Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Connect with us
Dibaca: 114

Politik

TKN Jokowi: Prabowo Jangan Pandang Media dari Kacamata Subyektifitas

Lukman Edy (GATRA/Ardi Widi Yansah/far)

SWARARAKYAT.COM – Wakil Direktur Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin, Lukman Edy menyebutkan, ungkapan kekecewaaan yang disampaikan Prabowo Subianto terhadap media massa dalam pemberitaan Reuni 212 di Monas, mengungkap secara perlahan karakter yang bersangkutan.

Alih-alih menjadikan media sebagai salah satu pilar demokrasi, Prabowo justru hendak melakukan framing karakter dari media tersebut.

“Pelan-pelan akhirnya karakter Pak Prabowo muncul, karakter ingin mendikte media, karakter ingin memframing media. Ini kan yang seperti 20 tahun lalu. Yang bisa dilakukan sekarang sudah enggak bisa. Media adalah salah satu pilar demokrasi. Jadi jangan memandang media ini dengan kaca mata subyektifitas,” tegas Lukman di Posko Cemara, Kamis, (6/12).

Baca Juga:   Jansen Sitindaon Tepis Anggapan Kubu Prabowo Sudutkan Agama Kristen

Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini menambahkan, objektifitas media tidak bisa dinilai oleh subjektifitas Prabowo dengan menyebutkan pemberitaan negatif terhadap Reuni 212 yang berlangsung. Sebab, setiap media juga punya tanggungjawab untuk menyampaikan berita sebagaimana yang ditemukan di lapangan.

Dia menduga, kekecewaan yang dirasakan oleh calon presiden nomor urut 02 tersebut lebih karena framing yang ingin dituju pada Reuni 212 tidak seperti yang diharapkan.

Misalnya, harapan reuni 212 dihadiri oleh jutaan orang serta menjadi gerakan moral tanpa latar belakang politik. Kemudian, mampu mengkonsolidasi umat Islam untuk anti terhadap petahana Joko Widodo.

Baca Juga:   Ketika Boneka Menjadi Pemimpin

“Karena media memandang faktanya di lapangan ada persiapan 212 sarat dengan politik, kampanye terselubung kemudian ketika pelaksanaan tidak rame-rame amat. Dan setelah pelaksanaan menyimpan problem lain. Problem apa? Pelanggaran terhadap UU Pemilu,” sindir Lukman.

Lagipula, media nasional juga telah berkomitmen untuk menjadi wadah anti hoaks atau berita bohong yang kinerjanya diawasi oleh lembaga penyiaran, Dewan Pers hingga Bawaslu.

Baca Juga:   Miftahul Jannah Didiskualifikasi, Ma'ruf Amin: Seharusnya Atlit Ikuti Aturan yang Berlaku

“Bawaslu kan merekap terus, setiap hari. Misalnya di salah satu tv ini yang diundang tokohnya siapa? Imbang enggak? Kalau enggak imbang mereka rekap itu, saya tahu betul. Nah, sementara media sosial yang jadi andalan Prabowo-Sandi penuh dengan buzzer tidak ada yang mengawasi,” tegas Lukman. (Gatra)

Advertisement

Penulis

Advertisement

More in Politik