Connect with us
Dibaca: 162

Nusantara

Museum Minha, Gus Sholah: Dibangun Era SBY, Diresmikan Jokowi

Presiden Jokowi resmikan Museum Indonesia KH Hasyim Asy'ari (Minha) - Foto: Faktual

SWARARAKYAT.COM – Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy’ari (Minha) akhirnya diresmikan oleh Presiden Joko Widodo atau Jokowi, Selasa (18/12/2018).

Dalam kesempatan itu, pengasuh pesantren Tebuireng KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) membeberkan awal mula berdirinya museum tersebut. Yakni, dibangun pada era Presiden SBY (Susilo Bambang Yudhoyono).

Gus Sholah menjelaskan, saat itu tahun 2010, dirinya menghadap ke Presiden SBY. Dalam pertemuan itu, Gus Sholah mempresentasikan kondisi makam Gus Dur yang setiap hari dibanjiri peziarah. Mereka bukan hanya dari Jombang, namun juga luar Jombang, bahkan luar pulau.

Baca Juga:   Warga Ambon Serbu Prabowo, Tumpah Ruah di Jalan

Kendaraan peziarah berjajar di tepi jalan. Karena saat itu memang belum ada lahan untuk parkir. Akhirnya pemerintah membanguan beberapa fasilitas. Bahkan, Pemkab Jombang membebaskan lahan sekitar lima hektar untuk fasilitas parkir dan lainnya.

Bukan hanya pusat dan pemkab Jombang, akan tetapi pemerintah provinsi Jatim juga turun tangan.

“Lalu disusul bangunan lainya oleh Kemendikbud. Dan saya usulkan didirikannya museum ini,” kata adik kandung Gus Dur ini di hadapan Jokowi.

Baca Juga:   Lima Kepala Daerah Pendukung Jokowi Terjerat Perkara Korupsi

Gus Sholah memaparkan, museum tersebut merupakan salah satu tempat yang bisa mempersatukan seluruh bangsa. Sebab, dalam museum itu banyak disampaikan bagaimana proses Islam masuk ke Indonesia. Nah, hal tersebut banyak yang belum diketahui.

Terlebih, lanjutnya, saat ini masalah yang dihadapi bangsa Indonesia terkait kelompok Islam yang berseberangan dengan ideologi bangsa tidaklah ringan.

“Dalam museum ini ada banyak informasi kepada masyarakat. Bahwa Islam datang ke nusantara dengan damai, tanpa dukungan militer dan bantuan apapun. Islam masuk dengan budaya lokal masyarakat, seperti wayang, syair dan gurindam sebagainya,” sambungnya.

Baca Juga:   Duh! Belum Sempat Digunakan, Kotak Suara Kardus KPU Bantul Ini Sudah Rusak

Pengasuh pesantren Tebuireng ini menegaskan, museum tersebut juga bentuk bantahan kepada kelompok Islam garis keras yang dinilai masih tidak paham dengan sejarah Islam sebenarnya.

“Mereka katakan bahwa negara Indonesia ini tidak sesuai dengan ajaran Islam, bagaiamana mungkin Negara yang didirikan bersama ulama-ulama kok bertentangan dengan ajaran Islam, makanya dalam museum itu disampaikan bagaiama proses Islam masuk Indonesia,” bebernya. (Ren/Bjm)

More in Nusantara

error: Dilarang copy paste tanpa izin!