Opini  

Regrouping Dunia : Ketika Polisi Dunia Kehilangan Kuasa Moral

ElDias (Pemerhati Masalah Masalah Sosial - Tinggal di Sumatera Barat)

Oleh : ElDias – Pemerhati Masalah-masalah sosial

Ada suasana yang tak selalu bisa difoto kamera ketika seorang pemimpin negara datang ke Beijing: udara diplomasi yang terasa “wajar”, tapi di bawahnya ada retakan yang membuat semua gerak tampak seperti ujian. Mark Carney, Perdana Menteri Kanada, datang ke China, dan dunia membaca—seperti membaca perubahan arah angin. Kunjungan itu bukan hanya tentang pertemuan, bukan semata tentang dagang. Ia semacam pengakuan tersirat bahwa peta lama tak lagi cukup menuntun kita pulang.

Kanada adalah bagian dari Barat, bagian dari jaringan panjang aliansi yang selama ini merasa punya hak moral untuk berkata: “kami penjaga ketertiban.” Tetapi ketertiban seperti apa yang dijaga? Dan bagi siapa? Pertanyaan itu terdengar tidak sopan, seperti bertanya pada polisi: mengapa Anda memegang senjata? Tapi justru karena senjata itu ada, pertanyaan itu perlu.

Dulu kita percaya ada satu sistem global yang bekerja, dan sistem itu seolah punya pusat: Washington dan sekutu-sekutunya. Kita menyebutnya “rules-based order”, sebuah istilah yang rapi, terdengar dewasa, terdengar seperti hukum yang menjaga pagar. Namun seiring waktu, kita mulai melihat bahwa pagar itu sering dibuka untuk yang kuat, dan ditutup untuk yang lemah. Ada hukum, tapi ada juga kunci rahasia.

Kunjungan Carney membuat kita melihat bagian yang jarang dibicarakan: bahwa bahkan negara yang paling “tertib” pun mulai mencari pintu lain. Bukan karena mereka mendadak jatuh cinta pada China, melainkan karena mereka mulai curiga pada rumahnya sendiri, sebuah rumah bernama “Barat”, yang belakangan sering gaduh, mudah marah, dan gemar mengunci pintu dari dalam.

Dan dari satu adegan ini, regrouping global bisa dibaca sebagai drama yang lebih besar: reset ulang pola kaukus. Sebuah pergeseran yang tak selalu meledak, tapi terasa seperti tanah yang pelan-pelan bergeser di bawah kaki.

Polisi Dunia dan Panggung yang Selalu Sama

Sebuah polisi yang baik menjaga jarak dari ambisi. Ia bekerja atas nama hukum, bukan atas nama geng. Tapi di tingkat internasional, “polisi dunia” adalah metafora yang licin. Ia terdengar seperti pengorbanan, padahal sering juga merupakan investasi. Ia terdengar seperti tanggung jawab, padahal sering pula menjadi lisensi.

Amerika Serikat dan sekutunya selama puluhan tahun memainkan peran itu: menentukan siapa yang sah, siapa yang liar, siapa yang boleh berdagang, siapa yang harus dihukum, siapa yang dapat akses modal, siapa yang harus dicekik. Mereka menyebutnya stabilitas. Mereka menyebutnya demokrasi. Mereka menyebutnya keamanan. Tapi bila kita lihat dari dekat, kadang itu hanyalah cara mengubah dunia menjadi koridor yang bisa dikendalikan.

Di Venezuela, misalnya, konflik selalu disebut dalam bahasa moral: demokrasi melawan otoritarianisme. Tapi di belakang moral itu, ada cadangan minyak, ada posisi geopolitik di “halaman belakang” Amerika, ada ketakutan lama tentang siapa yang berhak menentukan politik Amerika Latin. Kita diajak memilih kata-kata yang rapi, sementara fakta-fakta yang kasar diletakkan di belakang layar.

