan Gua Jepang di tepi pantai Gua Langgir. Antara pusat penambangan di blok Madur Darma sari dengan blok Sanko ( ini bahasa Jepang asal dari kata Sanco ) itu sekitar 5 Km. Blok Sanko menjadi tempat kedua setelah proses produksi batubara yang ada di blok Madur.

Jejak Sang Revolusioner di Bayah

Jika membaca buku ” Tan Malaka, Gerakan kiri, dan Revolusi Indonesia: Agustus 1945-Maret 1946 ” Karya Harry A Poeze. Pada Juni 1943 M, Ibrahim Datuk Tan Malaka atau masyhur dikenal dengan Tan Malaka pindah dari Jakarta ke Bayah Banten Selatan. Di Bayah, Tan Malaka menyamar dengan menggunakan nama samaran Ilyas Hussein dan bekerja di bagian administrasi sebagai juru tulis para Romusha. Menurut apa yang penulis lihat kantor bagian administrasi dan mess pekerja Romusha itu terletak 3 km dari pusat penambangan di Darmasari, kantor tempat Tan Malaka bekerja itu berada di Bayah Barat kini, secara geografis letaknya dekat dengan pantai Bayah, yang di pinggir-pinggirnya banyak ditemukan bekas rel lokomotif kereta barang jalur Bayah – Saketi.

Tan Malaka atau Ilyas Husein telah menceritakan dalam bukunya  ” Tan Malaka, Dari Penjara ke Penjara ” bahwa asal usul nama Saketi yang berarti 100 ribu. Angka tersebut kabarnya mengacu pada banyaknya jumlah Romusha yang tewas selama pembuatan jalur kereta Bayah-Saketi.

Para Romusha banyak meninggal karena kelaparan, kerja yang begitu keras, penyakit kudis, malaria, disentri, serta tak adanya obat-obatan. Saat itu Tan Malaka kerap membelikan makanan untuk Romusha dengan upahnya sendiri. Dia juga kerap bersuara lantang agar upah para Romusha dinaikkan. Namun upayanya itu sia-sia belaka.

Kepentingan Perang Dai Nippon

Keberadaan  Bayah  sebagai  daerah  yang kaya akan barang tambang sudah diketahui jauh sebelum  datangnya  bangsa  Jepang.  Penelitian berkenaan  dengan  keberadaan  bahan  tambang sudah  dilakukan  sejak  akhir  abad  ke-19  dan semakin intensif pada awal abad ke-20. Penelitian tentang  Geologi  di  Banten  Selatan,  khususnya Bayah dan Cikotok sudah dilakukan pada kurun waktu tahun 1839—1916 oleh para peneliti, yaitu Homer,  Hasaki,  Junghunh,  Verbeck,  Fenaema Van Es, dan Zungler.  Pada penelitian-penelitian tersebut  ditemukan  indikasi  endapan  Emas  di daerah  Bayah,  Cimandiri,  dan  Cikotok (Hermawan,  2013).  Potensi  bahan  tambang  di Kubah Bayah yang dilaporkan oleh para peneliti tersebut  mendorong  perusahaan  pertambangan swasta  Belanda,  NV.  Mijnbouw  Maatschappy Zuid  Bantam  (NV.  MMZB)  pada  tahun  1939 membuka  tambang  emas  di  Cikotok  setelah melalui proses persiapan selama tiga tahun, yaitu 1936—1939.  Sejak  saat  itu,  Cikotok  menjadi salah satu  kota tambang di  Nusantara.

Kegiatan penambangan  pertama  kali  dilakukan  di  Blok Cikotok dan Cipicung, kemudian menyusul Blok Cirotan. Pabrik pengolahan bijih emas dibangun di  Pasirgombong  dan  pengangkutan  hasil tambang ke pabrik pengolahan dilakukan dengan menggunakan  Lori  Gantung  (Hermawan,  2014: 16).  Potensi  batu  bara  di  Bayah  yang  juga disinggung oleh hasil penelitian para ahli tersebut kurang  menarik  perhatian  perusahaan  tambang untuk  mengeksploitasi  karena  dianggap kurang ekonomis.  Biaya  operasional  lebih  mahal dibanding dengan pendapatan yang diperoleh. 

Kondisi  tersebut  berubah  drastis  ketika masuknya Jepang ke Indonesia pada tahun 1942 M, Tambang Cikotok diambil alih Jepang dan semua aktivitas  pertambangan  dihentikan kecuali  di lubang  tambang  Cirotan  tetap  berjalan  untuk menambang timah hitam atau timbal  (Pb) yang merupakan bahan baku mesiu untuk dipergunakan tentara Kempetai Jepang dalam upaya memenangkan perang Asia Pasifik Raya. Sementara tambang emas Cikotok dimanfaatkan sebagai modal perang, untuk operasional, konsumsi dan logistik perang.

Penutup

Ini Bayah menjadi saksi sejarah kekejaman penjajahan dan saksi bisu atas tragedi kemanusiaan yang sulit diampuni, sebab nyawa manusia hampir setiap menit melayang akibat Romusha. Watak penjajah selalu biadab dan sadis, tidak berperikemanusiaan.

Serang 31 Maret 2024