Connect with us
Dibaca: 160

Nusantara

Ribuan Hektar Persawahan Terancam Kekeringan, Para Petani Datangi Kejari Paluta

Para Petani datangi gedung Kejari Paluta - FOTO: SwaraRakyat

SWARARAKYAT.COM – Pertanian yang merupakan urat nadi perekonomian masyarakat di daerah Padang Lawas Utara(Paluta) Provinsi Sumatera Utara terganggu akibat rusaknya jaringan saluran irigasi Batang Ilung.

Sekitar 3200 ha lahan persawahan di dua kecamatan, yakni Kecamatan Padangbolak dan Portibi sejak Oktober 2018 sampai hari ini mengalami kekeringan akibat kekurangan air.

Resah dengan keadaan ini, ratusan masyarakat petani yang tergabung dalam Forum Petani Pengguna Irigasi Batang Ilung (FP2BI) mendatangi kantor Kejaksaan Negeri Paluta, Senin (7/01/2019).

Baca Juga:   Eksekusi Ratusan Hektar Lahan Perkebunan, Warga: Ini Indonesiaku, Kalian Malah Bela Orang China

“Kami selama ini sangat tergantung dengan irigasi, kini hanya bisa pasrah dan gigit jari,” kata Ketua FP2BI Paluta, Asrin kepada SwaraRakyat, Senin (7/1).

Para Petani datangi gedung Kejari Paluta – FOTO: SwaraRakyat

Ia melaporkan bahwa berdasarkan informasi di tengah tengah masyarkat adanya dugaan penyelewengan anggaran rehabilitasi irigasi batang ilung yang telah dilaksanakan beberapa waktu yang lalu.

Ia juga menyampaikan pelaksanaan rehab yang telah rampung itu tidak begitu bermanfaat bagi para petani karena terganggunya penyaluran air seperti sekarang ini.

Baca Juga:   Adik Emil Dardak Jadi Caleg Termuda dari PAN dan Meninggal Diusia 21 Tahun

Dikesempatan yang sama,Kepala Kejaksaan Negeri Paluta Rizal Syah Nyaman,SH,MH yang diwakili Kasi Intel Sutan Harahap, SH saat menyambut masyarakat petani menyampaikan akan mengkoordinasikan keadaan ini ke Instansi yang bersangkutan.

“Saya akan menyampaikan aspirasi ini ke Pimpinan terlebih dahulu”, ucapnya sambil berterimakasih.

Pengamatan media ini berdasarkan informasi Milyaran uang negara dialokasikan oleh pemerintah provinsi Sumatera Utara untuk memperbaiki saluran irigasi Batang Ilung yang merupakan irigasi kebanggaan masyarakat Paluta.

Tetapi hasilnya setetes air pun tidak dinikmati para petani,ketahanan pangan akan terganggu, harga beras mengalami kenaikan dari Rp150.000 menjadi Rp170.000. (dewi)

Advertisement

Penulis

Advertisement

More in Nusantara

error: Dilarang copy paste tanpa izin!