Di Iran, ketegangan juga tak pernah berhenti dipasarkan sebagai perang antara “stabilitas” dan “ancaman”. Tapi Iran bukan sekadar ancaman. Ia adalah simpul energi, simpul ideologi, simpul pengaruh regional. Dan Selat Hormuz tidak bisa dilihat sebagai sekadar selat: ia adalah tombol inflasi global. Jika tombol itu ditekan, dunia bergetar. Maka pertanyaan sebenarnya bukan: apakah Iran baik atau buruk? Melainkan: siapa yang berhak memegang tombol itu?

Di Afrika, Barat sering datang dengan pidato tentang pembangunan, transparansi, dan good governance. Tetapi pada saat yang sama, perusahaan-perusahaan raksasa mengincar mineral strategis, kontrak keamanan mengalir, dan negara-negara kuat bertaruh diam-diam pada stabilitas versi mereka sendiri, stabilitas yang memungkinkan sumber daya keluar tanpa terlalu banyak tanya.

Timur Tengah lebih telanjang lagi. Kita menyaksikan perang, embargo, “koalisi”, dan perjanjian yang setengah rahasia. Kita menyaksikan bagaimana kemanusiaan diangkat tinggi dalam pidato, lalu jatuh di tanah ketika ia mengganggu kepentingan.

Polisi dunia, pada akhirnya, bukan polisi yang netral. Ia sering adalah polisi yang punya “keluarga”, dan keluarga itu adalah aliansi strategis, industri pertahanan, dan kepentingan politik domestik yang butuh musuh untuk tetap hidup.

Regrouping Terjadi karena “Rules” Menjadi Alat Seleksi

Masalah utama dari tatanan yang dipimpin Barat bukan semata karena ia kuat, tetapi karena ia semakin sering tampak selektif.

Ketika aturan dipakai untuk menertibkan lawan, ia disebut hukum. Ketika aturan dilanggar oleh kawan, ia disebut pengecualian. Ketika pelanggaran terjadi di satu tempat, ia disebut tragedi. Ketika pelanggaran terjadi di tempat lain, ia disebut “kompleks”.

Dunia tidak bodoh. Negara-negara melihat pola itu. Mereka menyadari bahwa “rules-based” kadang berarti: aturan yang diperkuat oleh kekuatan. Dan jika demikian, maka “aturan” tidak lagi menjadi jaminan, melainkan menjadi instrumen.

Inilah sebabnya regrouping terjadi.

Bukan hanya karena China makin kuat, tetapi karena Barat makin sering memperlihatkan bahwa ia tidak sanggup menjadi wasit. Ia lebih nyaman menjadi pemain yang mengaku wasit.

Maka negara-negara yang tidak cukup besar untuk memaksa aturan, tapi cukup cerdas untuk bertahan, mulai mengatur ulang posisi. Mereka mencari cara agar tidak selalu menjadi objek. Mereka ingin menjadi subjek.

Kanada, dengan semua kedekatannya pada AS, juga tidak kebal. Kunjungan Carney adalah bentuk pengakuan bahwa bahkan sekutu pun harus punya ruang negosiasi, ruang bernapas, ruang “tidak selalu iya”.

Reset Global Bukan Perang Dingin, Ini Perang Ketergantungan

Jika kita ingin memahami arah regrouping, kita harus berhenti membaca dunia sebagai duel ideologi, dan mulai membaca dunia sebagai perang ketergantungan.

Yang sedang terjadi bukan hanya siapa melawan siapa, tetapi siapa bergantung pada siapa, dan pada level apa ketergantungan itu bisa dipakai untuk memeras.

Dunia modern adalah sistem ketergantungan yang raksasa: kita butuh energi, kita butuh mineral, kita butuh chip, kita butuh jalur laut, kita butuh sistem pembayaran, kita butuh akses pasar. Dan setiap kebutuhan bisa menjadi kerentanan. Setiap kerentanan bisa menjadi senjata.

Barat selama ini menguasai senjata yang paling halus: uang dan sanksi. Ketika seseorang dapat memutus aksesmu ke sistem pembayaran, ia tidak perlu menembakmu. Ia cukup membuatmu tidak bisa membeli makanan, tidak bisa membayar utang, tidak bisa bernapas dalam ekonomi global.

