Opini  

Pulang kampung Psikologis : Catatan Tentang HMI dan Waktu yang Membesarkan Kita

ElDias (Pemerhati Masalah Masalah Sosial - Tinggal di Sumatera Barat)

Oleh : U. ElDias

Ada organisasi yang kita kenang sebagai alamat. Ada pula yang kita ingat sebagai rumah.

Bagi saya, Himpunan Mahasiswa Islam [HMI] lebih dekat pada yang kedua.

Ia bukan sekadar nama yang tertulis di proposal, bukan hanya singkatan yang melekat di jas hijau. Ia adalah ruang di mana saya belajar memahami diri, berdebat dengan keyakinan sendiri, dan perlahan menyadari bahwa menjadi aktivis bukan perkara suara paling keras, melainkan kesediaan paling jujur untuk bertanggung jawab.

Hari ini, ketika HMI menandai usianya yang ke-79, ingatan saya tidak berjalan lurus. Ia berkelok, berhenti di banyak simpul: ruang rapat yang pengap dan kdang penuh asap rokok, makan di bibik plus gorengan yang dijual gerobak di depan jalan Diponegoro 16 A. Perjalanan yang melelahkan, pertemuan yang kadang berujung perbedaan, konflik dan persahabatan yang bertahan meski waktu memisahkan.

Maka dari itu, saya mengenang HMI bukan sebagai monumen, melainkan sebagai proses.

Masuk HMI, seperti kebanyakan kader, saya datang dengan idealisme yang belum teruji dan keberanian yang masih mentah. Saya belajar bahwa gagasan tidak lahir dari kemarahan semata, dan perubahan tidak tumbuh dari slogan kosong. Ia membutuhkan disiplin berpikir, kesabaran berdialog, dan [yang sering paling berat] kesediaan untuk kalah dengan bermartabat.

HMI mengajarkan itu dengan caranya sendiri. Tidak selalu rapi. Tidak selalu lembut. Kadang keras, bahkan melelahkan. Tapi justru di sanalah ia bekerja: sebagai ekosistem yang membentuk etos perjuangan, bukan pabrik yang mencetak keseragaman.

Di HMI, saya belajar bahwa Islam bukan sekadar identitas, melainkan horizon etika. Bahwa keislaman dan keindonesiaan bukan dua kutub yang saling meniadakan, melainkan dua napas yang harus dijaga agar tetap seimbang. Bahwa intelektualitas bukan alat untuk merasa lebih tinggi, melainkan cara untuk merawat kerendahan hati.

Ada satu hal yang sering dilupakan ketika orang bicara tentang organisasi tua: bahwa usia panjang tidak menjamin kedewasaan. Tetapi HMI bertahan bukan semata karena umur, melainkan karena kemampuannya memperbarui diri melalui kader-kadernya yang datang dengan latar berbeda, membawa tafsir berbeda, dan kadang pergi dengan jalan yang berbeda pula.

Saya pernah berada di PB HMI. Bertemu kader-kader dari berbagai penjuru negeri. Dari kampus besar hingga yang nyaris tak terdengar namanya di peta nasional. Kami datang dengan dialek yang berbeda, cara berpikir yang tidak selalu sejalan, tapi disatukan oleh satu keyakinan: bahwa belajar dan berjuang adalah dua kata yang tak bisa dipisahkan.

Di ruang-ruang itu, saya menyadari bahwa HMI tidak pernah benar-benar homogen. Ia plural sejak dalam rahimnya. Dan mungkin justru karena itu ia bertahan, karena ia tidak takut pada perbedaan, selama perbedaan itu dipertemukan dalam adab.

Banyak orang menilai organisasi dari apa yang tampak di permukaan: siapa yang berkuasa, siapa yang duduk di kursi penting, siapa yang disebut-sebut di media. Tapi bagi saya, kontribusi HMI yang paling sunyi justru terletak di tempat lain: pada cara ia membentuk mental.

Mental untuk bertanya sebelum menghakimi.

