Connect with us
Dibaca: 487

Politik

Terjawab! Ini Alasan Rocky Gerung Kerap Kritik Jokowi

Rocky Gerung

SWARARAKYAT.COM – Pengamat politik Rocky Gerung mengaku mendapat protes dari teman baiknya.

Hal itu lantaran sikapnya yang selalu memojokkan Presiden jokowi.

Hal itu diungkapkan Rocky Gerung saat berbicara di Sekretariat Nasional (Seknas) Prabowo-Sandi beberapa hari yang lalu.

“Saya dapat pesan dari teman baik saya, kenapa menghujat terus pak Jokowi? kenapa tak menghujat SBY?,” demikian pertanyaan teman yang ditirukan Rocky.

Baca Juga:   Ketum PSI Ungkap Empat Alasan Makin Mencintai Jokowi

“Bayangin sinopsis di kepalanya itu supaya saya netral saya menghujat pak Jokowi dan menghujat pak SBY.”

“Ngapain menghujat SBY, dia itu mantan, menghujat mantan itu dosa,” lanjut Rocky yang mengundang tawa peserta diskusi.

Diskusi yang menghadirkan Cawapres Nomor Urut 2 Sandiaga Uno, Anggota DPR RI Fahri Hamzah dan mantan anggota KPU Chusnul Mar’iyah mengangkat tema: 2019, Adious Jokowi?

Baca Juga:   Jokowi dan Prabowo Saling Berebut Dukungan di Kantong Suara Lawan

Menurut mantan dosen filsafat Universitas Indonesia (UI) ini dirinya memang selalu sinis pada orang.

“Saya memang selalu sinis pada orang apalagi pada kekuasaan,” katanya.

Rocky mencontohkan dirinya bahkan pernah sinis dengan Sandiaga Uno.

Rocky mengaku awalnya sinis dengan gerakan Sandiaga Uno bertemu emak-emak di pelosok desa.

Menurut wangi tubuh Sandiaga Uno tak akan sama dengan wangi emak-emak.

Baca Juga:   Heboh Video Dahnil Dilarang Masuk di Arena Muktamar, Ketua PW Pemuda Muhammadiyah: Itu Hoax!

Namun menurut Rocky, Sandi berhasil membuktikan jika wangi dia itu sama dengan wangi emak-emak yakni wangi keadilan.

Pada kesempatan yang sama Rocky juga mengaku mendapat kritik karena sering bicara di markas Prabowo-Sandi.

Rocky pun ternyata punya alasannya.

Menurutnya ia tak pernah diminta berbicara di markas pasangan Jokowi-maruf.

“Jadi pertanyaanya adalah kenapa saya tak pernah diundang ke situ (markas Jokowi)? Jawabannya adalah otak ketemu otak,” katanya.

Baca Juga:   Kata Yusuf Mansur, Jokowi Puasa Senin-Kamis, Eh Ketahuan Makan Siang, Netizen: Piye Iki Yai?

Berikut video lengkapnya:

Alasan tak kritik Prabowo

Rocky Gerung akhirnya angkat bicara alasannya selalu mengeritik Jokowi dan tidak pernah mengeritik Prabowo Subianto.

Jokowi dan Prabowo Subianto adalah kontestan Pilpres 2019.

Rocky Gerung menyebut dirinya tak punya alasan ‘menyerang’ Prabowo Subianto dan lebih sering menyindir kebijakan Jokowi.

Ada alasan kenapa pengamat politik Rocky Gerung enggan mengkritik calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto.

Baca Juga:   Beredar Video Behind The Scene Jokowi Saat Tutup Asian Games di Lombok

Menurut dia, Prabowo Subianto tak memiliki prestasi sehingga tak ada alasan untuk dikritik.

Rocky Gerung pun lebih memilih untuk mengkritik capres nomor urut 01 Joko Widodo.

Rocky Gerung mendapat kesempatan berbicara di Indonesia Lawters Club (ILC) yang mengangkat tema pasca Reuni 212.

Ia sempat menyayangkan sejumlah media massa terkesan enggan memberitakan Reuni 212.

Baca Juga:   Sandi Akui Biaya Kampanye Mahal, Netizen Ini Siap Bantu Dana Kampaye Prabowo-Sandi di Aceh

Padahal, menurut Rocky Gerung Reuni 212 menjadi satu momen.

“Kita diingatkan bahwa Reuni 212 itu sesuatu yang memang sebut saja momennya memang 2016, tapi kemudian dia menjadi monumen dipindah dari momen menjadi monumen,” kata Rocky Gerung di ILC pasca Reuni 212

Bahkan Rocky Gerung juga menyebut Reuni 212 jadi satu momentum reuni akal sehat.

“Itu soalnya, karena itu saya sebut bahwa 212 itu lepas dari segala macam interpretasi, itu adalah satu reuni akal sehat. Kalau bukan karena akal sehat, itu ada orang iseng ngasih komando, selesai itu istana di depan, berantakan itu Jakarta.”

