Connect with us
Dibaca: 404

Opini

Prabowo Mendikte Reaksi Jokowi Soal Media Rusak

Prabowo dan Jokowi

Oleh: Asyari Usman
(Penulis adalah wartawan senior)

Protes keras Prabowo Subianto (PS) terhadap media yang meremehkan Reuni 212 pada 2 Desember baru lalu, sekarang membuahkan hasil. Prabowo mendikte Pak Jokowi dalam bereaksi. Ini terbukti dari sikap memihak yang ditunjukkan Pak Joko. Dia memanggil sejumlah media ke Istana Bogor (9/12/2018) hanya untuk mengatakan bahwa bagi dia, “media adalah sahabat”.

Jokowi menjadi terbawa ke dalam irama gendang Prabowo. Dalam arti, ketika PS mencoba menunjukkan bahwa media sebagai tiang demokrasi telah dimakan rayap kekuasaan, Jokowi malah maju ke dapan membela dengan headline yang sangat kontradiktif yaitu “media adalah sahabat”. Padahal, seluruh rakyat sejak lama telah mencatat perilaku sejumlah media besar yang bertentangan dengan kaidah jurnalistik.

Baca Juga:   Kampanye Jokowi Dilanda Krisis

Sebagai contoh, media-media itu menunjukkan keberpihakan kepada penguasa secara membabibuta. Semua kekeliruan penguasa diterompetkan sebagai kebaikan oleh media-media yang terkooptasi itu. Contoh lain, media-media itu secara serentak menunjukkan sikap ‘hostile’ (bermusuhan) terhadap Islam dan umat Islam. Sikap ini tentu sangat bertolak belakang dengan fungsi media massa.

Nah, Jokowi mengatakan dia menganggap media yang rusak berat itu sebagai sahabat. Tidak ada tafsiran lain untuk ungkapan “bagi saya media adalah sahabat” kecuali penegasan bahwa Pak Jokowi berada di pihak media yang sedang rusak berat itu. Bahwa dia (Jokowi) setuju dengan sikap media yang telah melukai perasaan rakyat, perasaan umat Islam.

Baca Juga:   Mahfud MD Nilai Pasangan Prabowo-Sandi Perpaduan Antara Kecerdasan dan Ketegasan

Jokowi terpancing untuk mengambil untung dari teguran keras PS terhadap media-media mainstream yang telah kehilangan akal sehat. Media-media yang diperingatkan Prabowo itu kemudian merasa tak senang. Di sini, Pak Jokowi terlihat ambil kesempatan. Tetapi, sesungguhnya reaksi seperti ini memperlihatkan ketidakmatangan (immaturity) Jokowi.

Pak Jokowi mungkin menyangka dengan mengatakan “media sahabat saya”, dia meraup laba besar dari koran-koran dan televisi yang melakukan “crimes against journalism” (kejahatan terhadap jurnalistik) karena menyembunyikan Reuni 212. Padahal, cara bereaksi seperti itu menunjukkan kelemahan Jokowi sebagai pemimpin negara.

Baca Juga:   "Dasar Ndeso" Kaesang dan "Tampang Boyolali" Prabowo

Mengatakan “bagi saya, media adalah sahabat” pada saat semua orang paham bahwa media-media itu curang sampai berubah menjadi corong penguasa, menunjukkan bahwa Jokowi merestui sikap media yang melakukan ‘kejahatan’ jurnalistik. Dalam hal ini, media-media yang membuat Prabowo merasa jengkel itu bagaikan mendapat amunisi dari Jokowi. Dengan kata lain, Jokowi setuju dengan sikap partisan media-media itu.

Prev1 of 2

More in Opini

error: Dilarang copy paste tanpa izin!