Menjelang beberapa hari lagi bangsa Indonesia akan memperingati Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Seperti tahun-tahun sebelumnya, suasana merah putih mulai terasa di berbagai sudut negeri. Bendera berkibar di halaman rumah, umbul-umbul terpasang di jalan-jalan, dan berbagai persiapan upacara dilakukan dari tingkat RT hingga Istana Negara.
Namun di tengah semarak itu, ada satu fenomena yang kembali menyita perhatian publik: perebutan tiket Upacara Kemerdekaan di Istana Merdeka.
Ribuan orang bersiap di depan layar, menghitung detik, berharap menjadi yang tercepat mendapatkan tiket menghadiri upacara kenegaraan tersebut. Dalam hitungan menit, kuota habis. Media sosial pun dipenuhi ungkapan bangga dari mereka yang berhasil, sementara yang gagal hanya bisa menunggu kesempatan berikutnya.
Tidak ada yang salah dengan antusiasme itu. Justru menggembirakan jika masyarakat ingin menjadi bagian dari peringatan hari lahir bangsa. Yang patut dipertanyakan adalah ketika perhatian publik lebih tersedot pada siapa yang berhasil masuk Istana, daripada apa makna kemerdekaan itu sendiri.
Di era media sosial, hampir semua hal berpotensi berubah menjadi simbol status. Kehadiran di Istana pun tak luput dari logika itu. Foto dengan latar belakang Istana, pakaian adat yang elegan, hingga unggahan bertagar kemerdekaan sering kali lebih ramai diperbincangkan daripada isu-isu yang sesungguhnya masih membelenggu republik: kemiskinan, korupsi, ketimpangan pendidikan, pengangguran, hingga akses layanan kesehatan yang belum merata.
Padahal, kemerdekaan tidak pernah lahir dari perebutan kursi. Ia lahir dari pengorbanan, keberanian, dan cita-cita besar untuk menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Ironisnya, setiap tahun kita begitu antusias mengejar undangan ke Istana, tetapi tidak selalu memiliki semangat yang sama untuk mengawasi penggunaan uang negara, melawan korupsi, atau memperjuangkan pelayanan publik yang lebih baik. Seolah nasionalisme cukup dibuktikan dengan hadir dalam seremoni, bukan melalui kepedulian terhadap persoalan bangsa.
Istana memang pusat pemerintahan. Namun, pusat kehidupan Indonesia bukan berada di sana. Indonesia sesungguhnya ada di ruang-ruang kelas yang masih kekurangan guru, di sawah yang bergantung pada cuaca, di pasar tradisional yang menghadapi tekanan ekonomi, di rumah-rumah warga yang terus berjuang memenuhi kebutuhan hidup, dan di pelosok negeri yang masih menanti pembangunan.
Karena itu, menghadiri upacara di Istana bukanlah ukuran kecintaan kepada tanah air. Seorang petugas kebersihan yang tetap bekerja menjaga kotanya bersih pada 17 Agustus tidak kalah nasionalis dibanding tamu yang duduk di kursi kehormatan. Seorang guru yang mengajarkan nilai-nilai kebangsaan kepada muridnya setiap hari telah mengisi kemerdekaan dengan cara yang jauh lebih nyata. Seorang tenaga kesehatan, petani, nelayan, prajurit, polisi, relawan, dan jutaan rakyat yang bekerja dengan jujur juga sedang menjaga republik ini tetap berdiri.
Menjelang HUT ke-81 RI ini, bangsa ini membutuhkan lebih dari sekadar kemeriahan seremoni. Kita membutuhkan refleksi bersama: apakah kemerdekaan sudah menghadirkan rasa adil bagi seluruh rakyat? Apakah negara sudah cukup hadir bagi mereka yang paling membutuhkan? Dan apakah kita sebagai warga negara sudah ikut menjaga republik ini dengan tindakan nyata, bukan hanya simbol dan unggahan?
Peringatan kemerdekaan seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat persatuan, memperbaiki pelayanan publik, menegakkan kejujuran, dan memastikan bahwa kemerdekaan tidak berhenti sebagai perayaan tahunan.
Mungkin sudah saatnya kita berhenti mengukur nasionalisme dari seberapa dekat seseorang dengan Istana. Sebab sejarah membuktikan, Indonesia tidak dibangun oleh mereka yang berada di barisan tamu kehormatan, melainkan oleh rakyat biasa yang bekerja tanpa sorotan kamera.
Tiket upacara memang memiliki kuota. Tetapi cinta kepada Indonesia tidak pernah dibatasi jumlah undangan.
Dan menjelang usia ke-81 Republik ini, barangkali makna kemerdekaan yang paling layak kita rebut bukanlah tiket masuk ke Istana, melainkan kesempatan untuk ikut menjaga, memperbaiki, dan memajukan Indonesia.
Redaksi Swararakyat.com