Mental untuk membaca sebelum berbicara.

Mental untuk berdiri, tapi juga tahu kapan harus menyingkir demi kepentingan yang lebih luas.

Tak sedikit kader HMI yang hari ini menempati posisi strategis dalam politik, birokrasi, maupun ruang publik lainnya. Mereka datang dari latar yang berbeda, dengan pilihan politik yang tidak selalu sama. Namun ada satu benang halus yang sering mengikat mereka: pengakuan yang tulus bahwa mereka dibesarkan oleh HMI.

Bukan dibesarkan dalam arti dimanjakan, tetapi ditempa. Diberi ruang untuk salah, ditegur ketika melenceng, dan didorong untuk berpikir lebih jauh dari kepentingan sesaat.

Bagi saya, HMI juga menghadirkan sesuatu yang lebih personal: perjumpaan dengan pasangan hidup. Kami bertemu sebagai sesama aktivis, berbagi keresahan, mimpi, dan kelelahan yang sama. Dari diskusi panjang dan perjalanan yang melelahkan, tumbuh kesadaran bahwa perjuangan tidak selalu harus sendiri.

Mungkin inilah salah satu pelajaran paling melankolik dari HMI: bahwa aktivisme tidak meniadakan cinta. Bahwa berjuang untuk publik tidak berarti mengabaikan yang personal. Justru sebaliknya, keduanya saling menguatkan, selama dijalani dengan kesadaran dan tanggung jawab.

Namun, mengenang HMI tidak cukup dengan nostalgia. Ada risiko terbesar dari organisasi yang telah melahirkan banyak tokoh: lupa pada asal-usulnya. Lupa bahwa ia lahir dari kegelisahan, bukan dari kenyamanan. Lupa bahwa ia dibangun dari diskusi panjang, bukan dari transaksi cepat.

Di titik inilah refleksi menjadi penting. Bukan untuk menyalahkan, tetapi untuk mengingatkan.

Bahwa HMI bukan batu loncatan karier.

Bahwa ia bukan sekadar jejaring kekuasaan.

Bahwa ia adalah institusi etis, yang menuntut kadernya untuk tetap berpikir, bahkan ketika telah sampai di puncak.

Seperti ditulis Goenawan Muhammad, kekuasaan sering kali menggoda manusia untuk melupakan proses yang membesarkannya. Dan barangkali, tugas paling berat bagi seorang alumni adalah menjaga ingatan itu tetap hidup, di tengah hiruk-pikuk jabatan dan pengaruh.

Maka Milad HMI bukan sekadar perayaan usia. Ia adalah undangan untuk pulang. Pulang ke nilai-nilai yang dulu kita perdebatkan dengan serius. Pulang ke pertanyaan-pertanyaan yang pernah membuat kita begadang. Pulang ke kesadaran bahwa keberhasilan pribadi tidak pernah sepenuhnya individual, ia selalu ditopang oleh ekosistem yang membentuk kita sejak awal.

HMI telah memberi banyak hal pada saya: bahasa untuk berpikir, keberanian untuk bersikap, dan kerangka etis untuk menilai diri sendiri. Ia tidak sempurna. Dan mungkin justru karena itu ia manusiawi dan layak dicintai dengan cara yang dewasa.

Di usia ke-79 ini, saya tidak berharap HMI menjadi lebih keras atau lebih lunak. Saya berharap ia tetap jujur. Tetap menjadi ruang di mana idealisme boleh diuji, bukan disembunyikan. Tetap menjadi rumah bagi mereka yang percaya bahwa iman, ilmu, dan amal tidak boleh berjalan sendiri-sendiri.

Karena pada akhirnya, organisasi ini tidak hidup dari gedung atau struktur. Ia hidup dari ingatan dan tanggung jawab kader-kadernya yang, ke mana pun mereka melangkah, membawa jejak hijau itu di dalam batin.

Dan mungkin, di situlah makna terdalam dari sebuah kata “pulang”.