Connect with us
Dibaca: 224

Opini

Politisi Genderuwo, Politisi Sontoloyo

Ilustrasi Gambar

Oleh: Ardi Piliang

Satu jenis makhluk yang keberadaannya beserta ekosistem kehidupannya hanya untuk menjalakan misi jahat dan untuk menyesatkan umat manusia sampai akhir jaman ialah Iblis. Dengan segala perbuatan bersifat negatif antara lain (menghasut, fitnah, manipulasi kebenaran, dapat berubah wujud, memberi kabar bohong, ingkar janji, melakukan hal bodoh atau sontoloyo hingga menciptakan ketakutan,dll).

Makhluk halus iblis dan turunan serta kerabatnya banyak sekali memiliki nama-nama dan sebutan dimasyarakat sebut saja; dedemit, kuntilanak, pocong, tak ketinggalan genderuwo.

Berbicara setan khususnya genderuwo tentunya menarik sebab belakangan ini hangat diperbincangkan dijagad alam manusia khususnya di Negeri ini menjadi tranding topik yang seakan makhluk astral genduruwo ini seolah nyata keberadaanya.

Baca Juga:   Gorengan Sontoloyo, Isue Dalam Perspektif Politik dan Bisnis

Dengan munculnya makhluk astral made-in Indonesia berjenis genderuwo ini, seperti disebut dengan istilah ‘politik genderuwo’ telah meramaikan atmosfir alam perpolitikan negeri ini secara kebetulan ditengah-tengah proses demokrasi pemiihan anggota DPR dan Pilpres.

Dalam kehidupan manusia iblis atau setan seakan hidup berdampingan walaupun sesungguhnya berlainan alam dan dimensi, akan tetapi karna eksistensi awal mula iblis setan dan sejenisnya adalah untuk menyesatkan manusia.

Maka jika terdapat seseorang atau kelompok manusia berperilaku selayaknya iblis dengan segala sifatnya, (jahat, kotor, sadis, bengis, berkata dusta dan ingkar janji, memutar balikan kebenaran,dll). ia merupakan representatif iblis yang menjelma dan berbentuk manusia.

Baca Juga:   Kisah Hasan Al-Basri, Pemuda Tenggelamkan Kebanggaan dan Kesombongan

Hal ini menarik mengingat dalam hal siasat politik seperti apa yang dikatakan “Niccolo Machiavelli dalam buku The Prince” manusia/politisi dapat melakukan berbagai cara tidak peduli itu baik, buruk, benar salah, etis tidak etis, dan bermoral ataupun tidak bermoral demi mencapai suatu tujuan dalam hal (merebut dan mempertahankan kekuasaan) adalah mencerminkan “politik gendurowo”.

jika melihat kondisi hari ini atas apa yang terjadi berkaitan dengan permasalahan politik yang dilakukan oleh seseorang/kelompok/lembaga dan institusi dengan terang-terangan berperilaku politik kotor dengan menerapkan seperti apa yang dikatakan machiavelli. maka bagi siappun dalam melakukan hal politik dengan berbuat demikian maka secara tidak langsung ia dapat dikategorikan sebagai “politisi genderuwo dan politikus sontoloyo”.

Baca Juga:   Sisi Lain Keterangan Dahnil, Kenapa Menpora dan Ansor Bungkam?

Maka disarankan jika bertemu politisi demikian cukup membaca Alfateka saja. uupss.. Al-Fatiha maksudnya Inshaa Allah ia akan lari terbirit-birit.

Jakarta, 26 November 2018

More in Opini

error: Dilarang copy paste tanpa izin!