Soal Pulau Rempang, Rocky Gerung: Negara Arogan Terhadap Rakyatnya Sendiri

FOTO: Pengamat Politik Rocky Gerung (Sumber: Istimewa)

SWARARAKYAT.COM – Pengamat Politik, Rocky Gerung turut mengomentari masalah yang terjadi di Pulau Rempang, Batam. Proyek yang digadang-gadang menghabiskan dana ratusan triliun itu kini tengah ramai diperbincangkan.

Komentar Rocky ditayangkan di YouTube dengan judul “Rempang membara, Ribuan hak warga tak terpenuhi, janji Jokowi soal agraria omong kosong“.

Diawal narasinya Rocky mengatakan konflik agraria kasus serupa sebelumnya sudah banyak terjadi di era Jokowi, seperti halnya permasalahannya di Rempang tak lepas dari Project Nasional Pemerintahan Jokowi.

Baca Juga: Dedengkot 9 Naga dan China Dibalik Mega Proyek Pulau Rempang

“Pola Konflik agraria semakin lama semakin tinggi di era Presiden Jokowi, padahal Pak Jokowi berjanji akan membagi-bagi tanah dan itu yang tidak terjadi,” jelasnya.

Pulau Rempang merupakan wilayah yang dihuni oleh masyarakat melayu sebelum Kemerdekaan. Tiba- tiba, kata Rocky, atas nama hak negara bagi-bagi tanah masyarakat melayu di gusur.

“Dan yang mengherankan, Menteri Menkumham Makhfud MD berapologi, ini bukan soal penggusuran, ini soal hak yang sudah dibagikan negara oleh investor.
Itulah yang menimbulkan sakit hati,” ujar Rocky.

“Masyarakat melayu sejak 1834 sudah ada disana, investor china 2024 baru mau mulai investasi karena kebutuhan Indonesia atas modal asing,” tambahnya.

Baca Juga: Sejak Jadi Anggota DPR, Harta Rieke Diah Pitaloka Naik Fantastis

Jadi, kata Rocky, didalamnya ada problem yang mendasar. Ini komunitas yang sudah terbentuk sangat lama. Kalau di bilang itu merampas hak investor, negara harus kembalikan kepada investor.

“Disana ada sekolah, sekolah artinya negara menyetujui ada komunitas disana, justru Anak-anak itu yang berhak untuk meneruskan hak mereka belajar dengan tenang di rempang bukan investor,” ujarnya.

“Kita lihat itu dari dimensi kesejarahan, Itu adalah hak masyarakat, masyarakat adat disana untuk merawat kultur disitu,” tambahnya.

Rocky Gerung menyimpulkan, pemindahan atau relokasi masyarakat adat rempang otomatis kultur dan budaya akan hilang juga.

“Maka yang disebut sebagai keadilan sosial dan kemanusiaan yang adil dan beradab tidak terlihat disana. Ini menunjukkan bagaimana negara bersikap arogan terhadap rakyatnya sendiri,” tegasnya.