Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Connect with us
Dibaca: 33

Ekonomi

Rupiah Mendarat ke Rp14.815 per Dolar AS, Melemah 105 Poin

Jakarta,  — Nilai tukar rupiah melemah 105 poin atau 0,71 persen menjadi Rp14.815 per dolar AS pada perdagangan sore hari ini, Senin (3/9), dibandingkan penutupan akhir pekan lalu.

Sementara, Kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp14.643 per dolar AS atau melemah 29 poin dibandingkan posisi kemarin Rp14.614 per dolar AS.

Pelemahan rupiah hari ini merupakan yang terburuk di antara mata uang negara-negara lain di kawasan Asia. Setelah rupiah, pelemahan tertinggi dialami oleh ringgit Malaysia minus 0,49 persen, rupee India minus 0,1 persen, dan dolar Hong Kong minus 0,01 persen.

Sedangkan beberapa mata uang Asia lainnya justru berhasil menguat dari dolar AS. Dolar Singapura menguat 0,07 persen, baht Thailand 0,08 persen, renmimbi China 0,13 persen, peso Filipina 0,14 persen, dan won Korea Selatan 0,24 persen. Hanya yen Jepang yang bergerak stagnan.

Sebaliknya, kebanyakan mata uang utama negara maju justru melemah dari dolar AS. Rubel Rusia melemah 0,69 persen, poundsterling Inggris minus 0,64 persen, franc Swiss minus 0,13 persen, dan dolar Kanada minus 0,1 persen.

Hanya euro Eropa dan dolar Australia yang menguat dari mata uang Negeri Paman Sam, masing-masing 0,02 persen dan 0,23 persen.

Analis Monex Investindo Dini Nurhadi Yasyi mengatakan pelemahan rupiah di antara penguatan mata uang negara kawasan Asia terjadi karena kurangnya sentimen positif dari dalam negeri. Hal ini membuat rupiah seakan kekurangan ‘tameng’ untuk bertahan dari tekanan penguatan dolar AS.

“Belum ada upaya dari pemerintah dan BI untuk membentuk ‘tameng’ guna menghadapi ketidakstabilan ekonomi. Investor jadi cenderung menjauhi rupiah dan mencari aset yang lebih aman dan menguntungkan,” katanya kepada CNNIndonesia.com, Senin (3/9).

Baca Juga:   Polisi Periksa Ustaz Abdul Somad Terkait Kasus Penghinaan

Dari eksternal, sambung dia, tekanan tidak jua berkurang. Hal ini karena pasar masih diselimuti oleh kekhawatiran akan dampak dari kelanjutan perang dagang AS dengan sejumlah mitra dagangnya.

“Ketidakpastian ekonomi global sebagai dampak dari perang dagang masih ada, meski sebenarnya kondisi ekonomi Indonesia masih cukup stabil, tapi pasar masih akan menjauhi rupiah,” terang Dini.

Selain itu, kekhawatiran juga berasal dari ekspektasi ekonomi China yang mengalami perlambatan akibat dampak dari perang dagang tersebut. Sedangkan perkembangan ekonomi China turut menentukan ekonomi Indonesia ke depan karena Negeri Tirai Bambu merupakan mitra dagang terbesar bagi Tanah Air.

Karenanya, ia melihat pemerintah dan bank sentral nasional perlu kembali mempererat koordinasi agar mampu menciptakan sentimen positif dari domestik untuk menopang pelemahan rupiah.

Loading...

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

More in Ekonomi