Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Connect with us
Dibaca: 130

Ekonomi

Menguat 33 Poin, Rupiah Masih Tetap Berada Di Level Rp14.800-an

Foto: Rupiah Menguat

SWARARAKYAT.COM-JAKARTA – Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini, Senin (17/9/2018) menguat 33 poin. Meski demikian, Rupiah pagi ini masih berada di level Rp14.800-an per USD.

Melansir Bloomberg Dollar Index, Senin (17/9/2018) pukul 09.16 WIB, Rupiah pada perdagangan spot exchange menguat 33 poin atau 0,23% ke level Rp14.806 per USD. Rupiah hari ini bergerak di kisaran Rp14.777 per USD-Rp14.844 per USD.

Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) hari ini, kurs rupiah menyentuh posisi Rp14.859 per dolar AS.

Data yang diterbitkan Bank Indonesia pagi ini terpantau menempatkan kurs referensi Jisdor di Rp14.859 per dolar AS, melemah 24 poin atau 0,16% dari posisi Rp14.835 pada Jumat (14/9/2018) pekan lalu.

Baca Juga:   Jokowi Kesal Isu Tenaga Kerja China "Digoreng" Terus

Sementara itu, indeks dolar AS yang melacak pergerakan greenback terhadap sejumlah mata uang utama pagi ini terpantau lanjut naik 0,02% atau 0,019 poin ke level 94,946.

Sementara itu, Yahoofinance mencatat Rupiah melemah 45 poin atau 0,30% menjadi Rp14.845 per USD. Dalam pantauan Yahoofinance, Rupiah berada dalam rentang Rp14.800 per USD hingga Rp14.845 per USD.

Sebelumnya, Deputi Gubernur Bank Indonesia Doddy Budi Waluyo mengatakan, pihaknya terus menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah. Walaupun masih ada tekanan global dari beberapa sumber.

Baca Juga:   Dolar Amerika Akhirnya Tembus Rp15.100

“Alhamdulilah, kita terus jaga stabilitas Rupiah dengan penguatan sampai hari ini, tapi kami juga masih meliat tekanan global,” kata Dody di Jakarta.

Dia menjelaskan, tekanan dari berbagai sumber itu, seperti perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China. Di mana sampai saat ini perang dagang tersebut masih belum berlangsung. Karena AS dan China masih saling berbalas serangan.

“Ada juga tekanan global dari krisis keuangan yang terjadi di Turki dan Argentina,” jelasnya. (Arum)

Baca Juga:   Jokowi Sindir Kebiasaan Mahasiswa Suka Ngutang, Warganet: Kaca Mana Kaca?
Loading...

Advertisement

Penulis

Advertisement

More in Ekonomi