JAKARTA , SWARARAKYAT.COM – Laju impor Indonesia sepanjang semester I 2026 meningkat jauh lebih cepat dibandingkan ekspor. Kondisi ini menjadi perhatian karena meski neraca perdagangan masih surplus, jarak pertumbuhan ekspor dan impor semakin lebar.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Indonesia pada Januari–Juni 2026 mencapai US$140,81 miliar, tumbuh 4,13 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara impor mencapai US$137,24 miliar, melonjak 18,69 persen.
Dengan demikian, pertumbuhan impor lebih dari empat kali lipat dibandingkan pertumbuhan ekspor. Meski demikian, Indonesia masih mencatat surplus perdagangan sebesar US$3,58 miliar sepanjang semester I 2026.
Baca Juga: Fauzi Amro : Penghapusan Kuota Impor Harus Meningkatkan Pendapatan Negara dan Melindungi Petani
Kenaikan impor juga tidak seluruhnya berasal dari barang konsumsi. BPS mencatat impor bahan baku dan penolong serta barang modal turut meningkat. Kondisi ini menunjukkan sebagian kenaikan impor berkaitan dengan kebutuhan produksi dan investasi di dalam negeri.
Menteri Perdagangan Budi Santoso sebelumnya mengatakan kenaikan impor terjadi pada seluruh golongan penggunaan barang. Menurutnya, kondisi tersebut mencerminkan meningkatnya kebutuhan konsumsi masyarakat sekaligus kebutuhan industri terhadap bahan baku dan barang modal.
Baca Juga: Membedah Tren Impor Daging Sapi dari Waktu ke Waktu Menurut Teori Kontinuitas
Namun, perkembangan ini tetap perlu dicermati. Jika impor tumbuh jauh lebih cepat daripada ekspor dalam waktu panjang, surplus perdagangan Indonesia berpotensi semakin menyempit.
Sebaliknya, apabila impor yang meningkat digunakan untuk bahan baku dan barang modal yang kemudian mendorong produksi serta ekspor, kenaikan tersebut justru dapat menjadi bagian dari ekspansi ekonomi.
Artinya, persoalan utama bukan sekadar impor naik, tetapi barang apa yang diimpor dan apakah kenaikan impor tersebut mampu menghasilkan nilai tambah serta memperkuat ekspor Indonesia.(Red)