Tapi senjata ini, seperti semua senjata, punya konsekuensi: ia membuat target belajar bertahan. Dan ia membuat negara lain, bahkan yang bukan target mulai berpikir: kalau besok giliran saya?

Di situlah reset terjadi. Di situlah regrouping mengental: bukan dalam slogan, tetapi dalam desain sistem baru, jalur baru, dan aliansi yang lebih fleksibel.

Empat Mesin Regrouping: Mengapa Barat Sulit Mengontrolnya Lagi

Agar jelas, mari kita susun sintesa: dunia bukan sekadar bergeser karena China “menggoda”, tetapi karena Barat, sebut saja AS dan sekutunya, membuat sistemnya sendiri terlihat semakin rentan dipercaya.

Dan pergeseran itu digerakkan oleh empat mesin besar.

Pertama, Energi, Mineral, dan Supply Chain: Dunia Tidak Bisa Hidup dari Pidato

Barat boleh berbicara tentang nilai, tapi pabrik tetap butuh listrik. Mobil tetap butuh baterai. Industri tetap butuh bahan baku. Ketika energi dan mineral menjadi politik, diplomasi menjadi negosiasi akses.

Dan di banyak kasus, Barat ingin menjaga akses itu sambil tetap memonopoli definisi “siapa yang baik”. Itu sulit. Karena dunia tidak makan definisi. Dunia makan roti.

Venezuela dan Iran adalah contoh paling brutal: energi membuat mereka tetap relevan bahkan ketika mereka dikucilkan. Afrika adalah contoh paling sunyi: mineral membuatnya jadi arena tanpa perlu diumumkan sebagai arena.

Regrouping terjadi karena negara-negara mulai berpikir seperti perusahaan: diversifikasi sumber, diversifikasi jalur, diversifikasi pemasok. Mereka ingin supply chain yang tidak dikendalikan satu tangan.

Dan satu tangan itu, selama ini, sering adalah tangan yang mengaku menjaga ketertiban.

Kedua, Uang, Sanksi, dan Sistem Pembayaran: Ketika Polisi Bisa Menyita Dompet

Dalam tatanan lama, Barat adalah bank, notaris, dan polisi sekaligus. Ia bisa menentukan siapa boleh masuk pasar, siapa boleh pinjam uang, siapa boleh hidup nyaman.

Tapi ketika kekuatan finansial dipakai sebagai hukuman politik, ia mengubah bisnis menjadi medan perang. Dan medan perang melahirkan inovasi: jalur pembayaran alternatif, settlement bilateral, mata uang lokal, dan ekosistem yang tidak sepenuhnya bergantung pada pusat lama.

Barat mungkin masih memegang kursi utama, tapi kini penonton mulai membangun panggung kecil sendiri.

Dan panggung kecil itu lama-lama bisa jadi teater.

Ketiga, Keamanan Rezim dan Stabilitas Internal: Banyak Negara Tidak Mau Jadi Korban “Perubahan Rezim”

Ada trauma panjang dalam sejarah modern: “intervensi” yang datang dengan janji demokrasi, tetapi meninggalkan negara pecah, konflik berkepanjangan, dan ekonomi yang tidak pulih.

Banyak negara menyaksikan itu dan menyimpulkan satu hal: lebih baik bernegosiasi dengan kekuatan besar daripada menjadi target moral mereka.

Ini bukan berarti negara-negara itu suci. Banyak juga yang represif, korup, dan brutal. Tapi regrouping lahir dari insting bertahan: jangan sampai stabilitas domestik dijadikan alat tawar oleh orang luar.

Dan Barat, yang terlalu sering memosisikan diri sebagai hakim, kehilangan daya tariknya ketika putusan-putusan itu terasa sepihak.

