Connect with us
Dibaca: 553

Opini

Zeng Wei Jian: Nyanyian Anti Orde Baru

Seroang pelukis melukis wajah Presiden RI ke-2 Soeharto.

Oleh: Zeng Wei Jian

Propaganda Anti Orde Baru bersifat pseudo-scientific, non artistic, dan palsu. Tujuannya, antara lain, menghidupkan komunisme dan ingin kaya.

Namanya “propaganda” pasti berkonotasi negatif. Full of lies, fitnah, half truth, framing, dan dirty trick.

Bagi Nikolai Bukharin (Bolshevik theoretician), propaganda “is a powerful instrument for the creation of a new ideology, of new modes of thought.”

Pa Harto menyebut PKI dengan istilah “Setan Gundul”. Pasca Bu Titiek Suharto nyanyi lagu mandarin, setan-setan gundul kepanasan.

Baca Juga:   Dipolisikan, Ini Pembelaan Ahmad Basarah Sebut Soeharto Guru Korupsi, Siap Diadu

Propaganda dirilis. Data palsu nyaring diteriakan. Berbusa-busa fantasinya. Mereka sebut Keluarga Cendana menguasai 3,5 juta hektar lahan dan 540 perusahaan.

Pertama, Setan Gundul ngutip sumber tidak jelas. Akibat minum air rebusan pembalut, Dia jadi terlalu malas untuk “verifikasi”. Padahal double check, fact finding dan verifikasi itu penting. Referensinya pasti dari George Junus Aditjondro yang disinyalir Vatican’s agent. Dia pusat hoax yang menjadi pijakan fantasi dalam rangka mendelegitimasi Pa Harto tahun 1998.

Kedua, Sinarmas menguasai 5 juta hektar. Setan Gundul diam. Kalo ngga percaya, coba tanya Komisioner KomNas HAM Hafid Abbas.

Tidak seperti Saddam Husein dan Moammar al-Gaddafi, harta karun yang dikatakan milik Pa Harto tidak pernah ditemukan. Faktanya, itu isapan jempol. Hoax. Goddamn lies. A part of black propaganda kaum komunis.

Baca Juga:   LP Cipinang, Panggung Pertunjukan Terbesar Ahmad Dhani

Soal KKN, menurut Prof Mahfud MD, Rezim Reformasi lebih parah dibanding Orde Baru. Gap kaya-miskin melebar. Kata Sudirman Said, sejak KPK dibentuk tahun 2002, setengah dari kasus korupsi terjadi pasca tahun 2014.

Begitu pula dengan hoax Pa Harto bantai 500 ribu orang. Supaya dramatic, angka itu di-miniscule sampe hitungan jam yaitu dua orang per satu jam mati di tangan Pa Harto selama 32 tahun. Ngga ada kerjaan lain apa? Selain bunuh orang. Ngawur.

Setan Gundul lupa, hanya di Era Pa Harto, Indonesia mencapai swasembada beras. Jokowi malah import beras dari Thailand.

Makanya jangan kebanyakan tidur di Senayan, Setan Gundul ngelantur dengan menuduh Pa Harto menjadikan negara sebagai “Bandar Judi”.

Baca Juga:   Menggemparkan! Video Soeharto Tunjukkan Keberpihakan Kepada Rakyat Kecil

Katanya, Hanya Indonesia yang begitu. Perjudian di Singapore, Macau, Genting Island, Las Vegas dan sebagainya dikelola swasta.

Jadi ceritanya, Setan Gundul sebagai swasta partikelir ingin kelola judi ya? Ngawur. Ngingau.

Thailand sudah lama mengelola judi. “Negara jadi Bandar Judi”, jika pake istilah si Setan Gundul.

PM Luang Phibun Songkram resmi mendirikan Lottery Bureau tahun 1939. Rutin sampe sekarang. Ga kurang dari 38 juta lembar tiket lottery seperti SDSB dicetak setiap rondenya.

Soal Suharto musuh mahasiswa. Oh, come on, get real Setan Gundul. Dengan satu Yayasan Supersemar saja, Pa Harto beri beasiswa kepada 2 juta orang pelajar dan mahasiswa. Sepuluh ribunya berhasil jadi profesor.

Gedung Sapta Pesona yang dibangun Menteri Joop Ave dijadikan senjata nyerang Orde Baru.

Setan Gundul menyebutnya sebagai “Monumen LGBT Orde Baru”. Serangan ini mirip tuduhan Gedung DPR-MPR yang dikatakan seperti payudara wanita. Ahoker edan nyerang Instalasi Bambu Getah-Getih karya Joko Afianto yang diresmikan Gubernur Anies Baswedan. Ahoker lihat itu seperti dua homosexual sedang bercinta.

Baca Juga:   Ratna Sarumpaet, La Nyalla, Dimana Bedanya?

Cobalah pake kacamata biru. Maka semuanya tampak biru. Pornografic brain melihat segalanya jadi mesum. Mungkin sebenarnya Setan Gundul is phallic worshipper. Jadi dia lihat segalanya sebagai penis.

Bisa jadi, Setan Gundul punya masalah dengan pasangan. Kehilangan kejantannya.

Bila mengunakan istilah Jacques Lacan’s Ecrits dalam karya “The Signification of the Phallus”, Setan Gundul ngga bisa membedakan antara “being” and “having” the phallus.

THE END

More in Opini

error: Dilarang copy paste tanpa izin!