“Jadi ada kepemimpinan intelektual, ketertiban orang percaya bahwa ide bisa menghasilkan perubahan, ide itu diperlihatkan oleh jumlah, ide yang menjadi jumlah dia berubah dari kuantitas menjadi kualitas,” ujar Rocky Gerung.

Baca Juga:   Ulama dan Pengurus NU se-Jakarta Barat Deklarasi Dukung Jokowi-Ma'ruf

Menurut Rocky Gerung dengan kualitas Reuni 212 sepatutnya sudah tak ada lagi perdebatan mengenai jumlah massa yang datang.

Karena masyarakat cenderung mengingat kualitas acara dibanding jumlah.

Rocky Gerung menambahkan, apabila Reuni 212 tak perlu, begitu juga dengan perayaan kemerdekaan 17 Agustus.

“Lucunya orang berhitung tentang jumlah, orang ribut kan. Jadi ngapain bicara jumlah kalau dia sudah menjadi kualitas, tentang protes ketidakadilan, soal agama di situ dengan sendirinya, kalau satu kali reuni ya sudah, kalau begitu jangan rayakan 17 Agustus, kan Belanda udah pergi kan. Coba otaknya dibikin agak waras,” kata Rocky Gerung.

Baca Juga:   Jika Pemerintah Macam-Macam, Fahri Hamzah Siap Lakukan Ini

Pengamat politik Boni Hargens menginterupsi pernyataan Rocky Gerung.

Boni tak sependapat bila Rocky Gerung menyamakan Reuni 212 dengan fenomena Martin Luther King.

“Siapa yang ditindas di sana, siapa yang menindas umat Islam?” tanya Boni Hargens.

Belum selesai bicara, pernyataan Boni dipotong oleh Karni Ilyas.

“Boni jadi saya ingatkan yah, ketika anda ngomong cicak pun tidak interupsi, setiap orang ngomong anda interupsi,” kata Karni Ilyas.

Rocky Gerung kemudian kembali melanjutkan argumennya.

Baca Juga:   Netizen dan Sosiolog UI Ini "Tampar" Jokowi Soal Usulan Pendirian Fakultas Kelapa Sawit dan Kopi

Rocky Gerung lantas bicara soal tudingan Reuni 212 yang dipolitisir.

“Politisi itu Presiden Jokowi bagi-bagi sertifikat, kan bisa oleh dirjen,” kata Rocky Gerung.

Ketua DPP NasDem Irma Suryani Chaniago kembali menginterupsi pernyataan Rocky Gerung.

“Rocky Gerung ini ngomong Alquran fiksi aja ga ada yang protes, mana mungkin kitab suci agama Islam adalah fiksi bisa dipercaya. Jangan dipercaya omongannya,” kata Irma Suryani Shaniago.

“Saya dulu bilang kitab suci bukan Alquran, ini kedunguan kedua nih,” timpal Rocky Gerung

Rocky Gerung mengatakan mestinya masyarakat tak perlu cemas terhadap politik. Belum selesai bicara, Boni Hargens sudah menginterupsi lagi.

Baca Juga:   Sandiaga Uno Akan Pindahkan Markas Pemenangan ke Jateng, Begini Komentar Sudirman Said

Boni Hargens tak sependapat dengan pernyataan Rocky Gerung yang mengatakan bahwa insting petahana mencuri star kampanye.

“Memang hukum mengadili insting?” kata Boni Hargens.

Pernyataan Boni Hargens ditanggapi oleh Karni Ilyas dan Dedi Gumelar atau Miing.

“Masa ada pengamat berdebat?” kata Dedi Gumelar.

“Anda terlalu jauh, kalau semua omongan orang Anda bantah itu Anda bukan pengamat,” kata Karni Ilyas.

Irma Suryani Chaniago lantas menyanggah bahwa mestinya Reuni 212 sudah tak perlu lagi dibahas.

Hanya patut memberi apresiasi kepada pihak-pihak yang berhasil menjalankan, juga mengamankan Reuni 212.

Baca Juga:   Dikritik Soal Politik Genderuwo, Jokowi Enggan Komentar

Rocky Gerung kemudian diminta Karni Ilyas untuk melanjutkan argumentasinya.

Ia menuturkan alasannya memposisikan diri sebagai pihak yang netral.

“Kalau saya tidak netral, karena saya tidak mengkritik Prabowo, saudara sendiri bilang Prabowo tidak punya prestasi, ngapain saya kritik orang yang tidak punya prestasi, ” kata Rocky Gerung.

“Yang saya kritik itu adalah orang yang mengklaim prestasi orang. Tuh, Pak Jokowi banyak klaim prestasi orang makanya saya harus kritik, kan masuk akalnya gitu,” kata Rocky Gerung di ILC pasca Reuni 212.(tribun)

Advertisement

Penulis

Advertisement

More in Politik

error: Dilarang copy paste tanpa izin!