Connect with us
Dibaca: 94

Politik

Pengamat Politik: Jokowi dan Prabowo Sama-Sama Pakai ‘Propaganda ala Rusia’

Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Foto: Istimewa

SWARARAKYAT.COM – Pengamat politik menyebut kedua kubu calon presiden dan wakil presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto, sama-sama memakai strategi “propaganda ala Rusia”.

“Itu kan cara atau strategi. Contohnya antek asing. Kalau kampanye Trump saat pemilihan kan mempertanyakan apakah Anda punya nasionalisme atau tidak? Diukur dari situ, ‘ikut saya atau yang lain’,” ujar Aditya, dilansir SwaraRakyat dari BBC News Indonesia, Selasa (05/02).

Aditya Perdana, pengamat dari Universitas Indonesia mengatakan pola ini terlihat dari saling serang yang menggunakan isu populis, bukan program serta hoaks.

Baca Juga:   Video Viral! Petugas Medis Mogok, Pasien Gawat Darurat Terlantar di RS Jayapura

Menurut Aditya, model kampanye semacam ini pernah dilakukan Presiden AS Donald Trump dengan cara menyerang lawannya dengan isu-isu dan menggiring para pemilih pada tema seputar nasionalisme.

“Jadi nampaknya yang sedang dibangun isu populisme, bukan programatik. Memang mudah sekali isu seperti itu terangkat karena dekat dengan pemilih kan, apalagi soal identitas,” sambungnya.

Ia menduga pernyataan Jokowi saat deklarasi di Surabaya pada Sabtu (02/02) lalu sebagai bentuk serangan balasan kepada kubu lawan karena kerap mengangkat tuduhan antek asing.

Namun demikian, sindiran yang dilontarkan kubu Jokowi-Ma’ruf Amin kepada lawannya Prabowo-Sandiaga, hanya akan merugikan pihaknya.

Baca Juga:   Pasang Iklan di Media Cetak, KPU: Pasangan Jokowi-Ma'ruf Langgar Kampanye

Sebagai petahana, menurutnya, Jokowi harus bersikap hati-hati dengan tidak mengumbar perkataan kontroversial namun menyampaikan program-program dan capaian-capaiannya.

“Orang-orang yang tadinya sudah yakin kepada Jokowi, bisa saja berubah. Semisal pendukung yang masih setengah hati ini, kecenderungan bergeser pilihannya ada karena melihat sikap Jokowi,” imbuhnya.

“Jadi kalau kubu penantang bilang selisih antara Prabowo dan Jokowi makin tipis, bisa saja kalau begini terus,” sambungnya.

Baca Juga:   Ketua TKD Jatim: Jika Caleg Parpol Pengusung Tak Kampanyekan Jokowi, Saya Doakan Tidak Jadi

Pernyataan “propaganda Rusia” itu bermula ketika Jokowi menghadiri deklarasi dukungan di Kantor Redaksi Jawa Pos, Surabaya.

“Cara-cara politik seperti ini harus diakhiri, menyampaikan semburan dusta, semburan fitnah, semburan hoaks, teori propaganda Rusia yang kalau nanti tidak benar, lalu minta maaf. Akan tetapi, besoknya keluar lagi pernyataan seperti itu, lalu minta maaf lagi,” kata Jokowi.

Tapi belakangan Kedubes Rusia di Jakarta melalui akun Twitternya menyatakan pemerintah Rusia tidak pernah ikut campur soal urusan dalam negeri maupun proses elektoral di negara lain termasuk Indonesia.

Baca Juga:   Prabowo: Demi Allah, Saya Tidak Serendah Itu

“Sebagaimana diketahui istilah “Propaganda Rusia” direkayasa pada tahun 2016 di Amerika Serikat dalam rangka kampanye pemilu presiden. Istilah ini sama sekali tidak berdasarkan pada realitas,” demikian pernyataan Kedubes Rusia melalui akun Twitter resmi mereka, Senin (04/02).

Aditya juga mengatakan psywar atau perang urat syaraf yang dilakukan kedua kubu, tidak akan efektif memengaruhi pemilih muda. Ini karena informasi yang mereka miliki lebih banyak ketimbang menelan mentah-mentah pernyataan yang diembuskan masing-masing calon.

Pendapat serupa juga disampaikan Peneliti dari Lembaga Survei Indikator Politik, Adam Kamil.

Dia mengatakan, publik cenderung tidak tertarik dengan berita-berita politik yang bertebaran di media sosial. Bahkan, sikap saling sindir sama sekali tidak berpengaruh terhadap elektabilitas maupun popularitas para calon.

Baca Juga:   La Nyalla Tegaskan Kembali: "Potong Leher" Saya Kalau Prabowo Menang di Madura

“Tidak pengaruh, karena itu dianggap hal biasa dalam kontestasi politik,” ujar Adam Kamil.

Pemilih, kata dia, justru lebih terpikat ketika debat berlangsung. Di situlah, para swing voters atau pemilih mengambang yang jumlahnya 10% ini akan menentukan pilihannya.

“Debat kan masih empat kali lagi, nanti bisa terlihatlah. Karena debat itu kan ditonton banyak orang.”

Dalam survei Lembaga Survei Indikator, elektabilitas pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin 54% dan pasangan Prabowo-Sandiaga 34%. Namun demikian, kubu oposisi mengklaim memiliki survei internal yang menyatakan hitungan berbeda.

Baca Juga:   Pengamat: Cawapres Sandiaga Uno Bintang Debat Kelima

Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandiaga, Andre Rosiade, menyebut selisih elektabilitas antara Jokowi dan Prabowo hanya empat persen. Yakni Jokowi-Ma’ruf Amin 47% dan Prabowo-Sandiaga 43%.

Selisih tipis itulah, menurut Andre, yang membuat Jokowi tertekan sehingga melontarkan pernyataan-pernyataan kontroversial. Ia pun membantah kubunya menggunakan konsultan asing demi memenangkan pemilihan presiden April mendatang.

“Jadi sikap itu adalah kekhawatiran berlebihan, sehingga Jokowi menimbulkan kegaduhan dengan pernyataan hoaks yang menuduh kami melakukan propaganda ala Rusia atau menggunakan konsultan asing,” imbuhnya.

Baca Juga:   Ribuan Mahasiswa Geruduk DPRD Riau, Gantung Pocong Bergambar Jokowi

Dia bahkan menantang Jokowi agar melaporkan anggota BPN Prabowo-Sandiaga ke Kepolisian jika terbukti memfitnah. “Kalau ada tim sukses kami yang fitnah Jokowi, tangkap saja. Jangan menimbulkan kegaduhan.”

Prev1 of 2

More in Politik

error: Dilarang copy paste tanpa izin!