Opini  

Refleksi Akhir Tahun 2023: Peradaban Negara Kesatuan Republik Indonesia

Foto: Wikipedia

Negeri kepulauan yang sangat masyhur di dunia, nama Nusantara menjelma menjadi sebuah daerah yang memiliki daya tarik untuk disinggahi, dikerjasamakan dan dikolaborasikan untuk terciptanya sebuah tatanan dunia yang adil, makmur dan sejahtera bagi seluruh penduduk dunia. 

Peta Ptolemeus, para penduduk Alexsandria menuliskan nama Chersonesos aurea atau Semenanjung Emas untuk wilayah kawasan nusantara yang memiliki sumber daya alam yang berlimpah. Ada pula pelaut China dan Eropa yang mengatakan Nanyang atau The Land Under The Wind, sebagai Negeri dibawah angin yang menunjukan betapa indahnya alam nusantara. 

Di dalam khasanah pemerintahan, raja-raja nusantara melakukan pengelolaan dan penguatan sumber daya alam dan sumber daya manusia menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam pembangunan peradaban kedaerahan dan kewilayahan. Hal itu dapat dilihat dari, konsepsi Cakrawala Mandala Dwipantara dan Sumpah Palapa yang mengusung cita-cita persatuan dan kesatuan kemasyarakatan dan kerakyatan Indonesia menyongsong kehidupan di masa depan. 

Untuk menumbuhkan kesadaran integrative sebagai bangsa, agregasi pengalaman bersama dalam menanggapi situasi sosial, kebudayaan, politik dan ekonomi yang mendorong tumbuhnya keyakinan bahwa identitas nasional itu ada dan nyata. Sehingga mampu mengkonsolidasikan seluruh modal kekuatan kebangsaan (alam dan sumber daya manusia) sebagai unsur pembentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pancasila sebagai philosofische grondslag menjadi penentu dalam orientasi tujuan sistem sosial politik, kelembagaan dan kaidah pola kehidupan kenegaraan yang bukan hanya menjadi faktor determinan melainkan juga mengembangkan peran teologis sebagai payung ideologi bagi berbagai unsur dalam masyarakat yang beranekaragam dan bersifat majemuk. 

Kebangsaan Indonesia lahir dan berproses mematangkan kehadirannya di bumi nusantara ini jauh sebelum kemerdekaan diproklamasikan. Kelahiran itu berproses dari sejak bangkitnya kesadaran eksistensial para pendahulu untuk membentuk sebuah komunitas politik yang secara hakikatnya menolak kehadiran bangsa lain yang menjajah wilayah dan masyarakat nusantara.

Proses penghayatan yang terus menerus dan menyebar ini lah yang membentuk kesadaran kolektif sebagai suatu bangsa. Dari sini juga terbukti bahwa kebangsaan dan nasionalisme bukanlah sesuatu yang terbentuk dan lahir secara alamiah, melainkan produk dari pertumbuhan sosial dan intektual masyarakat dalam suatu tahapan sejarah Indonesia.

Para pendiri Republik Indonesia telah meletakkan fondasi dari ikatan kebangsaan pada kesamaan nasib dan kesamaan cita-cita. Untuk itulah, terjalinnya ikatan emosional dan moral yang kuat dan menjadikan persaudaraan sebangsa dan setanah air, serta membentuk soliditas untuk menggalang kekuatan mengejar kemajuan ekonomi yang berkeadilan, sosial yang berkemakmuran dan politik yang berkekuatan luruh berdasarkan identitas kebangsaan dan kenegaraan Indonesia.

Akhir tahun 2023 ini, seyogyanya momentum refleksi peradaban Negara Kesatuan Republik Indonesia, dimana proses transisi pemerintahan harus berjalan sesuai dengan cita-cita yang telah dibangun oleh founding fathers Indonesia. Bahwa Indonesia hanya mengenal Demokrasi Pancasila, bukan yang lain. Untuk itu, gerak dan langkah negara harus seiring dengan pola pikir dan konsepsi yang sudah dibangun sejak dahulu dengan melibatkan rakyat sebagai subjek kemajuan identitas kebangsaan Indonesia yang sudah dikenal di seluruh dunia. Bukan demokrasi liberal yang hanya mengusung kemajuan tapi tak berkeadilan, bukan pula demokrasi sosial terlebih lagi komunis yang hanya mengusung kemajuan kelas berdasarkan sosial layaknya feodalisme dulu. 

Refleksi kerakyatan untuk negara Indonesia adalah kewajiban, sebagai bagian dari evaluasi pemerintahan dan sistem ekonomi, hukum dan politik di Indonesia. Bahwa tidak boleh lagi, penerapan ilusi penegakan hukum yang seakan-akan menghukum pada hal tajam kebawah tapi tumpul keatas. Imajinatif yang layaknya sebuah kolosal horor dalam pemberantasan mafia ekonomi dan politik, pada hal hanya mengedepankan kelompok dan pro pemerintah serta menjadikan tontonan nyata bahwa kekayaan hanya bagi segelintir orang saja. terlebih lagi mempropagandakan rakyat atas nama pembenaran kekuasaan yang jelas mencederai rakyat, melalui kasus etika MKMK. 

Maka, praktik kehidupan-nya sudah barang tentu bersumber dari falsafah kebangsaan-nya. Sehingga, terciptanya Negara Kesatuan Republik Indonesia murni dari konsensus keadatan, kesukuan, kepulauan dan kebangsaan yang menginginkan kekuatannya bersumber dan berjalan dari Ketuhanan Yang Maha Esa, Kesatuan yang bersumber dan berjalan dari Kemanusiaan adil dan beradab, Persatuan yang bersumber dan berjalan dari nilai luhur bahwa keadilan sosial, keadilan ekonomi dan keadilan politik adalah kemakmuran dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.#

Penulis: Rahman Salim (Wakil Ketua Relawan Aliansi Kerakyatan Untuk Anies)