Connect with us
Dibaca: 357

Opini

Wayang Politik: Petruk Dadi Ratu

Lakon Petruk. Ilustrasi

SWARARAKYAT.COM – Meski tak mengambil porsi besar, tema pewayangan cukup banyak digunakan dalam kontestasi politik Indonesia, khususnya menjelang Pemilihan Presiden 2019 yang puncak pelaksanaannya tinggal hitungan hari.

Dari waktu ke waktu pengamat politik asing juga selalu menganalogikan kehidupan politik negeri ini sebagai the shadow play of Indonesia yang merujuk lakon pewayangan. Pada lakon bayangan ini terdapat misteri yang menggelitik rasa. Di belakang layar selalu dan pasti ada dalang.

Baca Juga:   Seleksi Kepemimpinan, Money Politics, dan Nasib Demokrasi

Baca Juga:   Tritura, Tiga Tuntutan Rakyat Untuk Jokowi

Dalam deklarasi kampanye damai 23 September 2018 yang mengawali masa kampanye, dua tokoh utama Partai Persatuan Pembangunan tampil sebagai tokoh pewayangan.

Sekjen Arsul Sani berkostum Hanoman tokoh kera dalam epik Ramayana. Sementara Ketua Umum Romahurmuziy tampil dengan kostum Gatotkaca dari cerita pewayangan Jawa –yang diadaptasi dari kisah Mahabrata.

Baca Juga:   Membongkar Kedok Abu Janda, Agen Ganda Pemecah Umat Islam Jaringan Proxy War Zionis

Tapi kini sang Gatotkaca untuk sementara bermukim di Rutan KPK karena terlibat kasus jual beli jabatan di Kementerian Agama. Tak bisa lanjut ikut kampanye.

Adapun Joko Widodo, masih sejak 2012 di awal masa kegubernurannya di DKI, sudah ditokohkan bagai Kresna oleh para pendukungnya. Namun, belakangan Fadli Zon memilih analogi tokoh punakawan Petruk untuk Joko Widodo. Saat berada di London 18 November 2018 ia membuat puisi ‘Petruk Jadi Raja’.

Baca Juga:   Pesan Keras Reuni 212 Untuk Jokowi

Sindiran ‘Petruk Dadi Ratu’ kembali digunakan Fadli 12 Februari 2019 lalu. Mungkin saja itu terlalu kental aroma satirenya.

Namun, apa boleh buat masa kampanye kali ini memang sudah terlanjur terpolusi, bukan sebatas satire tetapi dengan aneka terminologi tak halus semacam cebong, kampret, gendruwo, sontoloyo dan semacamnya. Penuh pula dengan berbagai perilaku tuduh menuduh.

Baca Juga:   Bunuh Diri Massal Pers Indonesia Jilid II

Namun terlepas dari satire Fadli, lakon Petruk Dadi Ratu sebenarnya sarat dengan amsal-amsal bermakna nasehat tentang gaya kepemimpinan dengan sikap ‘lupa kacang akan kulitnya’ yang sebaiknya dihindari setiap tokoh yang naik ke kursi kekuasaan.

Karena Jimat Kalimasodo

Bagi masyarakat pewayangan, Petruk Dadi Ratu menurut Maria Sugiharto -penulis rubrik budaya majalah DPP Golkar, Media Karya- merupakan sebuah lakon yang unik. Di antara para Punakawan -yang terdiri dari Ki Semar, Gareng, Petruk, Bagong- hanya Petruk yang pernah menduduki kedudukan paling terhormat, ialah menjadi Raja.

Baca Juga:   Yusril Ihza Mahendra: Perda Syariah Ada Atau Tidak Ada

“Berbicara tentang Petruk Dadi Ratu, selalu ada jurusan kepada sebuah sindiran atau satire, cemoohan, karena Petruk yang asal usulnya dari seorang Punakawan atau bila diterjemahkan secara umum adalah rakyat jelata, kok menjadi raja,” tulis Maria (Media Karya, September 1988). Beberapa penggalan dan adaptasi tulisan itu, dipinjam lebih lanjut di sini.

Wayang dan dalang. Ilustrasi

Terlepas dari satire Fadli, lakon Petruk Dadi Ratu sebenarnya sarat dengan amsal-amsal bermakna nasehat tentang gaya kepemimpinan dengan sikap ‘lupa kacang akan kulitnya’ yang sebaiknya dihindari setiap tokoh yang naik ke kursi kekuasaan.

Baca Juga:   Soal Ruas Jalan di Papua, Jangan Diam Seribu Bahasa, Saya Tunggu Respos Istana dan PUPR, Bukan Politisi danTim Sukses!

Letak unik lakon Petruk Dadi Ratu, adalah bahwa seorang rakyat menduduki suatu kedudukan tinggi. Padahal ini langka, bila berbicara dalam konteks kekuasaan monarki. Tentu saja ini menggambarkan masyarakat sebelum Republik berdiri, atau sebelum para demokrat memperjuangkan demokrasi.

Namun demikian, sindiran klasik ini selalu dapat digunakan di segala masa dan periode, karena sepanjang namanya sebuah sindiran, maka kapan saja dapat diterapkan.

Baca Juga:   Netralitas ASN dan Ancaman Pidana

Bahkan bisa menjadi alat kritik paling manjur, tanpa selalu harus menyinggung perasaan atau menyakitkan yang dikritik.

Merupakan suatu kebetulan, di antara punakawan, Petruk saja yang pernah menjadi raja. “Merasa mewakili rakyat banyak, Petruk menganggap adalah hak patennya bila berbicara tentang penyampaian kehendak rakyat.”

Petruk yang anaknya Ki Semar itu, bersosok tinggi, langsing, bermuka manis, dengan senyum yang senantiasa menarik hati, serta pandai berbicara dengan humor-humornya.

Baca Juga:   Yusril Ihza Mahendra: Perda Syariah Ada Atau Tidak Ada

Prev1 of 2

More in Opini

error: Dilarang copy paste tanpa izin!