Keempat, Teknologi dan Standar: Barat Tidak Lagi Satu-satunya Pabrik Masa Depan

Dulu, masa depan banyak ditentukan oleh siapa menguasai industri Barat: standar, paten, universitas, dan pasar modal. Kini masa depan diperebutkan lewat chip, AI, satelit, kabel bawah laut, cloud, dan data.

Dalam perebutan ini, Barat tidak sendirian. China punya ekosistem. Negara lain punya kemampuan. Dan yang terpenting: teknologi bukan sekadar alat, ia adalah struktur kekuasaan.

Ketika Barat membatasi akses teknologi dengan alasan keamanan (yang kadang valid), ia sekaligus mendorong pihak lain untuk membangun sistem sendiri. Dan sistem sendiri berarti: orbit sendiri.

Regrouping, pada akhirnya, adalah orbit-orbit teknologi yang tidak lagi bisa disatukan dengan satu bahasa.

Kanada dan “Dosa Kecil” Sekutu: Berani Punya Pilihan

Di sinilah Carney menjadi menarik. Kanada bukan negara yang biasa kita bayangkan sebagai pembelot. Ia sekutu yang tertib. Ia warga baik dari klub.

Namun justru warga baiklah yang paling cepat merasa ketika klubnya mulai berubah menjadi geng. Ketika keputusan klub makin ditentukan oleh kemarahan domestik, oleh kebutuhan politik jangka pendek, oleh paranoia musiman.

Carney datang ke China bukan karena ia ingin mengganti identitas. Ia datang karena ia membaca risiko: dunia tidak lagi bisa dikelola dengan satu pintu. Dan Kanada tidak ingin menjadi negara yang terperangkap dalam pertarungan orang lain.

Bila ada kritik tajam yang bisa kita lontarkan kepada “polisi dunia” hari ini, kritik itu bukan bahwa mereka terlalu kuat, melainkan bahwa mereka terlalu sering lupa: kekuatan tanpa konsistensi moral hanya akan melahirkan pesaing.

Dan pesaing itu kini tumbuh bukan hanya di Beijing, tetapi juga di negara-negara yang dulu diam. Mereka tidak ingin memberontak, mereka hanya ingin selamat.

Penutup: Ketika Sirene Tidak Lagi Ditakuti

Polisi dunia yang kehilangan sirene bukan berarti ia jatuh. Ia masih punya senjata, masih punya kekuatan, masih punya jaringan. Tapi ia mulai kehilangan sesuatu yang lebih penting: kepercayaan bahwa ia bertindak demi ketertiban, bukan demi kepentingan sendiri.

Ketika kepercayaan itu menurun, dunia berubah.

Negara-negara tidak otomatis lari ke China. Mereka tidak serta-merta mengangkat bendera baru. Mereka hanya mulai memindahkan sebagian beban—menambah jalur, menambah opsi, menambah pintu keluar.

Regrouping global tidak akan menjadi satu blok melawan satu blok. Ia akan menjadi jaringan rumit, penuh kompromi, penuh kontradiksi. Negara-negara akan memilih berdasarkan energi, uang, stabilitas rezim, dan teknologi. Empat mesin itu akan terus bekerja bahkan ketika pidato-pidato menolak mengakuinya.

Dan mungkin inilah yang paling menyakitkan bagi Barat: bahwa dunia tak lagi melihat mereka sebagai satu-satunya pusat. Dunia mulai berani menatap ke tempat lain, bukan karena mereka mendapati surga baru, melainkan karena mereka lelah hidup dalam satu rumah yang setiap saat bisa mengusir penghuninya sendiri.

Carney datang ke China, dan dunia mengintai. Tapi yang paling penting bukan siapa yang ditemui, melainkan apa yang diam-diam diakui: bahwa tatanan global sedang reset, dan polisi dunia—dengan segala sirene dan seragamnya—tidak lagi bisa meminta semua orang berdiri rapi hanya karena ia meniup peluit.

Dunia sudah belajar bahwa peluit pun bisa dipakai untuk memilih siapa yang ditertibkan.

Dan ketika dunia belajar itu, ia tidak akan pernah kembali sama.