Bisnis  

Suku Bunga Acuan Turun, Rupiah Berpeluang Menguat

SWARARAKYAT.COM – Seiring pasar global yang bertaruh pada kebijakan bank-bank sentral dunia akan menurunkan suku bunga acuan mulai tahun depan, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berpeluang menguat pada perdagangan hari ini, Senin (18/12/2023).

Bank Sentral AS Federal Reserve pada Rabu (13/12/2023) mengisyaratkan akan menurunkan suku bunga lebih dari yang direncanakan sebelumnya.

Pada penutupan perdagangan pekan lalu, Jumat (15/12/2023), mata uang rupiah menguat 0,06% atau 9,50 poin ke Rp15.492,50 per dolar AS. Adapun indeks dolar AS terpantau melemah tipis 0,01% atau 0,01 poin ke 101,95 pada 15.15 WIB.

Sentimen paling berpengaruh terhadap pergerakan rupiah bersama mata uang global pekan lalu adalah kebijakan para bank sentral di dunia.

Di pasar keuangan, isyarat The Fed menyebabkan harga saham dan obligasi global melonjak karena pasar memperkirakan penurunan suku bunga enam perempat poin pada 2024, atau dua kali lipat dari jumlah yang diproyeksikan oleh pejabat Fed.

Mengutip Reuters, Jumat (15/12/2023), Bank Sentral Inggris (BoE) dan Bank Sentral Eropa (ECB) pada Kamis (14/12/2023) waktu setempat membawa kabar menyenangkan bagi pelaku pasar. Kedua bank tersebut yang mempertahankan biaya pinjaman tetap stabil, dan berjanji menjaga kondisi moneter tetap ketat selama diperlukan.

Baca Juga: GIBRAN Sebut Anies Teacher, Prabowo Leader, Ganjar Brother

Meskipun perkiraan penurunan suku bunga sedikit berkurang setelah pertemuan ECB dan BoE, skala penurunan suku bunga tetap signifikan, dan investor terhibur oleh tanda-tanda inflasi yang turun dengan cepat.

Inflasi zona euro turun lebih besar dari perkiraan menjadi 2,4% pada bulan November, sementara di Inggris melambat menjadi 4,6% pada bulan Oktober, juga lebih rendah dari perkiraan.

Presiden ECB Christine Lagarde mengatakan tekanan harga yang mendasarinya lebih moderat dari perkiraan ECB. Para pedagang sekarang memperkirakan bank sentral akan menurunkan suku bunga depositonya dari 4% menjadi sekitar 2,5% pada bulan Desember mendatang, setelah menambahkan lebih dari 50% peluang penurunan suku bunga tambahan sejak hari Kamis.

Pelaku pasar mengantisipasi penurunan suku bunga Inggris sebesar 110 bps pada tahun depan, lebih besar dibandingkan sebelum The Fed, bahkan ketika BoE memperingatkan bahwa suku bunga yang pada level tertinggi dalam 15 tahun sebesar 5,5%, akan tetap bersifat restriktif.

Sementara itu, Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi menjelaskan The Fed mengatakan bahwa suku bunga kini telah mencapai puncaknya pada 5,4%, dan bank sentral akan menurunkan suku bunga setidaknya tiga kali pada tahun 2024 menjadi 4,6%.

Ketua Fed Jerome Powell mengatakan meskipun terlalu dini untuk menyatakan kemenangan atas inflasi, ia masih memproyeksikan prospek inflasi yang lebih rendah pada tahun 2023. Sinyal dovish The Fed memicu meningkatnya spekulasi mengenai kapan bank tersebut akan mulai menurunkan suku bunganya.

Di pasar berjangka, para pedagang memperkirakan kemungkinan lebih dari 70% The Fed akan menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan Maret 2024. Investor juga mempertimbangkan peluang 67% untuk penurunan 25 basis poin lagi pada Mei 2024.

“Namun ketidakpastian mengenai penurunan suku bunga kemungkinan akan mengurangi optimisme dalam beberapa bulan mendatang, terutama karena kekuatan ekonomi AS masih dapat memicu peningkatan inflasi. Data terkini menunjukkan inflasi indeks harga konsumen tetap stabil di bulan November, sementara pasar tenaga kerja juga tetap kuat,” katanya dalam riset harian, dikutip Jumat (15/12/2023).

Sentimen lain, kata Ibrahim, Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi pada Asian Development Outlook (ADO) Desember 2023 untuk negara-negara berkembang di Asia dan Pasifik menjadi 4,9 persen untuk tahun ini dari perkiraan 4,7 persen pada September 2023.

Adapun ADB memperkirakan ekonomi China tumbuh sebesar 5,2 persen pada tahun ini, meningkat dari prediksi sebelumnya yang sebesar 4,9 persen, setelah konsumsi rumah tangga dan investasi publik mendorong pertumbuhan pada kuartal ketiga. (SR/Arum)