Connect with us
Dibaca: 420

Nusantara

Rocky Gerung Serukan Ganti Presiden Saat Beri Kuliah Umum di Universitas Bosowa

Rocky Gerung beri kuliah umum di Universitas Bosowa, Makassar - Foto: tagarnews

SWARARAKYAT.COM – Rocky Gerung beberapa kali menyerukan ganti presiden dan mengangkat dua jari merujuk pada pasangan capres-cawapres tertentu dalam Pilpres 2019.

Seruan ganti presiden dan acungan dua jari itu dilakukan Rocky Gerung saat memberikan kuliah umum di depan kurang lebih dua ribu mahasiswa dari berbagai kampus di Universitas Bosowa, Makassar, Rabu (19/12).

Dalam kuliah umum dengan judul ‘Dari Timur Terbit Akal Sehat’ itu, Rocky Gerung menyampaikan banyak kritik pada pemerintah.

Baca Juga:   Banjir, Jalan Poros Barru Menuju Pare-Pare Putus

“Saat kita kritik, mereka bilang Pak Rocky hanya bisa kritik tidak bisa kasih solusi. Padahal kritik dimaksudkan untuk memberikan stimulus perbaikan, dan membongkar persoalan,” ujarnya.

Rocky mengatakan, dirinya tidak dapat memberikan solusi bukan berarti tidak boleh melakukan kritik.

“Kalau tidak bisa menyelesaikan persoalan, silakan minggir,” kata Rocky.

“Oke, kalau saya harus beri solusi, kasih solusi yang radikal, ganti presiden,” lanjutnya.

Baca Juga:   Kota Solo Diguyur Hujan Deras, Puluhan Pohon Tumbang

Beberapa mahasiswa bertepuk tangan untuk seruan ganti presiden tersebut.

Tidak semua mahasiswa yang hadir sependapat dengan Rocky.

Seorang mahasiswa yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan dirinya menyayangkan Rocky Gerung berkampanye saat memberikan kuliah umum.

“Tadi materi cukup bagus, tapi sedikit berbau kampanye, karena berapa kali Rocky mengangkat dua jari dan sempat berujar ganti presiden. Itu kan berkampanye,” terangnya usai acara.

Baca Juga:   Komentari Kicauan Rocky Gerung, Abu Janda Sebut Pendukung Prabowo Teroris

Pengamat Politik dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Adi Prayitno mengatakan bahwa di kampus tidak boleh berkampanye, aturannya sudah jelas.

“Di kampus tidak boleh kampanye. Itu jelas aturannya. Kampanye itu menyampaikan visi misi calon, meminta dukungan langsung, dan membawa atribut calon atau partai. Di luar itu boleh, misalnya seminar kebangsaan,” kata Adi Prayitno saat dihubungi TagarNews, Kamis siang (20/12).

Lebih lanjut Adi Prayitno berpendapat, seharusnya kampus diperbolehkan sebagai tempat kampanye.

“Mestinya regulasi memperbolehkan kampus untuk kampanye karena di kampus lah dialektika pemikiran bisa diuji serius,” kata Adi.

“Ke depan kampanye di kampus mestinya diperbolehkan karena kampus adalah komunitas rasional yang bisa memfilter isu dengan baik,” harapnya.

Baca Juga:   Dulu Pilih Jokowi Dijanjikan Uang, Si Nenek: Boro-boro Dikasih, Janji Doang

Mengenai seruan ganti presiden dan angkat dua jari seperti dilakukan Rocky Gerung, Adi mengatakan itu bukan kampanye.

“Kalau cuma teriak ganti presiden dan angkat dua jari bukan kampanye,” katanya.

“Kampanye itu kalau menyampaikan visi misi calon, minta dukungan misalnya pilih Prabowo atau Jokowi, dan atribut kampanye. Di luar itu bukan kampanye,” jelas Adi.

Baca Juga:   Rocky Gerung: Saya Bukan Timses Prabowo-Sandi, Tapi Saya Ingin Tim Itu Sukses

Komisi Pemilihan Umum sejak jauh hari sudah mengingatkan tempat-tempat steril, tidak boleh disusupi kegiatan kampanye. Tiga tempat dilarang digunakan untuk kampanye meliputi tempat ibadah, fasilitas pemerintah, serta tempat pendidikan.

Aturan larangan menggunakan ketiga tempat tersebut untuk kegiatan kampanye telah diatur dalam Pasal 69 Ayat (1), huruf h Peraturan KPU (PKPU) Nomor 23 Tahun 2018 tentang Kampanye Pemilihan Umum. Dalam beleid tersebut disebutkan, pelaksana, peserta, dan tim kampanye pemilu dilarang menggunakan fasilitas pemerintah, tempat ibadah, dan tempat pendidikan untuk kegiatan kampanye. (ren/tg)

Loading...

Advertisement

Penulis

Advertisement

More in Nusantara

error: Dilarang copy paste tanpa izin!