Opini  

Balap Karung, Panjat Pinang, Dan Lomba Makan Kerupuk: Keseruan Yang Menyimpan Simbol Perbudakan Dan Penjajahan Modern

Muhamad Rusdi, Presiden ASPEK Indonesia

Oleh: Muhamad Rusdi (Presiden Asosiasi Serikat Pekerja Indonesia)

Setiap 17 Agustus, berbagai lomba rakyat seperti balap karung, panjat pinang, dan makan kerupuk digelar dengan penuh semangat dan tawa. Di permukaan, ini adalah simbol kemerdekaan dan kebersamaan. Namun, di balik keseruan itu tersimpan ironi pahit:

Simbol perbudakan, penjajahan, dan kemiskinan yang masih membelenggu jutaan buruh dan pekerja di negeri ini — termasuk mereka yang bekerja dalam sistem kemitraan yang tampak bebas, tapi sesungguhnya terkungkung oleh algoritma yang mengatur hidup mereka.

Balap Karung: Buruh Terbelenggu Sistem Kerja yang Tidak Adil

Balap karung, dengan peserta yang berlari tapi kakinya terikat karung, menggambarkan buruh yang harus terus bekerja keras di tengah kondisi kerja yang rapuh: mudah diputus hubungan kerja, upah ditekan seminimal mungkin, dan jaminan sosial yang jauh dari kata layak.

Panjat Pinang: Solidaritas dalam Perbudakan Modern

Panjat pinang dengan tiang licin dan sulit didaki adalah metafora perjuangan kolektif buruh yang harus saling tumpu dalam kondisi tidak pasti, bekerja keras dengan risiko kehilangan pekerjaan, tanpa perlindungan hukum yang memadai.

Lomba Makan Kerupuk: Simbol Kemiskinan yang Menghimpit

Lomba makan kerupuk yang tampak lucu itu mencerminkan kemiskinan yang masih menghimpit banyak pekerja yang upahnya jauh dari layak dan tanpa jaminan sosial.

Kemitraan dan Algoritma: Kebebasan Palsu yang Membelenggu

Di era digital, muncul sistem kemitraan yang tampak memberi kebebasan bagi pekerja, terutama driver ojek online dan pekerja platform digital lainnya. Namun, kemerdekaan itu hanyalah ilusi.

Pekerja tetap terkungkung oleh algoritma yang mengatur jadwal, target, hingga penilaian kinerja. Mereka tidak memiliki perlindungan hubungan kerja yang jelas, tanpa upah minimum, dan tanpa jaminan sosial. Sistem ini adalah perbudakan modern yang lebih halus namun sama membelenggunya dengan balap karung.

Simbol Penjajahan dan Perbudakan Modern

Ketiga lomba rakyat dan sistem kemitraan digital yang mengendalikan buruh dengan algoritma adalah gambaran nyata penjajahan dan perbudakan modern yang masih berlangsung:

Buruh dan pekerja digital masih dijajah sistem yang mengabaikan hak dan kemanusiaan.

Upah murah, pemutusan hubungan kerja yang mudah, dan ketiadaan jaminan sosial adalah bentuk kekerasan struktural yang harus diperjuangkan untuk diakhiri.

Merdeka Sejati: Bebas dari Karung, Tiang, Kemiskinan, dan Algoritma yang Menindas

Kemerdekaan sejati bukan hanya soal simbol atau tradisi. Merdeka adalah ketika buruh dan pekerja digital:

Mendapatkan upah layak yang adil sebagai redistribusi keuntungan yang memperkuat konsumsi dan pertumbuhan ekonomi.

Memiliki jaminan sosial yang menyeluruh dan bermartabat, termasuk untuk pekerja informal dan digital.

Memiliki pengakuan hubungan kerja yang adil dan perlindungan hukum yang kuat.

Hidup dalam iklim investasi sehat dan berkeadilan, yang selaras dengan perlindungan buruh.

Penutup: Saatnya Memerdekakan Buruh dan Pekerja Digital

Mari kita rayakan kemerdekaan dengan sungguh-sungguh:

Merdeka dari karung yang membelenggu, tiang panjat yang menyiksa solidaritas, kemiskinan yang mengurung harapan, dan algoritma yang menjajah pekerja digital.

Hanya dengan begitu, kemerdekaan bisa menjadi nyata untuk semua rakyat pekerja di Indonesia. (*)

Muhamad Rusdi (Presiden Asosiasi Serikat Pekerja Indonesia)