Connect with us
Dibaca: 630

Pemilu 2019

Viral! Komentar Jokowi Soal Defisit BPJS Kesehatan di “Skak Mat” Dokter Ini

Foto: Pelayanan BPS Kesehatan

SWARARAKYAT.COM – Penyelesaian defisit BPJS seharusnya bisa selesai di tingkatan Kementerian Kesehatan dan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. Tidak perlu sampai ditangani oleh Presiden.

Presiden Joko Widodo menyinggung hal tersebut ketika membuka Kongres XIV Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia di Jakarta Convention Center, Rabu, 17 Oktober 2018. Dalam kesempatan itu ia menyindir Menteri Kesehatan Nila F Moelek dan Direktur Utama Fachmi Idris yang turut hadir.

“Mestinya sudah rampunglah di Menkes, di Dirut BPJS. Urusan pembayaran utang RS sampai presiden. Ini kebangetan sebetulnya. Kalau tahun depan masih diulang, kebangetan,” katanya. 

Baca Juga:   Kyai Ma'ruf Digoyang Penyanyi Dangdut, Warganet: Astaghfirullah Mbah!

Menurut dia, persoalan defisit BPJS itu sudah berlangsung sejak 3 tahun yang lalu. Dana talangan sebesar Rp 4,9 triliun pun diberikan untuk menutup defisit, meskipun talangan itu dikatakan oleh beberapa pihak masih kurang.

Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia Ilham Oetama Marsis sempat menyebutkan, defisit BPJS pada akhir tahun ini diproyeksikan bisa mencapai Rp 16,4 triliun. Dengan demikian, masih ada kekurangan sekitar Rp 11,5 triliun setelah dana talangan dikucurkan. 

Baca Juga:   Pidato Kemenangan, Prabowo Pastikan Unggul 62 Persen di 320 Ribu TPS

Jokowi menyatakan, seharusnya dibuat manajemen dan sistem yang jelas untuk mengatasi defisit BPJS. “(ada yang bilang) Pak, masih kurang. Kebutuhan bukan Rp 4,9 triliun. Lha, kok, enak banget ini. Kalau kurang minta, kalau kurang minta. Mestinya ada manajemen sistem yang jelas sehingga kepastian pembayaran RS ini jelas,” ujarnya.

Ia menambahkan, di sisi lain memahami bila BPJS menangani urusan yang tidak mudah. Jumlah rumah sakit yang ada jumlahnya ribuan, tersebar di 17.000 pulau, 514 kota/kabupaten dan 34 provinsi.

“Saya sering marahi Pak Dirut BPJS. Tapi, dalam hati, saya tidak bisa keluarkan. Ini manajemen negara sebesar kita gak mudah. Artinya, Dirut BPJS mengurus berapa ribu RS. Tapi, sekali lagi, kalau membangun sistemnya benar, ini gampang,” katanya. 

Baca Juga:   Prabowo: "Kami akan Perkuat KPK, Polri, Kejaksaan dan Kehakiman"

Saat membuka kongres, Jokowi juga menyebutkan data klaim BPJS Kesehatan. Data tersebut menunjukkan klaim BPJS untuk pengobatan penyakit katastropik semakin meningkat.

Tahun 2017, klaim kasus untuk penyakit jantung mencapai Rp 9,25 triliun, klaim untuk pengobatan kanker Rp 3 triliun, klaim untuk gagal ginjal Rp 2,2 triliun, klaim untuk penanganan stroke Rp2,2 triliun.

Selain itu, klaim yang masuk ke BPJS untuk penanganan penyakit nonkatastropik juga cukup besar. Ia menyebutkan, klaim operasi katarak mencapai Rp 2,6 triliun. Klaim untuk fisioterapi juga dikatakannya hampir menyentuh Rp 1 triliun atau tepatnya Rp 965 miliar. 

Baca Juga:   Disebut Corong Bos oleh Nadirsyah, Begini Jawaban Menohok Dahnil Anzar

Dari data tersebut, ia mengatakan, bahwa mempromosikan gaya hidup sehat harus dilakukan dan tidak kalah penting dibanding mengobati penyakit. “Mempromosikan gaya hidup sehat juga sangat utama agar kualitas SDM kita prima dan masyarakat bisa mengaktualisasikan kapasitasnya untuk membangun bangsa ini,” tuturnya.

Komentar dr. Gunawan atas pernyataan Jokowi 

Pernyataan Jokowi tersebut di komentari oleh Dokter spesialis urologi lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), dr Gunawan mengunggah cuitan menohok terkait komentar Presiden Jokowi yang menyatakan kebangetan karena defisit BPJS Kesehatan dicurhatkan kepadanya. 

Baca Juga:   Duh, Akun Caleg PSI Ini Bikin Merinding, Netizen: Bujug Demennya...

Ia menyampaikan hitungan, jika uang sejumlah 4,9 triliun rupiah yang dikucurkan dari pemerintah diberikan kepada seluruh peserta BPJS Kesehatan, satu orang mendapatkan kurang dari 25 ribu rupiah.

“Itu artinya masing-masing cuma dapat 24 ribuan rupiah.” tegasnya.

Dokter Gunawan membandingkan dengan anggaran negara yang digelontorkan untuk pertemuan IMF pekan lalu di Denpasar, Bali. 

Baca Juga:   Tanpa Sepengetahuan Publik, Yusril Pernah Diundang Jokowi, Bahas Soal Ini

“Tapi buat 34 ribu orang peserta pertemuan IMF-WB yang habiskan 855 M, yang artinya masing-masing dapat 25 juta bapak senang dan bangga. Ampun, Pak.” tutupnya. (SR)

More in Pemilu 2019

error: Dilarang copy paste tanpa izin!