Opini  

Politik Coty Ala FX Rudi, Saatnya Koreksi Pernyataan Kontroversi FX Rudi

FOTO: Politisi PDI Perjuangan, FX Rudi dan Walikota Solo Gibran Rakbuming Raka (Sumber: Istimewa)

Oleh: Agus Zaini
Co-Founder Cakra Manggilingan Institute

Apabila Anda datang ke Kota Solo, cobalah sekali-kali bertanya pada warga tentang sosok bernama FX Hadi Rudiyatmo. Anda mungkin bisa terheran-heran. Ia sungguh familier di Kota Bengawan. Dari tukang becak hingga pejabat di balaikota yang Anda jumpai akan dengan mudah menggambarkan sosok yang kerap dipanggil FX Rudi itu.

Ya, FX Rudi adalah Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Surakarta yang hingga kini masih tetap bertahan, tak tergantikan. Ia pernah menjabat sebagai Walikota Solo, menggantikan Joko Widodo yang ketika itu, melepaskan jabatannya karena terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta.

FX Rudi memang dikenal sebagai tokoh senior yang teguh dalam pendirian dan keras dalam sikap. Meski demikian, hatinya mudah luluh ketika melihat seseorang yang sedang kesulitan. Ia juga sangat peduli pada bawahannya.

Apabila dibandingkan dengan rekan seperjuangannya, misal Bambang ‘Pacul’ Wuryanto, karier politik FX Rudi termasuk stagnan alias hanya berkutat di Kota Solo. Sementara sang rekan telah malang melintang dalam kiprah kepengurusan PDI Perjuangan, mulai dari tingkat Kabupaten Sukoharjo, berlanjut ke Provinsi Jawa Tengah, dan kini, menjadi salah satu Ketua DPP PDI Perjuangan. Bahkan saat ini, Bambang Pacul dipercaya sebagai Ketua Komisi III DPR RI.

Kabarnya, FX Rudi pernah mendapatkan bermacam tawaran untuk menjadi pejabat di tingkat pemerintah pusat. Bahkan menurut pengakuannya, saat ada yang menawarinya menjadi Wakil Menteri, ia menolak.

Di sisi lain, tokoh senior PDI Perjuangan di Kota Solo tersebut kerap menjadi sorotan media, karena tidak bisa menahan diri dalam merespons sesuatu yang menurutnya tidak benar. Terlebih jelang Pemilihan Presiden 2024, FX Rudi tampak selalu ‘pasang badan’ membela Ganjar Pranowo. Bahkan ia sempat bersinggungan dengan Bambang Wuryanto, selaku atasannya.

Sebelum Ganjar resmi ditetapkan sebagai Calon Presiden PDI Perjuangan, Bambang memang sering kali melontarkan komentar pedas soal Ganjar.

“(Ganjar) wis kemajon (kelewatan). Yen kowe pinter, aja keminter (kalau kamu pintar, jangan bersikap sok pintar),” katanya di Panti Marhaen Kota Semarang, pada Sabtu 23 Mei 2021.

Reaksioner dan Memalukan

Pendapat, komentar, dan sikap FX Rudi berulang kali dikutip dan disiarkan oleh media. Sayangnya, sebagai tokoh senior ia agak ‘tipis kuping’. Mudah menerima begitu saja laporan dari bawah.

Karena itulah FX Rudy beberapa kali melontarkan pernyataan yang terkesan lebay dan jauh dari fakta sesungguhnya. Seperti pernyataannya tentang patroli polisi ke kantor-kantor partai. Kegiatan rutin yang dilakukan polisi sebagai bagian dari tugas melindungi dan mengayomi, tiba-tiba dipermasalahkan dan dituding sebagai bentuk praktik intimidasi terhadap partai politik. Lantaran pernyataan tersebut, FX Rudi terkesan sedang mencari perhatian dan playing victim alias berpura-pura dizalimi.

Berita terbaru, mak bedunduk (tiba-tiba) FX Rudi menyerang Ibu Negara, Iriana Jokowi, secara verbal. Entah apa tujuan dari pernyataan itu, tapi serangan terbuka terhadap seorang perempuan, apalagi Ibu Negara, sungguh sesuatu yang memalukan.

FX Rudi seperti orang kalap yang ingin mencari lawan tanding, hingga memaksakan seorang ibu untuk masuk ke dalam arena tanding.

Apakah FX Rudi ingin menunjukkan bahwa ia seorang lelaki sejati yang berani bertanding dengan siapa pun? Atau mungkin ia telah kehilangan akal sehat, sehingga tidak lagi dapat memfilter, mana yang baik dan mana yang buruk; mana yang wajar dan mana yang kurang ajar.

Sebagai politisi yang juga sudah bertahun-tahun menjadi pejabat publik, walaupun sebatas di tingkat Kota, seharusnya FX Rudi mampu memberi kritik yang bernas dan cerdas di wilayah kebijakan, bukan malah menyerang secara personal. Parahnya serangan yang disampaikan itu hanya berbasis gosip, tanpa fakta dan data yang akurat.

FX Rudi terlihat seperti tidak bisa memosisikan diri sebagai politisi senior yang umumnya bersikap bijak. Ia lebih mirip buzzer anyaran yang selalu berdengung, karena suka berdengung.

Meminjam istilah kekinian, seperti itulah politik ‘coty’. Gaya politik yang suka berbicara ke sana dan ke mari, ngalor-ngidul, tapi tidak ada isinya dan tanpa mampu memberi bukti.

Orang yang terlalu banyak bicara bisa jadi sangat mudah terpengaruh oleh segala hal yang mendatangi pikirannya. Jadi, serupa perilaku halu (halusinasi). Alur berpikirnya bisa melompat dari satu topik ke topik lain tanpa ada hubungan yang jelas. Akhirnya, menjadi tidak bermakna atau tidak produktif.

FX Rudi pasti paham falsafah Jawa, Ajining diri soko lathi yang berarti, harga diri seseorang bisa dilihat dari bagaimana ia berbicara. Semoga FX Rudi dapat menghayati kembali falsafah tersebut untuk kebaikan diri dan lingkungannya, juga bangsa dan negara. [A/Z]