Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Connect with us
Dibaca: 56

Politik

Pakar Hukum dan Politisi PDIP Debat Pasal Makar, Ngabalin Pilih Tutup Telinga

Perdebatan terkait pasal yang menyebutkan perbuatan makar terjadi antara pakar hukum tata negara, Zainal Arifin Mochtar, dengan politikus PDIP, Adian Napitupulu.

Hal ini terjadi saat keduanya menjadi narasumber dalam acara Mata Najwa dengan tema ‘2019 Ganti Preisden Mengapa tidak 2019 Prabowo Sandi’, Rabu (5/9/2018).

Selain kedua narasumber tersebut, hadir pula beberapa narasumber lainnya seperti Andre Rosiade, Mardani Ali Sera, Setyo, Irjen Pol Setyo Wasisto, dan Ali Mochtar Ngabalin.

Perbedebatan antara Zainal dan Adian ini kembali bermula setelah jeda iklan pembicaraan soal pasal perbuatan makar.

“Ini saking serunya, bahkan di sela-sela break kami masih terus mendengarkan perdebatan antara bung Zainal Arifin Mochtar dengan bung Adian Napitulu,” ujar Najwa Shihab selaku pembawa acara Mata Najwa.

“Pasal terakait makar tidak akan saya lanjutkan karena akan banyak interpretasi disini yang berbeda-beda, satu pakar hukum itu akan menghasilkan perbedaan yang lain-lain,” tambahnya.

Zaenal pun langsung menyahut apa yang dikatakan Najwa dengan mengatakan bahwa pengertian makar seharusnya disampaikan bersamaan dengan pengertian lain.

“Saya cuman ingin mengatakan begini, jangan anda (Najwa Shihab) memperkosa sebuah pengertian, satu pengertian anda sampaikan, lalu seakan-akan pengertian yang lain tidak anda bacakan, ndak begitu,” sangkal Zainal.

Adian langsung mendebat apa yang dikatakan oleh Zainal dengan menyebutkan pengertian dari makar.

“Atau, meniadakan kemampuan presiden, atau wakil presiden memerintah, kemampuan dia memerintah itu, bukan fisiknya, itu tafsirnya bos.

Kemampuan dia (presiden) memerintah tidak boleh dilegitimasi, begitu unsur pelemahan, peniadaan, upaya peniadaan itu terpenuhi, apa yang disampaikan bang Ali Mochtar..,” jeda Adian

“Makar,” sahut Ali Mochtar Ngabalin

“(Makar) mungkin benar,” lanjut Adian.

“Ya, memang benar,” sahut Ngabalin kembali.
“Sebentar dulu, siapa penguji paling akhir semua tafsir pengaturan, pengadilan, bawa ke pengadilan,” tambah Adian.

Baca Juga:   Seruan Habib Rizieq di Jabal Rahmah, Kompak 2019 Ganti Presiden

“Bawa gua (ke pengadilan) maksudnya, gua dibawa?,” tanya Ngabalin pada Adian.

Najwa kembali memotong perdebatan keduanya.

“Mas Zainal mohon maaf saya harus mem-break perdebatan ini, karena sekali lagi interprestasinya akan menjadi bermacam-macam,” kata Najwa.

“Tidak yang anda bisa baca, anda pahami, misalnya begini saya kasih yang sederhana saja, anda mengerti gak yang dimaksud perbuatan tercela? yang ancaman untuk presiden bisa jatuh karena melakukan perbuatan tercela, apa maksudnya?. Jangan anda bilang kencing sembarang tempat itu perbuatan tercela, itu spesifik ada praktik ada teori,” debat Zainal dengan nada tinggi.

Adian langsung menyambar dengan nada tinggi pula.

“Kalau kita sedang membicarakan sebuah pasal begini, jangan mengambil contoh lain yang tidak punya relevansi dengan pasal yang kita bahas, jelas kalimanya meniadakan kemampuan presiden atau wakil presiden dalam memerintah, kemampuan memerintah dia yang ditiadakan,” debat Adian.

Mendengar Zainal dan Adian masih berdebat saling bersahutan, Ngabalin tampak membernarkan sorban dengan kedua tangannya lalu melanjutkan dengan menutup kedua telinganya.

“Allahhuakbar,” ujar Ngabalin lirih sambil menutup telinga.

Setelah Zainal selesai mendebat, barulah Ngabalin membuka telinganya.Najwa Shihab segera memotong kedua perdebatan itu.

“Baik, baik, ini harus satu episode sendiri membahas soal makar, kita ke Bung Mardani,” ujar Najwa.

Walaupun telah dialihkan ke narasumber lain, Zainal dan Adian masih saling sahut hingga Mardani akan memulai pembicaraan.

Lihat videonya menit ke 3.10.

Loading...

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

More in Politik